BSSN Ingatkan Bahaya Perang Siber di Garut
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Garut menghadiri Forum Komunikasi Siber dan Sandi Daerah bersama BSSN dan Unhan di Pendopo Garut, Jumat (22/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Keamanan siber menjadi sorotan serius dalam kegiatan Forum Komunikasi Siber dan Sandi Daerah (Forkomsanda) Provinsi Jawa Barat yang digelar di Pendopo Kabupaten Garut, Kamis (21/5/2026).
Forum yang menghadirkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Universitas Pertahanan (Unhan) RI itu membahas ancaman digital yang kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, pemerintahan, hingga sistem pembangunan daerah.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin bahkan menilai tantangan pembangunan di era digital tidak bisa lagi dipisahkan dari isu keamanan siber dan perlindungan data.
“Ketika ada teman-teman dari luar kota datang membangun Garut dengan idealisme dan semangatnya, kami tentu sangat senang,” ujar Syakur dalam sambutannya.
Namun di balik perkembangan teknologi yang semakin cepat, ancaman digital juga ikut tumbuh tanpa disadari banyak orang.
Dan itu mulai terasa nyata hari ini.
Ancaman Siber Kini Bukan Sekadar Soal Hacker
Kepala BSSN RI Letjen TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan bahwa ruang siber saat ini bukan lagi sekadar urusan teknis komputer atau serangan hacker biasa.
Menurutnya, dunia digital kini sudah berubah menjadi arena persaingan geopolitik dan ekonomi global.
“Isu keamanan siber tidak lagi hanya sekadar isu teknis. Ruang siber saat ini sudah menjadi arena kompetisi geopolitik dan geo ekonomi global,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana ancaman digital bisa berdampak langsung terhadap stabilitas negara, pemerintahan, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tidak sedikit orang hari ini menyimpan hampir seluruh aktivitas penting di ponsel mereka. Mulai dari data pekerjaan, rekening bank, dokumen pribadi, hingga komunikasi keluarga.
Namun banyak juga yang masih memakai password sederhana dan membuka tautan asing tanpa berpikir panjang.
Garut Dinilai Harus Siap Hadapi Era Digital
Dalam forum tersebut, Bupati Garut menyampaikan bahwa wilayah Garut memiliki tantangan pembangunan yang cukup kompleks.
Dengan luas wilayah mencapai 3.100 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 2,8 juta jiwa, penguatan sistem digital dan keamanan data dinilai menjadi kebutuhan penting.
Selain mempercepat pelayanan publik, digitalisasi juga harus mampu melindungi masyarakat dari berbagai risiko kejahatan siber.
Belakangan, aktivitas digital memang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Orang-orang bekerja lewat aplikasi, berbelanja dari layar ponsel, hingga menyimpan dokumen penting di layanan daring.
Ada yang mengakses internet sambil duduk di warung kopi kecil.
Ada juga yang baru sadar akun pribadinya diretas setelah menerima notifikasi asing tengah malam.
Dan situasi seperti itu makin sering terdengar.
Indonesia Emas 2045 Tidak Bisa Lepas dari Siber
Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Sholeh, menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak cepat dalam memperkuat SDM dan infrastruktur digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi sering melaju jauh lebih cepat dibanding kesiapan masyarakat dalam memahaminya.
“Oleh sebab itu Indonesia tidak boleh tinggal diam. Siber menjadi parameter penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia menilai penguatan sistem keamanan digital harus berjalan bersamaan dengan pembangunan nasional.
Karena ancaman hari ini tidak selalu datang dalam bentuk fisik.
Kadang justru muncul lewat layar kecil di genggaman tangan.
Mahasiswa Unhan Didorong Lebih Kritis dan Adaptif
Sementara itu, Kepala Program Studi Program Doktor Universitas Pertahanan RI, Kolonel Laut (K) Sutanto, menjelaskan keterlibatan mahasiswa Unhan dalam forum tersebut bertujuan melatih kemampuan berpikir strategis dan kolaboratif.
Menurutnya, generasi muda harus mampu membaca tantangan keamanan modern secara lebih luas.
Bukan hanya soal pertahanan fisik.
Tetapi juga perang informasi, keamanan data, dan ancaman digital lintas negara.
“Partisipasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi strategis yang unggul secara akademis dan memiliki sensitivitas terhadap tantangan keamanan era digital,” katanya.
Pengabdian Masyarakat Jadi Langkah Nyata
Selain forum diskusi, Universitas Pertahanan RI juga dijadwalkan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Kramatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.
Kegiatan tersebut menjadi bagian implementasi Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat.
Langkah itu dinilai penting agar isu keamanan siber tidak hanya berhenti di ruang seminar, tetapi benar-benar menyentuh masyarakat hingga tingkat desa.
Lucunya, sebagian orang hari ini lebih takut kehilangan sinyal internet dibanding kehilangan kesadaran soal keamanan data pribadinya sendiri.
Padahal ancaman digital bergerak jauh lebih cepat daripada yang terlihat di layar.
Garut Mulai Membaca Ancaman Masa Depan
Forkomsanda di Garut menunjukkan bahwa isu keamanan siber kini mulai menjadi perhatian serius daerah.
Bukan hanya pemerintah pusat.
Tetapi juga pemerintah kabupaten, kampus, aparat, hingga masyarakat umum.
Karena dunia digital memang memberi banyak kemudahan.
Namun di saat yang sama, ia juga membuka pintu ancaman baru yang sering datang tanpa suara.
Hari ini perang tidak selalu terdengar lewat dentuman senjata.
Kadang ia datang diam-diam lewat notifikasi, tautan asing, dan data pribadi yang bocor tanpa disadari siapa pun. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar