Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jawaban Soal Islam dan Pancasila Ternyata Ada di Halaman Sekolah Dasar

Jawaban Soal Islam dan Pancasila Ternyata Ada di Halaman Sekolah Dasar

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 2
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Pada suatu Senin pagi, barisan siswa sekolah dasar berdiri menghadap tiang bendera.

Seorang anak laki-laki mengenakan peci hitam yang sesekali ia betulkan karena miring tertiup angin. Di sampingnya, seorang siswi berkerudung putih berdiri tegak meski tali sepatu kirinya tampak belum terikat sempurna.

Di barisan belakang, beberapa siswa terlihat masih mengantuk. Ada yang beberapa kali menguap. Ada pula yang sesekali melirik temannya sebelum lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan.

Pemandangan itu biasa.

Sangat biasa.

Namun justru dari hal-hal sederhana seperti itulah kadang jawaban atas perdebatan panjang orang dewasa muncul tanpa banyak kata.

Karena pagi itu tidak ada yang sedang memperdebatkan hubungan Islam dan Pancasila.

Mereka hanya menjalani hari seperti biasa.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang sering terlewat.

Ketika Orang Dewasa Berdebat, Anak-Anak Sibuk Bertumbuh

Di media sosial, perdebatan tentang Islam dan Pancasila sesekali kembali muncul.

Ada yang menulis panjang.

Ada yang membuat video.

Serta ada yang menyusun argumen berlapis-lapis.

Kadang diskusinya sehat.

Kadang juga berubah menjadi saling curiga.

Namun jika kita berjalan sebentar ke halaman sekolah dasar, suasananya terasa berbeda.

Anak-anak tampaknya tidak terlalu memikirkan persoalan itu.

Pagi hari mereka mengikuti upacara.

Siang hari mereka belajar matematika.

Sore hari mereka mengaji.

Besoknya mereka mengulang lagi rutinitas yang hampir sama.

Mereka tidak pernah bertanya:

“Kalau saya belajar Pancasila, apakah saya kurang Islami?”

Mereka juga tidak bertanya:

“Kalau saya menghafal surat pendek, apakah saya kurang cinta Indonesia?”

Yang mereka pikirkan biasanya jauh lebih sederhana.

Ulangan besok.

Tugas yang belum selesai.

Atau jajanan yang ingin dibeli saat istirahat.

Dalil yang Sudah Dipraktikkan Sebelum Dihafalkan

Islam mengajarkan persaudaraan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Islam juga mengajarkan tolong-menolong.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Menariknya, anak-anak sering mempraktikkan ayat-ayat itu sebelum mampu menjelaskan maknanya secara panjang lebar.

Ketika temannya jatuh, mereka membantu.

Ketika ada yang lupa membawa penghapus, mereka meminjamkan.

Bahkan ketika kelas mendapat tugas membersihkan halaman, mereka bekerja bersama-sama meski sesekali masih bercanda dan saling menyiram air.

Bukankah semangat seperti itu juga hidup dalam nilai kemanusiaan, persatuan, dan gotong royong yang terkandung dalam Pancasila?

Kehidupan Anak-Anak Tidak Selalu Rapi

Kadang orang dewasa berharap semuanya berjalan sempurna.

Padahal kehidupan anak-anak tidak pernah benar-benar serapi itu.

Tidak semua anak langsung hafal lima sila Pancasila.

Tidak semua pula lancar membaca Al-Qur’an.

Ada yang masih terbata-bata saat membaca.

Ada yang lupa urutan sila ketiga dan keempat.

Dan ada juga yang salah saat mengikuti gerakan upacara.

Namun mereka terus belajar.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Dan mungkin proses itulah yang lebih penting daripada sekadar hafalan.

Karena karakter tidak tumbuh dalam satu malam.

Ia tumbuh dari kebiasaan yang diulang terus-menerus.

Dunia Nyata Tidak Seramai Kolom Komentar

Saat jam istirahat tiba, perdebatan tentang ideologi tentu tidak terdengar di kantin sekolah.

Yang ramai justru obrolan soal jajanan favorit, tugas yang belum dikerjakan, pertandingan sepak bola antarkelas, atau rencana bermain setelah pulang sekolah.

Anak-anak tetap bermain bersama.

Mereka tidak terlalu peduli organisasi apa yang diikuti orang tuanya.

Mereka tidak bertanya partai politik mana yang dipilih keluarganya.

Dan mereka hanya tahu bahwa hari ini mereka berteman.

Dan besok kemungkinan besar mereka tetap berteman.

Kadang dunia nyata memang jauh lebih tenang dibanding kolom komentar media sosial.

Tantangan Baru di Era Digital

Ada satu kenyataan yang juga perlu diakui.

Sebagian anak zaman sekarang mungkin lebih cepat mengenali logo aplikasi gim di ponselnya dibanding lambang Garuda Pancasila.

Mereka mungkin lebih hafal karakter dalam permainan digital dibanding nama para pahlawan nasional.

Namun menyalahkan anak-anak tentu bukan solusi.

Tugas orang dewasa bukan mengeluh.

Tugas orang dewasa adalah mengenalkan keduanya secara seimbang.

Mengenalkan teknologi tanpa kehilangan nilai.

Mengenalkan masa depan tanpa melupakan jati diri.

Karena pada akhirnya, anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.

Mungkin Bangsa Ini Perlu Belajar Lagi dari Anak-Anak

Jika diperhatikan baik-baik, anak-anak sering menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi penting.

Mereka bisa menghafal Al-Fatihah pada pagi hari.

Lalu beberapa jam kemudian berdiri hormat kepada Merah Putih dengan penuh semangat.

Mereka tidak melihat Islam dan Pancasila sebagai dua kubu yang saling berhadapan.

Mereka menjalani keduanya secara alami.

Tanpa curiga.

Tanpa prasangka.

Dan tanpa kegaduhan.

Mungkin yang sering bertengkar bukan Islam dan Pancasila. Yang sering bertengkar adalah cara sebagian orang dewasa memandang keduanya. Sebab di halaman sekolah, seorang anak masih bisa mengaji sore hari, menghormat bendera Senin pagi, berbagi bekal dengan temannya saat istirahat, lalu pulang ke rumah dengan bahagia. Dan mungkin, di situlah Indonesia yang sesungguhnya masih terus tumbuh.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi reflektif tadabbur alam untuk Gen Z dengan latar langit, air, dan cahaya sebagai simbol kekuasaan Allah dalam Surah Al-Waqi’ah.

    Tadabbur Alam: Gen Z Terlalu Pede?

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tadabbur Alam bukan sekadar istilah kajian yang terdengar religius. Tadabbur alam, merenungi kekuasaan Allah, dan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya justru menjadi tamparan keras bagi generasi digital. Di era ketika semua bisa dicari lewat mesin pencari, banyak orang merasa paling tahu. Namun ironisnya, semakin luas akses informasi, semakin tipis rasa tunduk kepada Sang Pencipta. […]

  • Buruh Migran

    Tak Semudah yang Dibayangkan, Ini Perjuangan Buruh Indonesia di Luar Negeri

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 104
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Menjadi buruh migran atau pekerja migran di luar negeri sering dianggap jalan cepat mengubah nasib. Banyak orang melihat foto-foto keberhasilan mereka di media sosial, mulai dari rumah baru, kendaraan, hingga kiriman uang untuk keluarga di kampung halaman. Namun, di balik itu semua, ada perjuangan panjang yang jarang benar-benar terlihat. Sebagian buruh migran […]

  • NasDem demo Tempo

    NasDem Geruduk Tempo: Batas Kebebasan Pers Dipertanyakan

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 62
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Aksi NasDem demo Tempo ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ada emosi, ada kekecewaan—dan mungkin juga ada luka yang belum reda. Di di depan Kantor Redaksi Tempo, di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/4/2026) ini, sebagian kader menyampaikan bahwa pemberitaan terbaru Tempo sudah melewati batas. Awalnya dari Sampul, Berujung Gelombang […]

  • Kasus Pembunuhan Istri

    Kasus Pembunuhan Istri di Singapura, Warga Indonesia Salehuddin Jalani Proses Hukum Ketat

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Warga Indonesia didakwa dalam kasus pembunuhan istri di Singapura. Proses hukum berlangsung ketat dan masih tahap awal. albadarpost.com, LENSA – Kasus Pembunuhan Istri yang melibatkan warga negara Indonesia kembali menyita perhatian publik setelah seorang pria bernama Salehuddin harus berhadapan dengan aparat hukum di Singapura. Peristiwa ini mencuat setelah istrinya ditemukan tidak bernyawa di sebuah kamar […]

  • BPJS Kesehatan

    BPJS Kesehatan Tetapkan 21 Layanan Tak Ditanggung

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 74
    • 0Komentar

    BPJS Kesehatan tidak menanggung 21 layanan medis. Ketahui batas jaminan agar warga terhindar dari risiko biaya kesehatan. albadarpost.com, HUMANIORA – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan dirancang untuk menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh warga negara. Namun, tidak semua penyakit dan layanan medis ditanggung. Ada 21 kategori layanan yang secara tegas dikecualikan. Ketentuan […]

  • klausula parkir

    Klausula Parkir Dilarang Hukum, Mengapa Masih Marak?

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Klausula parkir yang mengalihkan tanggung jawab dilarang hukum. Negara diuji pada pengawasan dan perlindungan konsumen. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Tulisan kecil di sudut area parkir kerap luput dari perhatian: “kehilangan bukan tanggung jawab pengelola.” Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia menyentuh hak dasar konsumen, relasi kuasa antara warga dan pelaku usaha, serta kehadiran negara […]

expand_less