Eksportir RI Mulai Beralih ke ASEAN, Biaya Lebih Murah dan Pasar Dekat
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi aktivitas bongkar muat kontainer ekspor di pelabuhan Indonesia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar Asia Tenggara justru mulai dilirik banyak pelaku usaha Indonesia sebagai tujuan ekspor paling realistis tahun ini. Selain jaraknya lebih dekat, biaya logistik ke negara-negara ASEAN juga dinilai jauh lebih efisien dibanding pengiriman ke kawasan Eropa atau Amerika Serikat.
Laporan terbaru Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara tetangga masih tumbuh cukup kuat sepanjang 2025.
Malaysia, Vietnam, Filipina, Singapura, hingga Thailand kini menjadi pasar utama bagi berbagai produk Indonesia, mulai dari otomotif, makanan olahan, produk kimia, hingga komoditas perkebunan.
“Banyak eksportir sekarang lebih realistis. Mereka melihat pasar ASEAN lebih cepat dijangkau dan permintaannya juga stabil,” ujar seorang pelaku usaha ekspor di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, kesamaan budaya dan pola konsumsi di kawasan Asia Tenggara membuat produk Indonesia relatif lebih mudah diterima pasar.
Malaysia Masih Jadi Tujuan Favorit Produk Indonesia
Malaysia tetap menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia di kawasan ASEAN. Faktor kedekatan geografis hingga kemiripan bahasa membuat arus perdagangan kedua negara terus bergerak aktif.
Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Malaysia tercatat mencapai USD 11,71 miliar.
Produk yang paling banyak dikirim meliputi:
- produk kimia,
- batubara,
- logam dan produk logam,
- CPO dan turunannya,
- serta kendaraan otomotif.
Di luar produk utama tersebut, beberapa komoditas lain mulai menunjukkan tren positif seperti kopi, kelapa olahan, serta produk kayu.
Sejumlah pelaku UMKM juga mulai mencoba pasar Malaysia karena proses distribusi dinilai lebih sederhana dibanding ekspor ke negara yang lebih jauh.
“Kalau ke Malaysia, tantangan bahasa dan selera pasar biasanya tidak terlalu rumit,” kata eksportir produk makanan asal Jawa Barat.
Vietnam Jadi Pasar yang Tumbuh Sangat Cepat
Selain Malaysia, Vietnam menjadi negara yang pertumbuhan impornya cukup agresif dalam beberapa tahun terakhir. Pesatnya perkembangan sektor industri membuat kebutuhan bahan baku dan produk penunjang terus meningkat.
Nilai ekspor Indonesia ke Vietnam pada 2025 tercatat mencapai USD 10,60 miliar.
Produk utama yang banyak masuk ke pasar Vietnam antara lain:
- logam dan produk logam,
- batubara,
- otomotif,
- CPO,
- serta elektronik.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan melihat peluang besar pada produk:
- makanan olahan,
- karet,
- dan rempah-rempah.
Pelaku usaha menilai Vietnam menjadi salah satu pasar paling menarik karena pertumbuhan kelas menengahnya terus naik.
“Permintaan produk konsumsi di Vietnam sekarang mulai tinggi. Itu peluang besar bagi Indonesia,” ujar pelaku usaha perdagangan regional.
Filipina dan Singapura Jadi Pasar Strategis
Filipina juga masuk dalam daftar negara tujuan ekspor potensial Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar, kebutuhan impor negara tersebut terhadap pangan dan energi masih terus meningkat.
Nilai ekspor Indonesia ke Filipina pada 2025 mencapai USD 10,13 miliar.
Produk yang paling banyak diekspor meliputi:
- otomotif,
- batubara,
- makanan olahan,
- CPO,
- dan produk kimia.
Sementara itu, Singapura tetap memainkan peran penting sebagai pusat perdagangan dan distribusi kawasan Asia Tenggara.
Meski wilayahnya kecil, negara tersebut menjadi hub perdagangan internasional yang strategis bagi produk-produk Indonesia.
Ekspor Indonesia ke Singapura tercatat mencapai USD 9,87 miliar dengan produk unggulan seperti:
- elektronik,
- mesin-mesin,
- logam mulia,
- produk kimia,
- dan perhiasan.
Thailand Masih Butuh Pasokan Bahan Baku Industri
Thailand juga menjadi pasar yang cukup menjanjikan karena sektor industrinya terus membutuhkan bahan baku dari luar negeri.
Nilai ekspor Indonesia ke Thailand mencapai USD 7,38 miliar pada 2025.
Produk utama yang dikirim meliputi:
- logam mulia,
- logam dan produk logam,
- produk kimia,
- batubara,
- dan otomotif.
Selain itu, produk seperti tekstil, kertas, serta ikan olahan juga dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan yang cukup besar.
AFTA Jadi Keuntungan Besar bagi Eksportir RI
Perjanjian ASEAN Free Trade Agreement atau AFTA masih menjadi salah satu faktor utama yang membuat perdagangan antarnegara ASEAN terus tumbuh.
Melalui kerja sama tersebut, tarif perdagangan menjadi lebih rendah sehingga produk lebih mudah masuk ke pasar regional.
Di sisi lain, jarak pengiriman yang lebih dekat membuat biaya logistik lebih terkendali. Faktor itu menjadi keuntungan besar bagi eksportir Indonesia, terutama pelaku usaha skala kecil dan menengah.
Ketika pasar global menghadapi tekanan, banyak pelaku usaha kini mulai melihat ASEAN bukan lagi sekadar pasar tetangga, melainkan peluang besar yang paling dekat untuk dimenangkan.
Saat persaingan ekspor global makin keras dan biaya logistik terus naik, negara-negara tetangga justru berubah menjadi pintu tercepat bagi produk Indonesia untuk menembus pasar internasional dengan lebih realistis dan menguntungkan. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar