Rahasia 10 Hari Pertama Dzulhijjah, Lebih Istimewa dari Hari Lain?
- account_circle redaktur
- calendar_month 23 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi baca quran malam hari.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Tidak semua hari memiliki nilai yang sama dalam Islam. Ada waktu-waktu tertentu yang Allah muliakan dengan cara yang sangat istimewa. Salah satunya adalah 10 Hari Dzulhijjah, atau 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang sering disebut sebagai hari terbaik untuk memperbanyak amal saleh.
Menariknya, banyak umat Islam justru lebih familiar dengan Ramadan dibanding keutamaan awal Dzulhijjah. Padahal dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menyebut amal pada hari-hari ini lebih dicintai Allah dibanding hari lain sepanjang tahun.
Karena itu, para ulama sering menyebut awal Dzulhijjah sebagai “musim besar ibadah” bagi umat Islam.
Dan suasananya memang beda.
Kadang suara takbir pertama justru terdengar dari speaker musala kecil setelah salat Magrib, sementara sebagian orang masih sibuk memeriksa notifikasi belanja online di ponselnya. Ada juga ibu-ibu yang mendadak mengingatkan puasa Arafah lewat grup keluarga dengan pesan singkat: “Besok jangan lupa niat.”
Hal-hal kecil seperti itu terasa sederhana. Tetapi hangat sekali.
Dalil Keutamaan 10 Hari Dzulhijjah
Keutamaan 10 Hari Dzulhijjah memiliki dasar yang sangat kuat dalam Al-Qur’an dan hadis.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fajr:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1-2)
Banyak ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” merujuk pada 10 hari pertama Dzulhijjah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal pada 10 hari ini.”
(HR. Bukhari)
Para sahabat bahkan bertanya apakah amal tersebut lebih utama dibanding jihad di jalan Allah. Rasulullah SAW menjawab bahwa amal di hari-hari itu tetap lebih utama, kecuali jihad seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali lagi.
Hadis ini menunjukkan betapa luar biasanya keutamaan awal Dzulhijjah.
Kenapa Hari-Hari Ini Sangat Istimewa?
Ada alasan besar mengapa 10 Hari Dzulhijjah memiliki posisi tinggi dalam Islam.
Pada hari-hari tersebut berkumpul berbagai ibadah utama:
- salat,
- puasa,
- sedekah,
- dzikir,
- haji,
- hingga kurban.
Semua bentuk penghambaan hadir dalam satu momentum yang sama. Karena itu, banyak ulama menyebut awal Dzulhijjah sebagai paket lengkap ibadah tahunan umat Islam.
Selain itu, terdapat Hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hari ini sangat istimewa karena menjadi waktu mustajab doa dan pengampunan dosa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)
Itulah sebabnya banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri jauh sebelum Hari Arafah tiba.
Kadang suasananya terasa sederhana sekali. Ada yang menempel catatan kecil bertuliskan “Puasa Besok” di pintu kulkas dekat toples sambal. Ada juga yang memasang alarm tahajud pukul 03.17 dini hari lalu tidur lebih cepat karena takut kesiangan sahur.
Detail-detail kecil seperti itu justru membuat awal Dzulhijjah terasa hidup.
Amalan yang Dianjurkan pada 10 Hari Dzulhijjah
Agar tidak melewatkan momen istimewa ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh.
1. Memperbanyak Dzikir
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak:
- takbir,
- tahmid,
- tahlil,
- dan tasbih.
Karena itu, lantunan takbir biasanya mulai terdengar lebih sering menjelang Iduladha.
2. Puasa Dzulhijjah dan Arafah
Puasa pada awal Dzulhijjah sangat dianjurkan, terutama puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah bagi yang tidak berhaji.
Dan menariknya, banyak orang justru merasa suasana puasa Dzulhijjah berbeda dibanding puasa lain. Lebih tenang. Lebih sunyi sedikit.
3. Membaca Al-Qur’an dan Bersedekah
Awal Dzulhijjah juga menjadi waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an dan memperbanyak sedekah.
Bahkan sedekah kecil sering terasa berbeda nilainya pada hari-hari ini.
Ada orang yang diam-diam mentransfer uang ke rekening masjid setelah melihat poster kurban lewat status WhatsApp. Tidak besar mungkin. Tetapi niat baik kadang memang lahir dari momen yang sangat sederhana.
Momentum yang Sering Terlewat karena Sibuk Dunia
Ironisnya, sebagian orang hari ini lebih hafal jadwal flash sale dan tanggal gajian dibanding tanggal puasa Arafah.
Notifikasi diskon terus berbunyi. Video pendek terus muncul tanpa henti. Sementara pengingat dzikir Dzulhijjah kadang lewat begitu saja di timeline.
Dunia digital memang bergerak cepat sekali sekarang.
Namun justru di tengah kebisingan itu, 10 Hari Dzulhijjah hadir seperti jeda kecil yang menenangkan hati. Mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya soal target dunia dan angka rekening.
Kadang seseorang baru sadar ketika malam takbiran datang terlalu cepat. Lalu muncul perasaan kecil dalam hati: “Kenapa hari-hari istimewa ini cepat sekali berlalu?”
Jangan Tunggu Jadi Lebih Baik Dulu
Banyak orang menunda ibadah karena merasa dirinya belum pantas. Padahal 10 Hari Dzulhijjah justru menjadi kesempatan untuk kembali mendekat kepada Allah, bahkan dengan langkah kecil sekalipun.
Mulailah dari doa sederhana. Dzikir pendek. Sedekah kecil. Atau sekadar bangun lebih awal untuk salat Subuh berjamaah.
Karena dalam Islam, amal yang dicintai Allah bukan selalu yang paling besar. Tetapi yang paling ikhlas dan terus dilakukan.
Bisa jadi, satu takbir lirih di awal Dzulhijjah lebih bernilai di sisi Allah dibanding seluruh kesibukan dunia yang selama ini membuat manusia lupa pulang kepada-Nya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar