Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » 5 Hal yang Membatalkan Puasa, Nomor 1 Jarang Disadari

5 Hal yang Membatalkan Puasa, Nomor 1 Jarang Disadari

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 220
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, LIFESTYLE – Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa merupakan ibadah yang memiliki syarat dan ketentuan jelas dalam syariat. Karena itu, setiap muslim wajib memahami apa saja yang membatalkan puasa agar ibadahnya tetap sah hingga waktu berbuka.

Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa perkara yang secara tegas membatalkan puasa. Dalilnya bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta ijma’ (kesepakatan) ulama.

1. Murtad (Keluar dari Islam)

Perkara pertama yang membatalkan puasa adalah murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 65:

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan gugur seluruh amalmu.”

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh amal, termasuk puasa, gugur apabila seseorang keluar dari Islam. Karena itu, keimanan menjadi fondasi sahnya seluruh ibadah. Tanpa iman, ibadah tidak bernilai di sisi Allah.

2. Haid

Haid juga membatalkan puasa. Wanita yang mengalami haid tidak boleh melanjutkan puasa pada hari tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa wanita haid tidak melaksanakan sholat dan puasa, lalu mengganti puasanya setelah suci.

Baca juga: Setiap Anak Singapura Dapat 500 Dolar dari Pemerintah

Karena itu, ketika darah haid keluar meskipun menjelang maghrib, puasa hari itu tetap batal dan wajib diqadha.

3. Nifas

Selain haid, nifas juga membatalkan puasa. Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Hukumnya sama dengan haid dalam perkara puasa dan sholat.

Para ulama sepakat bahwa wanita nifas tidak sah berpuasa hingga darah berhenti dan ia suci. Setelah itu, ia wajib mengganti puasa yang ditinggalkan.

4. Melahirkan

Melahirkan termasuk pembatal puasa karena umumnya disertai keluarnya darah nifas. Bahkan jika darah tidak langsung keluar, kondisi fisik yang lemah membuat wanita mendapat keringanan syariat.

Dalam fikih, kondisi ini masuk dalam kategori uzur syar’i yang mengharuskan puasa dihentikan. Setelah pulih, kewajiban qadha tetap berlaku.

5. Gila (Hilang Akal)

Puasa juga batal apabila seseorang kehilangan akal atau menjadi gila. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai sadar.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang hilang akal tidak terkena beban syariat. Karena itu, apabila kegilaan terjadi sepanjang hari, puasa tidak sah.

Namun apabila gangguan hanya sesaat dan ia kembali sadar, maka puasanya tetap sah selama ia memenuhi syarat dan rukun puasa.

Tidur Seharian Tidak Membatalkan Puasa

Banyak orang mengira tidur sepanjang hari membatalkan puasa. Padahal anggapan tersebut keliru. Tidur tidak membatalkan puasa selama seseorang tetap dalam keadaan sadar ketika waktu sahur dan berbuka.

Hadis di atas justru menegaskan bahwa orang tidur tidak terbebani hingga ia bangun. Karena itu, meskipun seseorang tidur hampir seharian, puasanya tetap sah selama ia tidak melakukan pembatal puasa lainnya.

Meski demikian, para ulama mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari pembatal. Puasa juga bertujuan membentuk ketakwaan sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183.

Baca juga: Sejarah Valentine dalam Perspektif Islam

Karena itu, waktu siang Ramadhan sebaiknya diisi dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan. Tidur berlebihan memang tidak membatalkan, namun bisa mengurangi nilai spiritual puasa.

Memahami Fikih Agar Ibadah Tidak Sia-Sia

Pemahaman tentang pembatal puasa sangat penting. Kesalahan kecil bisa berakibat pada kewajiban qadha bahkan dosa jika dilakukan dengan sengaja.

Karena itu, setiap muslim perlu mempelajari dasar fikih puasa sejak awal Ramadhan. Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih tenang dan terarah.

Pada akhirnya, menjaga puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menjaga iman, kesucian diri, serta kesehatan akal. Dengan memahami lima pembatal puasa ini, umat Islam dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan lebih yakin dan benar sesuai tuntunan syariat. (GZ)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mitigasi Kekeringan

    Kemarau Mengintai, Tasikmalaya Siapkan Tiga Langkah Antisipasi

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 113
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Musim kemarau belum mencapai puncaknya. Namun ancaman yang menyertainya mulai menjadi perhatian. Mitigasi kekeringan kini menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya pasokan air bersih, tetapi juga berpotensi memengaruhi lahan pertanian serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berangkat dari potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya […]

  • Suasana Muslim berbuka puasa di Islandia saat Ramadhan dengan durasi puasa hampir 20 jam di bawah langit senja panjang.

    Ramadhan di Islandia: Puasa 20 Jam di Negeri Matahari Tak Terbenam

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 213
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Puasa 20 Jam Islandia menjadi fenomena nyata setiap Ramadhan di negara Nordik tersebut. Ramadhan di Islandia identik dengan puasa hampir 20 jam, bahkan di beberapa tahun bisa mendekati 21 jam ketika musim panas tiba. Durasi puasa ekstrem di Islandia terjadi karena posisi geografisnya yang dekat Lingkar Arktik sehingga matahari bersinar sangat lama. […]

  • puasa pekerja migran Singapura

    Maghrib Masih Kerja: Kisah Astuti Puasa di Singapura

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 198
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Ketika azan maghrib berkumandang di banyak tempat, sebagian orang sudah duduk bersama keluarga di meja makan. Namun bagi sebagian pekerja migran Indonesia di Singapura, momen berbuka puasa sering datang di tengah pekerjaan yang belum selesai. Itulah yang dialami Astuti, pekerja migran asal Cilacap, Jawa Tengah. Selama lebih dari dua puluh tahun bekerja […]

  • Learning Loss

    Nilai TKA Rendah: Learning Loss dan Kesenjangan Sekolah

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Nilai TKA rendah mencerminkan learning loss dan kesenjangan struktural pendidikan yang belum tertangani secara sistemik. albadarpost.com, HUMANIORA – Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang rendah di berbagai daerah tidak dapat dipahami sekadar sebagai kegagalan siswa dalam menjawab soal. Data hasil TKA justru membuka persoalan yang lebih dalam: masalah struktural pendidikan nasional yang belum tertangani secara […]

  • Nyangku Panjalu

    Mengapa Nyangku Panjalu Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman?

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 7
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH — Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, Nyangku Panjalu masih menemukan tempatnya di tengah masyarakat. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu kembali digelar di Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin, 7 September 2026. Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu tahun ini mengangkat tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan […]

  • suasana ulama dan santri berdoa bersama

    Penuh Makna, Ini Doa Hari Lahir Pancasila yang Diamalkan Para Ulama

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 199
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebagian mengikuti upacara bendera, sebagian mengunggah ucapan di media sosial, dan sebagian lainnya menjalani hari seperti biasa. Namun di banyak pesantren, majelis taklim, dan lingkungan ulama Nusantara, doa Hari Lahir Pancasila tetap menjadi tradisi yang hidup hingga hari ini. Pada pagi 1 […]

expand_less