Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Istidraj dalam Islam: Nikmat yang Menipu Jiwa

Istidraj dalam Islam: Nikmat yang Menipu Jiwa

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
  • visibility 96
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf: 182:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamụn

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”

Pada suatu masa yang terasa semakin dekat, manusia memuja dunia dan gemerlapnnya lebih daripada suara hati. Gedung-gedung menjulang, transaksi melesat dalam hitungan detik, dan nama seseorang melambung karena satu konten viral. Namun di balik sorak sorai itu, ayat ini bergetar pelan, seperti bisikan langit yang jarang didengar.

Baca juga: 5 Hal yang Membatalkan Puasa, Nomor 1 Jarang Disadari

Istidraj bukan sekadar azab. Sebaliknya, ia adalah penangguhan yang lembut. Allah memberi, menambah, melapangkan, bahkan memudahkan jalan dunia seseorang. Akan tetapi, kenikmatan itu tidak selalu berarti cinta. Kadang justru menjadi tangga yang menurun, bukan menaik.

Seseorang meraih kekayaan tanpa henti, lalu merasa dirinya aman. Ia sehat, dipuji, dan diikuti jutaan orang. Karena itu, ia menyangka dirinya diridhai. Padahal bisa jadi ia sedang ditarik perlahan, setapak demi setapak, menuju titik yang tak pernah ia bayangkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila engkau melihat Allah memberi dunia kepada seorang hamba atas maksiat yang ia lakukan, maka itu adalah istidraj.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menampar kesadaran kita. Sebab sering kali manusia mengukur kemuliaan dengan materi. Padahal ukuran langit berbeda. Dunia bisa menjadi ujian dalam bentuk kekurangan. Namun lebih sering, ia menjadi ujian dalam bentuk kelimpahan.

Jalan Sunyi yang Tak Disadari

Istidraj bekerja dalam diam. Tidak ada tanda bahaya yang berkedip. Tidak ada gemuruh yang memperingatkan. Justru semuanya terasa baik-baik saja. Karena itu, banyak orang tertipu oleh stabilitas hidupnya sendiri.

Imam Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata,

“Barang siapa dilapangkan dunia untuknya sementara ia terus bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.”

Di sinilah letak getirnya. Seseorang merasa doanya terkabul karena bisnisnya berkembang. Ia merasa hidupnya diberkahi karena hartanya bertambah. Namun ia jarang sujud, lalai bersyukur, dan enggan bertobat. Ia tidak sadar bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan kembali semakin menipis.

Di era mendatang—yang sebenarnya sudah kita pijak—manusia membangun citra lebih cepat daripada membangun jiwa. Mereka merawat reputasi, tetapi membiarkan hati retak. Mereka takut kehilangan pengikut, tetapi tidak takut kehilangan petunjuk.

Istidraj tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia hadir dengan kemewahan, tepuk tangan, dan validasi sosial. Karena itu, seseorang jarang merasa terancam. Ia justru merasa dipilih. Padahal mungkin ia sedang ditangguhkan untuk sebuah perhitungan yang lebih berat.

Allah menegaskan bahwa kebinasaan itu datang “dari arah yang tidak mereka ketahui.” Artinya, manusia tidak menyadari prosesnya. Ia tertawa hari ini, lalu esoknya terjatuh dalam kehinaan yang tak pernah ia sangka.

Antara Rahmat dan Perangkap

Lalu bagaimana membedakan nikmat dan istidraj?

Baca juga: Cara Food Prep Agar Tahan Seminggu

Pertama, lihatlah dampaknya pada hati. Jika kenikmatan membuat seseorang semakin tunduk, semakin takut kepada Allah, dan semakin gemar berbuat baik, maka itu rahmat. Namun jika kenikmatan membuatnya angkuh, meremehkan dosa, dan merasa aman dari azab, maka ia harus gemetar.

Kedua, perhatikan hubungan dengan Al-Qur’an. Apakah semakin dekat atau justru semakin jauh? Sebab cahaya wahyu tidak pernah menipu.

Dalam dunia yang serba cepat, manusia sering mengira penundaan hukuman berarti pengampunan. Padahal belum tentu. Penangguhan bisa menjadi strategi Ilahi agar kejatuhan terjadi dalam kondisi paling menyakitkan.

Karena itu, para ulama selalu mengajarkan muhasabah. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Nasihat ini terasa semakin relevan. Sebab istidraj tidak menyasar orang yang sadar dan terus memperbaiki diri. Ia lebih mudah menjangkiti mereka yang merasa sudah cukup baik.

Maka, sebelum langit benar-benar menutup pintu kesempatan, setiap jiwa perlu bertanya: apakah nikmat yang aku rasakan mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkan?

Istidraj adalah peringatan yang halus namun tajam. Ia menyayat tanpa darah, memanggil tanpa suara. Dan hanya hati yang hidup yang mampu merasakannya.

Semoga kita tidak termasuk mereka yang tertawa dalam kelalaian, lalu terbangun saat semuanya telah terlambat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Sam ani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • tanggap darurat Garut.

    Pemkab Garut Perpanjang Tanggap Darurat demi Pulihkan Akses Warga

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Pemkab memperpanjang tanggap darurat Garut 14 hari untuk percepatan penanganan longsor, banjir, dan pergeseran tanah. albadarpost.com, LENSA – Pemkab Garut kembali memperpanjang status tanggap darurat Garut selama 14 hari setelah rangkaian bencana hidrometeorologi masih terjadi dan penanganan infrastruktur rusak belum sepenuhnya selesai. Perpanjangan ini menjadi langkah penting untuk memastikan akses warga tidak kembali terputus dan […]

  • Orang terkaya di Indonesia

    Deretan Orang Terkaya di Indonesia Akhir Oktober 2025 Versi Bloomberg: Prajogo Pangestu Masih di Puncak

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Sembilan orang terkaya di Indonesia versi Bloomberg akhir Oktober 2025, dua di antaranya tembus 100 besar dunia. Prajogo Pangestu Pimpin Daftar Orang Terkaya di Indonesia albadarpost.com, PERSPEKTIF – Bloomberg Billionaires Index akhir Oktober 2025 kembali merilis daftar orang terkaya di dunia, dan sembilan nama asal Indonesia masuk dalam deretan 500 besar. Dua di antaranya bahkan […]

  • jembatan rusak

    Jembatan Rusak Tak Diperbaiki, Warga Cianjur Masih Menyeberang Sungai Deras

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Jembatan rusak di Cianjur tak kunjung dibangun, warga terpaksa menyeberangi Sungai Cibuni dengan rakit setiap hari. albadarpost.com, LENSA – Ratusan warga di perbatasan Kecamatan Cijati dan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, kembali mempertaruhkan nyawa setiap hari. Akses vital antar-desa terputus karena jembatan rusak yang hancur sejak empat tahun lalu, memaksa mereka menyeberangi Sungai Cibuni menggunakan rakit kayu. […]

  • Ilustrasi 4 Sifat Wajib Rasul: Sidiq Amanah Tabligh Fathonah sebagai teladan kepemimpinan Islam.

    Sidiq Amanah Tabligh Fathonah: Teladan Kepemimpinan

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 112
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Empat Sifat Wajib Rasul—yakni Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah—menjadi fondasi utama dalam memahami karakter nabi dan rasul dalam Islam. Empat sifat rasul ini bukan sekadar konsep teologis, melainkan teladan kepemimpinan dan akhlak mulia yang relevan sepanjang zaman. Melalui sifat jujur, terpercaya, menyampaikan kebenaran, serta cerdas dan bijaksana, para rasul menunjukkan standar moral […]

  • Suasana pelaksanaan UABN MDT 2026 di Madrasah Diniyah Al-Mansuriah Sinagar Sukaratu Tasikmalaya.

    UABN MDT Sukaratu 2026 Resmi Berakhir, 93 Siswa Ikuti Ujian Diniyah

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pelaksanaan UABN MDT Sukaratu Tahun Pelajaran 2025–2026 resmi berakhir pada Kamis (7/5/2026). Ujian Akhir Bersama Nasional Madrasah Diniyah Takmiliyah jenjang Ula tersebut berlangsung selama empat hari dengan suasana tertib, khidmat, dan penuh semangat belajar dari para siswa. Kegiatan ujian dipusatkan di Madrasah Diniyah Al-Mansuriah Sinagar, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, di […]

  • Ilustrasi seseorang duduk tenang di tengah kota modern sebagai simbol tasawuf modern dan pencarian ketenangan batin

    Tasawuf Modern: Jalan Tenang di Tengah Hidup yang Bising

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tasawuf modern perlahan kembali dicari. Di tengah kehidupan yang semakin cepat, manusia mulai lelah mengejar banyak hal, tetapi tetap merasa kosong. Spiritualitas Islam, terutama tasawuf, hadir bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai jalan pulang—jalan untuk menenangkan hati yang terlalu lama sibuk dengan dunia. Pertanyaannya bukan lagi apakah tasawuf relevan. Melainkan, apakah manusia modern […]

expand_less