Qasidah Tasik Bangkit, Lasqi Usung Misi Go Digital
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Andi Sulanjani, ST, MM resmi dipercaya sebagai Ketua DPD Lasqi Kota Tasikmalaya periode 2025-2030, Kamis (16/7/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Di tengah derasnya arus musik digital dan perubahan selera generasi muda, Lasqi Tasikmalaya memilih menjawab tantangan dengan cara berbeda. Kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (Lasqi) Kota Tasikmalaya periode 2025–2030 resmi dilantik di Aula Bappelitbangda Kota Tasikmalaya, Kamis (16/7/2026), dengan membawa misi besar menghidupkan kembali seni qasidah agar tetap relevan, modern, dan dicintai masyarakat.
Pelantikan tersebut menjadi awal langkah organisasi untuk memperkuat pembinaan seni qasidah di Kota Tasikmalaya. Tidak hanya menjaga tradisi, Lasqi juga ingin melahirkan karya-karya religi yang mampu menjangkau generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Ketua DPD Lasqi Kota Tasikmalaya periode 2025–2030, Andi Sulanjani, ST., MM., mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mempertahankan qasidah, melainkan menghadirkannya dalam format yang dekat dengan kehidupan anak muda.
“Di era sekarang memang tidak mudah mengenalkan musik qasidah kepada generasi muda. Justru karena itu, Lasqi harus melahirkan karya yang menarik, mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap bernafaskan Islam,” ujarnya.
Tiga Langkah Besar Bangkitkan Qasidah Tasikmalaya
Untuk mewujudkan target tersebut, Lasqi Tasikmalaya telah menyiapkan sejumlah program prioritas selama lima tahun ke depan.
Pertama, organisasi akan memperkuat pembinaan grup-grup qasidah di 10 kecamatan. Program ini bertujuan memperluas regenerasi sekaligus membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru.
Selanjutnya, Lasqi akan menggelar pelatihan vokal secara intensif. Pembinaan tidak hanya menyasar kemampuan bernyanyi, tetapi juga kualitas penampilan agar lebih menarik ketika tampil di berbagai panggung maupun media digital.
Selain itu, pengurus juga mendorong lahirnya lagu-lagu religi baru yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki peluang dikenal luas melalui platform digital maupun media sosial.
Dengan strategi tersebut, qasidah diharapkan tidak lagi dipandang sebagai musik untuk kalangan tertentu, melainkan mampu menjadi bagian dari budaya populer yang tetap membawa pesan dakwah.
Kolaborasi Jadi Kunci Kemajuan Organisasi
Sekretaris DPW Lasqi Provinsi Jawa Barat, H. Imam Nasrulloh, mengingatkan bahwa kemajuan organisasi tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah.
Menurutnya, Lasqi harus tumbuh sebagai organisasi yang kreatif, mandiri, dan mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Lasqi adalah organisasi milik masyarakat. Karena itu, jangan hanya bergantung kepada pemerintah. Bangun sinergi dengan semua pihak dan segera daftarkan kepengurusan ke Kesbangpol agar keberadaan organisasi semakin kuat,” pesannya.
Ia juga mengajak seluruh pengurus menjaga semangat pengabdian.
Menurut Imam, apabila tujuan utama organisasi adalah syiar Islam melalui seni, maka keberkahan dan perkembangan akan mengikuti.
Qasidah Selaras dengan Identitas Kota Santri
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candranegara, menyambut positif kepengurusan baru DPD Lasqi Kota Tasikmalaya.
Ia menilai qasidah memiliki posisi penting karena tidak hanya menjadi bagian dari seni budaya, tetapi juga menjadi media dakwah yang sesuai dengan karakter Kota Tasikmalaya sebagai Kota Santri.
Menurutnya, kolaborasi antara pengurus, pemerintah, pembina, dan masyarakat akan menjadi modal penting untuk melahirkan karya-karya qasidah yang lebih inovatif dan mampu dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
“Qasidah bukan sekadar seni pertunjukan. Di dalamnya ada pesan moral dan nilai-nilai keislaman yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Saatnya Qasidah Menemukan Panggung Baru
Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menikmati musik. Namun, perubahan itu juga membuka peluang besar bagi seni qasidah untuk hadir dalam format yang lebih segar melalui media sosial, platform digital, hingga panggung kreatif.
Karena itu, kepengurusan baru Lasqi Tasikmalaya ingin menjadikan momentum pelantikan sebagai awal gerakan membangun ekosistem qasidah yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Harapannya, semakin banyak generasi muda yang tidak hanya mengenal qasidah sebagai warisan budaya Islam, tetapi juga bangga menjadikannya bagian dari identitas dan kreativitas mereka.
Di tengah derasnya musik modern, Lasqi Tasikmalaya memilih tidak sekadar bertahan, melainkan bergerak maju. Jika pembinaan berjalan konsisten dan karya-karya baru terus lahir, bukan tidak mungkin qasidah kembali bergema dari Kota Santri, lalu menginspirasi panggung-panggung Indonesia. (GZ)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar