Mengejutkan! Krisis Konten Lokal Priangan Timur, KPID Jabar Buka Data
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua KPID Provinsi Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet, S. IP., M. Si.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Konten lokal Priangan Timur belum benar-benar menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat justru lebih banyak mengonsumsi konten dari luar. Situasi ini dinilai mulai berdampak pada perubahan pola sosial dan budaya.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengungkap kondisi tersebut dalam forum Nyemah Atikan Penyiaran di Bale Priangan Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan lagi soal kepatuhan lembaga penyiaran, melainkan soal daya saing konten.
“Lembaga penyiaran sudah relatif patuh. Tapi mereka tidak bisa sendirian menghadapi disfungsi informasi yang menggempur kebudayaan,” ujarnya.
Pernyataan itu menandai pergeseran tantangan: dari regulasi ke substansi konten.
Konten Lokal Tertinggal di Rumah Sendiri
Di lapangan, fenomena ini terasa nyata. Konten lokal yang seharusnya menjadi identitas daerah justru kalah populer dibanding konten digital global.
Masyarakat, terutama generasi muda, lebih akrab dengan tren luar daripada narasi lokal. Akibatnya, ruang budaya perlahan menyempit.
Padahal, konten lokal tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Ia juga memuat nilai, identitas, dan cara pandang masyarakat.
Ketika konten tersebut melemah, dampaknya meluas.
Bukan hanya pada media, tetapi juga pada cara masyarakat berinteraksi.
Riset KPID: Pergeseran Nilai Sosial Terjadi
Temuan KPID Jabar memperkuat indikasi tersebut. Melalui riset terhadap 601 responden di enam klaster, termasuk Priangan Timur, terlihat perubahan yang cukup signifikan.
Lebih dari 50 persen responden menyatakan media sosial telah memengaruhi nilai budaya.
Perubahan itu terlihat pada beberapa aspek:
- Nilai someah mulai berkurang
- Gotong royong tidak sekuat sebelumnya
- Kolektivitas bergeser ke arah individual
Selain itu, pola interaksi juga berubah. Masyarakat kini lebih banyak berkomunikasi melalui perangkat digital dibanding tatap muka langsung.
Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Perubahan berlangsung perlahan, namun konsisten.
Kolaborasi Jadi Jalan Keluar
Menghadapi situasi ini, KPID Jabar tidak tinggal diam. Mereka mulai membangun kolaborasi dengan Asosiasi Pers Mahasiswa.
Langkah ini diarahkan untuk memperkuat produksi konten lokal berbasis generasi muda.
“Teman-teman pers mahasiswa diharapkan bisa mengembangkan program lokal untuk sistem siaran jaringan,” kata Adiyana.
Pendekatan ini dinilai strategis. Selain memahami dinamika lokal, mahasiswa juga lebih dekat dengan tren media digital.
Dengan demikian, konten lokal bisa dikemas lebih relevan tanpa kehilangan nilai budaya.
Benteng Budaya Tidak Bisa Berdiri Sendiri
Adiyana menegaskan bahwa menjaga budaya tidak bisa dibebankan pada satu lembaga. Tantangan yang ada terlalu besar untuk dihadapi sendiri.
“Benteng itu bukan hanya KPID atau lembaga penyiaran, tapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah, media, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing.
Tanpa kolaborasi, upaya penguatan konten lokal akan berjalan lambat.
Di Antara Ancaman dan Peluang
Meski menghadirkan tantangan, media sosial sebenarnya juga membuka peluang. Platform digital dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat konten lokal jika dimanfaatkan dengan tepat.
Namun, tanpa strategi yang jelas, konten lokal akan terus kalah bersaing.
Karena itu, dibutuhkan pendekatan baru. Bukan sekadar mempertahankan nilai lama, tetapi juga menyesuaikan cara penyampaian dengan kebiasaan audiens saat ini.
Di titik ini, kreativitas menjadi kunci.
Priangan Timur di Titik Kritis
Situasi Priangan Timur saat ini bisa disebut berada di titik kritis. Di satu sisi, ada kekayaan budaya yang kuat. Di sisi lain, ada tekanan besar dari arus informasi global.
Jika tidak segera direspons, ketimpangan ini akan semakin melebar.
Sebaliknya, jika momentum ini dimanfaatkan, Priangan Timur justru bisa menjadi contoh penguatan konten lokal berbasis kolaborasi.
Waktu untuk Bergerak
Sorotan KPID Jabar menjadi sinyal penting. Ketika lebih dari separuh masyarakat merasakan perubahan nilai, maka langkah konkret tidak bisa ditunda.
Konten lokal perlu diperkuat. Kolaborasi harus diperluas. Strategi komunikasi perlu diperbarui.
Untuk saat ini, kesadaran sudah mulai tumbuh.
Pertanyaannya, siapa yang bergerak lebih dulu. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar