Deepfake AI Makin Viral, Sampai Mana Islam Membolehkannya?
- account_circle redaktur
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Fiqih deepfake mulai menjadi pembahasan serius di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin masif. Teknologi edit wajah AI, manipulasi video digital, hingga rekayasa suara kini berkembang sangat cepat dan mampu membuat sesuatu yang palsu terlihat seperti nyata.
Di media sosial, wajah seseorang bisa dipindahkan ke tubuh orang lain hanya dalam hitungan menit.
Suara tokoh publik dapat ditiru hampir sempurna.
Bahkan video yang sebenarnya tidak pernah terjadi kini bisa tampak sangat meyakinkan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar:
sampai mana batas teknologi seperti deepfake diperbolehkan dalam Islam?
Deepfake Tidak Selalu Haram, Tapi Ada Batas Besarnya
Dalam fiqih kontemporer, para ulama umumnya melihat teknologi sebagai alat. Artinya, hukum penggunaan AI dan deepfake bergantung pada tujuan, dampak, dan cara penggunaannya.
Jika teknologi dipakai untuk edukasi, keamanan, film, atau hiburan yang tidak melanggar syariat, sebagian ulama memandangnya masih dalam ruang yang diperbolehkan.
Namun persoalannya berubah ketika deepfake mulai dipakai untuk:
- fitnah,
- penipuan,
- manipulasi,
- pornografi,
- atau penghinaan terhadap orang lain.
Di titik itulah masalah fiqih muncul dengan sangat serius.
Islam sejak awal melarang segala bentuk kebohongan dan manipulasi yang merugikan manusia.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan golongan kami.”
(HR Muslim)
Karena itu, ketika deepfake dipakai untuk menipu publik atau merusak kehormatan seseorang, hukumnya jelas mendekati keharaman.
Edit Wajah AI dan Budaya Pencitraan Digital
Menariknya, persoalan deepfake tidak hanya soal kriminalitas digital.
Ada sisi lain yang kini mulai banyak dibahas:
budaya pencitraan di media sosial.
Hari ini, banyak orang mengedit wajah secara berlebihan hingga hampir tidak menyerupai bentuk aslinya.
Filter AI membuat kulit tampak sempurna.
Wajah dibuat lebih tirus.
Tubuh diubah lebih ideal.
Lama-kelamaan, sebagian orang mulai kehilangan rasa syukur terhadap dirinya sendiri.
Dalam Islam, menjaga penampilan tentu diperbolehkan.
Namun ketika perubahan dilakukan secara ekstrem demi membangun citra palsu, para ulama mulai mengingatkan adanya unsur:
- penipuan identitas,
- ketidakjujuran,
- dan hilangnya keaslian diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tin ayat 4:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat tersebut sering dijadikan pengingat bahwa manusia seharusnya tidak terjebak pada obsesi berlebihan terhadap standar visual buatan.
Teknologi AI Bisa Membantu, Tapi Juga Bisa Menghancurkan
Di satu sisi, AI memang mempermudah banyak hal. Bahkan sekarang, edit video rumit pun bisa selesai hanya lewat ponsel.
Teknologi ini membantu pendidikan, kesehatan, keamanan digital, bahkan dakwah Islam modern.
Namun di sisi lain, AI juga menghadirkan ancaman baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Hari ini, seseorang bisa difitnah menggunakan video palsu.
Tokoh agama dapat dibuat seolah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.
Dan masyarakat awam sering sulit membedakan mana yang asli dan mana yang hasil manipulasi.
Karena itu, fiqih kontemporer mulai menaruh perhatian besar pada etika digital.
Bukan hanya soal halal dan haram secara teknis.
Tetapi juga soal tanggung jawab moral di era teknologi.
Islam Mengajarkan Kejujuran di Tengah Dunia Virtual
Di era digital, manusia semakin mudah membentuk identitas baru di internet.
Namun Islam tetap menempatkan kejujuran sebagai fondasi utama dalam kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan.” (HR. Muslim)
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut terasa sangat relevan hari ini.
Sebab dunia digital sering membuat manusia tergoda untuk:
- terlihat sempurna,
- tampil berbeda,
- atau membangun realitas palsu demi perhatian publik.
Padahal semakin canggih teknologi berkembang, nilai kejujuran justru semakin penting dijaga.
Fiqih Kontemporer Mulai Menjawab Tantangan Zaman
Perdebatan tentang deepfake menunjukkan bahwa fiqih Islam terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Ulama kontemporer kini tidak hanya membahas persoalan klasik.
Mereka juga mulai membicarakan:
- AI,
- identitas digital,
- manipulasi visual,
- hingga etika media sosial.
Hal itu membuktikan bahwa Islam tetap relevan menghadapi tantangan modern.
Teknologi bukan musuh.
Namun manusia tetap harus memiliki batas moral saat menggunakannya.
Karena ketika dunia digital semakin sulit dibedakan antara nyata dan palsu, kejujuran justru menjadi sesuatu yang paling mahal.
Dan mungkin, di era AI seperti hari ini, menjaga keaslian diri adalah bentuk ibadah yang mulai langka. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar