Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Hari Kesaktian Pancasila: Merayakan Keragaman dalam Persatuan

Hari Kesaktian Pancasila: Merayakan Keragaman dalam Persatuan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober jadi momentum merayakan keanekaragaman budaya Indonesia dalam persatuan.”

albadarpost.com, PERSPEKTIF. Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai pengingat atas nilai-nilai dasar yang mempersatukan keragaman suku, agama, bahasa, budaya, dan wilayah. Di tengah pluralisme yang kaya, peringatan tahun ini kembali menegaskan bahwa perbedaan budaya bukan penghalang, melainkan fondasi kekuatan Persatuan Indonesia.

Pancasila Sebagai Perekat Budaya Nusantara

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025 mengangkat tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”, yang memberi warna baru terhadap cara kita menautkan nilai luhur Pancasila dengan keanekaragaman budaya di Tanah Air.

Dalam sambutan resmi, Pemerintah menekankan bahwa Pancasila tidak hanya soal dasar negara, melainkan alat pemersatu bagi masyarakat yang majemuk. Tema tersebut menyiratkan harapan bahwa Pancasila mampu menyatukan ragam suku, adat istiadat, bahasa, serta seni budaya di Indonesia yang plural.

Dalam praktiknya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila di berbagai daerah seringkali dirangkaikan dengan penampilan seni tradisional lokal seperti tari daerah, musik tradisi, batik khas, hingga kuliner nusantara. Hal ini memperlihatkan bahwa keragaman budaya justru menjadi medium hidupnya nilai Pancasila di tengah masyarakat.

Implementasi Nilai Kebhinekaan dalam Peringatan

Pemerintah pusat dan daerah menyelenggarakan upacara resmi sebagai inti peringatan. Rangkaian kegiatan meliputi penghormatan kepada pahlawan, pembacaan Pancasila dan UUD 1945, hingga penandatanganan ikrar bela bangsa.

Selain itu, banyak daerah memanfaatkan momen ini untuk mengadakan dialog budaya antar etnis, lomba karya seni lokal, pameran kerajinan tradisional, dan pelatihan seni budaya. Dengan cara demikian, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak hanya menjadi seremoni politik, tetapi pengalaman nyata yang memperkuat kesadaran kebhinekaan.

Beberapa sekolah menyelenggarakan lomba pakaian adat, bahasa daerah, dan pertunjukan seni warisan budaya. Guru dan siswa diminta untuk mengaitkan materi pelajaran Pancasila dengan cerita budaya lokal. Hal ini mendorong generasi muda menyadari bahwa nilai-nilai nasional bisa tumbuh dari akar budaya mereka sendiri.

Tantangan dan Harapan dalam Konteks Modern

Meskipun begitu, negara menghadapi tantangan serius: arus globalisasi dan ideologi asing bisa mengikis kesadaran lokal. Untuk itu, Pancasila sebagai landasan ideologi harus terus diperkuat agar budaya lokal tidak terpinggirkan oleh modernitas yang homogen.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila memberi kesempatan untuk meneguhkan bahwa keragaman budaya tidak boleh menjadi sumber konflik, melainkan titik temu persatuan. Keberhasilan integrasi budaya dalam upacara dan kegiatan lokal menjadi tolok ukur seberapa dalam nilai Pancasila berhasil dijadikan “perekat bangsa.”

Pemerintah pun menginstruksikan bahwa segala bentuk upaya ekstremisme, radikalisme, atau separatisme harus dihadapi bersama dengan landasan kultur dan nilai Pancasila.

Melalui instrumen pendidikan — mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi — nilai Pancasila dan penghargaan terhadap budaya lokal harus diintegrasikan secara sistematis. Generasi muda, yang hidup di era digital, perlu melihat Pancasila tidak sebagai dokumen lama, tetapi sebagai cara hidup dalam adat istiadat dan teknologi modern.

Kesimpulan

Hari Kesaktian Pancasila menjadi momen penting untuk merayakan keanekaragaman budaya Indonesia. Pancasila bukan dilema antara keseragaman dan pluralisme, melainkan fondasi agar keberagaman itu tetap terpelihara dalam bingkai persatuan.

Demikian kesimpulan silaturahmi Redaksi albadarpost.com dengan Dr. Deddy Mulyana, S.STP., M.Si. – Kadisporabudpar Kota Tasikmalaya.

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • belajar malam di pesantren

    7 Tradisi Santri Belajar Malam di Pesantren

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 16
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Banyak orang mengenal pesantren sebagai tempat mengaji dan belajar agama. Namun, tidak banyak yang mengetahui bagaimana suasana belajar malam di pesantren setelah waktu Isya tiba. Tradisi belajar malam di pesantren, kebiasaan santri pada malam hari, dan aktivitas santri setelah mengaji ternyata menyimpan banyak cerita yang jarang terlihat dari luar. Saat sebagian orang […]

  • dana desa Serang

    Dana Desa Raib di Serang: Bendahara Diduga Gelapkan Rp1 Miliar, Sisa Saldo Hanya Rp47 Ribu

    • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Dana desa Serang raib Rp1 miliar, bendahara kabur, saldo kas tersisa Rp47 ribu. Polisi naikkan ke penyidikan. albadarpost.com. LENSA – Polres Serang tengah menyelidiki dugaan penggelapan dana desa di Kabupaten Serang, Banten. Seorang bendahara desa berinisial YL diduga membawa kabur dana desa senilai lebih dari Rp1 miliar, meninggalkan saldo kas desa hanya Rp47 ribu. Kasus […]

  • Ilustrasi pekerja laki-laki dan perempuan mencerminkan ketimpangan pengangguran berdasarkan data pengangguran BPS terbaru

    Data Pengangguran BPS Ungkap Ketimpangan Gender

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Data pengangguran BPS kembali membuka potret yang tidak bisa diabaikan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pengangguran di Indonesia masih didominasi laki-laki. Fakta ini menegaskan adanya ketimpangan gender yang terus bertahan di pasar kerja nasional. Per November 2025, jumlah pengangguran nasional mencapai jutaan orang. Dari angka tersebut, proporsi pengangguran laki-laki tercatat lebih […]

  • lokal kereta

    Tampilan Beda Kereta pada Nataru 2025–2026

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Kolaborasi Kementerian Ekraf dan KAI hadirkan IP lokal di kereta Nataru untuk perkuat ekonomi kreatif nasional. albadarpost.com, HUMANIORA – Libur Natal dan Tahun Baru biasanya identik dengan koper besar, jadwal padat, dan kursi kereta yang penuh. Namun bagi sebagian penumpang kereta api pada Nataru 2025–2026, perjalanan kali ini menghadirkan kejutan kecil yang menyenangkan: rangkaian kereta […]

  • perdagangan orang

    Polres Garut Bongkar Perdagangan Orang di Bali

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Polres Garut ungkap perdagangan orang di Bali melalui penyamaran polwan. 20 korban berhasil diselamatkan. albadarpost.com, LENSA – Pengungkapan jaringan perdagangan orang yang melibatkan warga Garut terjadi awal 2018. Dua polwan Polres Garut, Brigadir Popy Puspasari dan Bripda Fitria, menyamar sebagai pekerja seks komersial untuk menelusuri modus perekrutan korban yang berujung eksploitasi di Bali. Penindakan ini […]

  • wajib militer Singapura

    Tak Lapor Wajib Militer Singapura, Pria Keturunan Indonesia Terancam Penjara

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 23
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Kasus wajib militer Singapura kembali menjadi sorotan publik setelah pengadilan menyatakan seorang pria berdarah Indonesia bersalah karena tidak menjalani National Service Singapura (NS). Pria tersebut dianggap melanggar hukum wajib militer Singapura, meskipun ia mengklaim memiliki kewarganegaraan Indonesia dan merasa tidak wajib mengikuti program tersebut. Perkara ini menarik perhatian karena menyangkut status […]

expand_less