Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Data Bansos Meleset, Lansia di Bekasi Tidak Menerima Bantuan

Data Bansos Meleset, Lansia di Bekasi Tidak Menerima Bantuan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kasus Inah di Bekasi menunjukkan data bansos meleset, warga rentan tidak menerima bantuan sosial.


albadarpost.com, HUMANIORA – Di sebuah rumah kecil di Kampung Wangkal, Desa Sukajaya, Cibitung, Bekasi, seorang lansia bernama Inah hidup tanpa kepastian. Perempuan 64 tahun itu mengaku tak pernah menerima bantuan sosial, sementara banyak warga di sekitarnya memperoleh bantuan dalam jumlah besar. Situasi ini memperlihatkan celah penyaluran data bansos, dan dampaknya terasa langsung terhadap kelompok paling rentan.

Di lingkungannya, bantuan pangan berupa beras, minyak goreng, dan telur dibagikan ke sejumlah keluarga. Namun menurut penuturan Inah, sebagian penerima justru memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik. “Beras seliter juga kagak. Orang-orang dapat beras sampai dua karung. Kita cuma lihat,” katanya, Minggu, 30 November 2025. Ia menyampaikan keluhan itu pelan, dengan nada yang tidak mencari sensasi, hanya meminta perlakuan setara.

Inah tinggal bersama putra bungsunya. Anak itu bekerja serabutan sebagai penyapu di kawasan perumahan. Penghasilannya sekitar Rp450.000 per minggu, yang kerap tak mencukupi kebutuhan dasar. “Ya cukup enggak cukup, cukupin aja. Apa-apa kan mahal,” ucapnya. Di ruang tinggal beralaskan tikar, mereka berdua tidur bergantian di ruang tengah atau belakang rumah, bergantung pada kondisi hari itu.


Distribusi Bantuan Tidak Sejalan dengan Kondisi Lapangan

Kasus Inah mencerminkan persoalan klasik: data bansos yang tidak sinkron dengan realitas warga. Penentuan penerima bantuan masih bertumpu pada data administratif di tingkat RT dan RW, sementara kondisi faktual tidak selalu dipantau ulang. Di lingkungannya, warga dengan pekerjaan tetap di perusahaan besar, pemilik kendaraan pribadi, atau rumah berukuran besar justru masuk daftar penerima.

Inah menyebut beberapa nama tanpa menyebut detail identitas. Misalnya, keluarga dengan tiga mobil yang tetap menerima beras karungan. “Rumahnya gede-gede, punya mobil tiga biji, kemarin pada dapet,” tuturnya. Ia sendiri mengaku pernah menyerahkan fotokopi kartu keluarga, tetapi setelah itu tidak ada tindak lanjut. Tidak ada penjelasan, tidak ada verifikasi lanjutan, dan tidak ada bantuan yang diterima.

Kondisi kesehatannya memperburuk keadaan. Ia mengidap penyakit jantung dan hipertensi. Pergerakannya terbatas dan ia harus rutin menebus obat di puskesmas. Dahulu, ia bekerja sebagai buruh cuci. Sekarang, berjalan beberapa puluh meter saja membuatnya kelelahan. “Tiap bulan ambil obat darah tinggi, darah kental. Ada lima macam,” katanya.

Program bansos dirancang pemerintah untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin. Namun tanpa koreksi data, manfaatnya jatuh ke kelompok yang salah. Situasi seperti ini menimbulkan ketidakpercayaan. Warga yang berhak merasa tidak terlihat oleh sistem, sementara warga yang relatif mampu terus menerima bantuan.


Bias Administratif dan Ketiadaan Mekanisme Pengaduan

Distribusi data bansos kerap berpatokan pada pembaruan dokumen, bukan kondisi hidup terkini. Mekanisme verifikasi faktual terkadang tidak berjalan. Prosesnya berhenti pada pengumpulan berkas dan penentuan daftar penerima oleh aparat setempat. Tidak ada sistem banding yang jelas. Tidak ada ruang bagi warga yang terlewat untuk meminta evaluasi berbasis fakta.

Baca juga: Kilang Balongan Jaga Pasokan BBM Jawa Barat Aman Hingga 2025

Di Sukajaya, program bantuan sosial bukan hanya soal beras atau minyak goreng. Ia cerminan tata kelola kebijakan publik. Ketika warga seperti Inah tidak mendapatkan perlindungan minimum, maka standar keadilan sosial runtuh. Negara hadir di angka statistik, tetapi tidak hadir di dalam rumah-rumah sempit yang membutuhkan intervensi.

Dalam penutup pembicaraan, meminta bantuan bukanlah tuntutan besar baginya. “Saya ingin dapet kayak orang-orang. Jangan dibedain,” ujarnya lirih. Kalimat itu menunjukkan harapan sederhana: diperlakukan sebagai warga yang memiliki hak yang sama.

Kasus Inah memperlihatkan data bansos yang tidak akurat, membuat warga rentan terabaikan dari program bantuan sosial. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kasus ayah gadaikan anak

    Bocah Hilang Tasikmalaya Terungkap, Ayah Kandung Diduga Gadaikan Anak

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Kasus ayah gadaikan anak di Tasikmalaya terungkap setelah bocah ditemukan di Gresik dan kini dalam pendampingan sosial. albadarpost.com, HUMANIORA – Kasus ayah gadaikan anak kembali memunculkan keprihatinan publik. Dinas Sosial Gresik menemukan bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang dilaporkan hilang oleh ibunya di Tasikmalaya. Bocah itu ternyata dijadikan jaminan pinjaman Rp25 juta oleh ayah […]

  • ATCS Tasikmalaya

    Teknologi Ini Diam-Diam Mengatur Jalanan Tasikmalaya Setiap Hari

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Area Traffic Control System (ATCS) Kota Tasikmalaya kini menjadi teknologi yang bekerja hampir di setiap perjalanan warga, meski banyak orang belum menyadarinya. Sistem lalu lintas pintar ini mengatur ritme kendaraan melalui jaringan CCTV dan kontrol lampu otomatis sehingga arus kendaraan tetap bergerak stabil di berbagai persimpangan utama. Dalam konsep sistem lalu […]

  • Kawasan pusat data dan infrastruktur digital di Batam yang diproyeksikan mendukung ekonomi digital Batam sebagai hub Asia Tenggara.

    Batam Siap Jadi Pusat Data Asia Tenggara

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 6
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Ekonomi digital Batam terus dipacu untuk menjadikan kota industri itu sebagai hub digital Asia Tenggara. Pemerintah daerah bersama otoritas kawasan mendorong penguatan pusat data, investasi teknologi, dan pengembangan talenta guna mempercepat transformasi digital Batam sebagai pusat ekonomi berbasis data di kawasan. Langkah tersebut dinilai strategis karena posisi Batam yang berdekatan dengan […]

  • biduan joget

    Etika Perayaan Keagamaan dan Batas Hiburan di Ruang Publik

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Polemik biduan joget di panggung peringatan Isra Mikraj bukan sekadar soal selera hiburan atau viralitas media sosial. Ia membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana etika perayaan keagamaan dikelola di ruang publik, dan sejauh mana simbol-simbol religius dilindungi dari banalitas acara seremonial. Reaksi keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) menandai bahwa isu ini […]

  • Operasi Zebra

    Polda Jabar Gelar Operasi Zebra, Pelanggaran Lalu Lintas Jadi Fokus Pengawasan

    • calendar_month Sabtu, 15 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 10
    • 0Komentar

    Operasi Zebra digelar di Jawa Barat selama 14 hari untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. albadarpost.com, PELITA – Polda Jawa Barat menyiapkan Operasi Zebra selama dua pekan, mulai 17 hingga 30 November 2025. Langkah ini ditempuh untuk menekan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas yang terus meningkat menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Operasi Zebra […]

  • polisi mengajar santri

    Mengharukan! Polisi Ini Mengajar Santri Diam-Diam Selama 12 Tahun

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 23
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Polisi mengajar santri mungkin terdengar tidak biasa, namun kisah ini benar-benar nyata. Sosok polisi jadi guru, pengabdian anggota polisi, dan kisah inspiratif pendidik ini datang dari Aceh. Selama lebih dari satu dekade, seorang perwira polisi tetap konsisten membagi ilmu kepada santri di pesantren tradisional. Oleh karena itu, cerita polisi mengajar santri ini […]

expand_less