Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Istidraj dalam Islam: Nikmat yang Menipu Jiwa

Istidraj dalam Islam: Nikmat yang Menipu Jiwa

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
  • visibility 221
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 182:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Pada suatu masa yang terasa semakin dekat, manusia memuja dunia dan gemerlapnnya lebih daripada suara hati. Gedung-gedung menjulang, transaksi melesat dalam hitungan detik, dan nama seseorang melambung karena satu konten viral. Namun di balik sorak sorai itu, ayat ini bergetar pelan, seperti bisikan langit yang jarang didengar.

Baca juga: 5 Hal yang Membatalkan Puasa, Nomor 1 Jarang Disadari

Istidraj bukan sekadar azab. Sebaliknya, ia adalah penangguhan yang lembut. Allah memberi, menambah, melapangkan, bahkan memudahkan jalan dunia seseorang. Akan tetapi, kenikmatan itu tidak selalu berarti cinta. Kadang justru menjadi tangga yang menurun, bukan menaik.

Seseorang meraih kekayaan tanpa henti, lalu merasa dirinya aman. Ia sehat, dipuji, dan diikuti jutaan orang. Karena itu, ia menyangka dirinya diridhai. Padahal bisa jadi ia sedang ditarik perlahan, setapak demi setapak, menuju titik yang tak pernah ia bayangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba atas maksiat yang ia lakukan, maka itu adalah istidraj.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menampar kesadaran kita. Sebab sering kali manusia mengukur kemuliaan dengan materi. Padahal ukuran langit berbeda. Dunia bisa menjadi ujian dalam bentuk kekurangan. Namun lebih sering, ia menjadi ujian dalam bentuk kelimpahan.

Jalan Sunyi yang Tak Disadari

Istidraj bekerja dalam diam. Tidak ada tanda bahaya yang berkedip. Tidak ada gemuruh yang memperingatkan. Justru semuanya terasa baik-baik saja. Karena itu, banyak orang tertipu oleh stabilitas hidupnya sendiri.

Imam Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata,

“Barang siapa dilapangkan dunia untuknya sementara ia terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.”

Di sinilah letak getirnya. Seseorang merasa doanya terkabul karena bisnisnya berkembang. Ia merasa hidupnya diberkahi karena hartanya bertambah. Namun ia jarang sujud, lalai bersyukur, dan enggan bertobat. Ia tidak sadar bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan kembali semakin menipis.

Di era mendatang—yang sebenarnya sudah kita pijak—manusia membangun citra lebih cepat daripada membangun jiwa. Mereka merawat reputasi, tetapi membiarkan hati retak. Mereka takut kehilangan pengikut, tetapi tidak takut kehilangan petunjuk.

Istidraj tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia hadir dengan kemewahan, tepuk tangan, dan validasi sosial. Karena itu, seseorang jarang merasa terancam. Ia justru merasa dipilih. Padahal mungkin ia sedang ditangguhkan untuk sebuah perhitungan yang lebih berat.

Allah menegaskan bahwa kebinasaan itu datang “dari arah yang tidak mereka ketahui.” Artinya, manusia tidak menyadari prosesnya. Ia tertawa hari ini, lalu esoknya terjatuh dalam kehinaan yang tak pernah ia sangka.

Antara Rahmat dan Perangkap

Lalu bagaimana membedakan nikmat dan istidraj?

Baca juga: Cara Food Prep Agar Tahan Seminggu

Pertama, lihatlah dampaknya pada hati. Jika kenikmatan membuat seseorang semakin tunduk, semakin takut kepada Allah, dan semakin gemar berbuat baik, maka itu rahmat. Namun jika kenikmatan membuatnya angkuh, meremehkan dosa, dan merasa aman dari azab, maka ia harus gemetar.

Kedua, perhatikan hubungan dengan Al-Qur’an. Apakah semakin dekat atau justru semakin jauh? Sebab cahaya wahyu tidak pernah menipu.

Dalam dunia yang serba cepat, manusia sering mengira penundaan hukuman berarti pengampunan. Padahal belum tentu. Penangguhan bisa menjadi strategi Ilahi agar kejatuhan terjadi dalam kondisi paling menyakitkan.

Karena itu, para ulama selalu mengajarkan muhasabah. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Nasihat ini terasa semakin relevan. Sebab istidraj tidak menyasar orang yang sadar dan terus memperbaiki diri. Ia lebih mudah menjangkiti mereka yang merasa sudah cukup baik.

Maka, sebelum langit benar-benar menutup pintu kesempatan, setiap jiwa perlu bertanya: apakah nikmat yang aku rasakan mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?

Istidraj adalah peringatan yang halus namun tajam. Ia menyayat tanpa darah, memanggil tanpa suara. Dan hanya hati yang hidup yang mampu merasakannya.

Semoga kita tidak termasuk mereka yang tertawa dalam kelalaian, lalu terbangun saat semuanya telah terlambat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi seorang Muslim sedang berdzikir dengan suasana tenang untuk menggambarkan ketenangan hati dalam Islam.

    Hati Gelisah dan Pikiran Kacau? Coba Amalkan Dzikir Ini

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 189
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Di tengah kehidupan yang semakin bising, banyak orang mulai mencari ketenangan dengan berbagai cara. Ada yang mencoba healing, menjauh dari media sosial, hingga mencari suasana baru agar pikirannya lebih tenang. Namun, sebagian justru menemukan jawaban paling sederhana: kembali berdzikir kepada Allah SWT. Amalan yang terlihat ringan itu ternyata menyimpan kekuatan besar bagi […]

  • Puncak Segala Tujuan

    Keledai Penggilingan dan Manusia yang Tak Pernah Sampai

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 86
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH — Puncak segala tujuan bukanlah jabatan, kekayaan, ketenaran, ataupun pujian manusia. Tujuan hidup kepada Allah itulah pesan yang berulang kali diajarkan para ulama. Namun, mengapa begitu banyak orang merasa hidupnya terus maju, padahal sesungguhnya hanya berputar di tempat? Bayangkan seekor keledai yang sejak pagi menarik batu penggilingan. Langkahnya tak pernah berhenti. Debu beterbangan. […]

  • kasus korupsi Abdul Wahid

    Gubernur Riau Abdul Wahid Tersandung Kasus Korupsi Jatah Preman di Awal Masa Jabatan

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 238
    • 0Komentar

    KPK menetapkan Abdul Wahid sebagai tersangka dalam kasus korupsi jatah preman sejak awal masa jabatannya. Sumpah Jabatan Berujung Ironi: Kasus Korupsi Abdul Wahid Terungkap albadarpost.com, LENSA – Baru beberapa bulan setelah dilantik, kasus korupsi Abdul Wahid menyeret Gubernur Riau itu ke meja penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal pada 20 Februari 2025, ia mengucapkan sumpah […]

  • Makam Pahlawan Pamarican

    Hari Bhayangkara, Warga Bersihkan Makam Pahlawan Pamarican

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 103
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Tidak banyak warga yang mengetahui bahwa Makam Pahlawan Pamarican menyimpan kisah penting perjuangan kemerdekaan Indonesia di wilayah Ciamis Selatan. Situs Makam Pahlawan Pamarican menjadi bukti sejarah sekaligus pengingat bahwa Kecamatan Pamarican pernah menjadi jalur gerilya para pejuang. Karena itu, semangat menjaga sejarah Pamarican kembali menguat saat unsur Muspika bersama masyarakat menggelar […]

  • Mutasi Kajari Jawa Barat 2026

    Mutasi Kajari Jawa Barat 2026, Ini Daftar Lengkapnya

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Mutasi Kajari Jawa Barat 2026 terjadi. Peta kepemimpinan kejaksaan di sejumlah daerah di Jawa Barat berubah. Masyarakat di Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Tasikmalaya kini akan menghadapi pergantian Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) setelah Kejaksaan Agung Republik Indonesia menetapkan rotasi pejabat struktural pada 29 Juli 2026. Mutasi tersebut merupakan bagian dari penyegaran […]

  • Umat Islam melaksanakan shalat tarawih Ramadan berjamaah di masjid pada malam hari dengan saf yang rapat dan suasana khusyuk.

    Shalat Tarawih Ramadan: Ampunan di Setiap Malam

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 196
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Shalat tarawih Ramadan menjadi ibadah khas yang hanya hadir di bulan suci. Ibadah ini termasuk qiyamul lail atau salat malam yang dikerjakan setelah Isya hingga menjelang fajar. Selain dikenal sebagai salat malam Ramadan, tarawih memiliki keutamaan besar karena Allah menjanjikan ampunan bagi siapa saja yang menunaikannya dengan iman dan penuh harap. Karena […]

expand_less