Breaking News
light_mode
Beranda » Perspektif » Fiqih Salat Jumat: Tiga Perdebatan yang Tak Pernah Selesai

Fiqih Salat Jumat: Tiga Perdebatan yang Tak Pernah Selesai

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 136
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Fiqih Salat Jumat, hukum Salat Jumat, dan syarat Salat Jumat masih menjadi pembahasan yang sering muncul di tengah masyarakat Indonesia. Dari persoalan jumlah minimal jamaah, pelaksanaan dua Jumat dalam satu wilayah, hingga Jumat di sekolah atau pesantren, perbedaan pendapat para ulama kerap menjadi bahan diskusi yang tidak pernah benar-benar usai.

Menjelang azan Jumat, suasana di banyak masjid kampung sering memperlihatkan pemandangan yang hampir sama. Beberapa jamaah datang tergesa-gesa sambil membawa helm motor yang belum sempat disimpan ke bagasi. Di saf belakang, ada yang masih merapikan sarung ketika khatib sudah naik ke mimbar. Sementara di dekat pintu masjid, pengurus terkadang menghitung jumlah jamaah yang hadir satu per satu.

Bagi sebagian orang, hitungan itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi sebagian masjid di daerah tertentu, angka tersebut bisa menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan Salat Jumat menurut pendapat fiqih yang mereka pegang.

Ketika Jumlah Jamaah Tidak Mencapai 40 Orang

Perdebatan pertama yang paling sering muncul berkaitan dengan jumlah jamaah.

Mazhab Syafi’i yang menjadi pegangan mayoritas umat Islam di Indonesia mensyaratkan minimal 40 laki-laki mukallaf, merdeka, dan menetap agar Salat Jumat dapat dilaksanakan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”

(QS. Al-Jumu’ah: 9)

Dalam praktiknya, persoalan ini tidak selalu sederhana.

Di sejumlah kampung yang banyak ditinggalkan generasi mudanya untuk bekerja di kota besar, jumlah jamaah laki-laki dewasa terkadang terus menyusut. Ada masjid yang setiap pekan harus memastikan jumlah jamaah tetap mencukupi sebelum khutbah dimulai.

Tidak jarang pula muncul pertanyaan di grup WhatsApp DKM ketika musim panen atau musim perantauan tiba.

“Kalau yang hadir hanya 32 orang bagaimana?”

“Apakah harus Zuhur atau tetap Jumat?”

Pertanyaan seperti itu terus berulang dari tahun ke tahun.

Sementara itu, sebagian ulama dari mazhab lain memiliki pandangan yang lebih longgar mengenai jumlah minimal jamaah. Karena itulah forum bahtsul masail di berbagai pesantren sering membahas persoalan ini untuk mencari solusi sesuai kondisi masyarakat setempat.

Dua Salat Jumat dalam Satu Desa, Masih Jadi Perdebatan

Persoalan kedua berkaitan dengan pelaksanaan lebih dari satu Salat Jumat dalam satu wilayah.

Pada masa lalu, banyak ulama menganggap pelaksanaan Jumat sebaiknya dipusatkan dalam satu tempat agar syiar Islam dan persatuan umat lebih terlihat.

Namun kondisi masyarakat saat ini jauh berbeda.

Di sejumlah kota besar, halaman masjid sering penuh bahkan sebelum khutbah dimulai. Sebagian jamaah menggelar sajadah di teras. Sebagian lagi terpaksa mencari tempat di bawah tenda darurat yang dipasang pengurus.

Ketika cuaca panas, kipas angin besar berputar tanpa henti. Saat hujan turun, suara tetesan air kadang bercampur dengan suara khutbah dari pengeras suara.

Dalam kondisi seperti itu, banyak ulama kontemporer membolehkan adanya lebih dari satu pelaksanaan Jumat apabila kebutuhan memang mengharuskannya.

Allah SWT berfirman:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini sering menjadi dasar pertimbangan ketika para ulama membahas kebutuhan masyarakat modern yang terus berkembang.

Jumat di Sekolah dan Pesantren, Sah atau Tidak?

Perdebatan berikutnya berkaitan dengan pelaksanaan Jumat di sekolah, kampus, atau pesantren.

Menjelang pukul 12 siang di sejumlah pesantren, para santri biasanya mulai memenuhi masjid atau aula. Ada yang masih membawa kitab kuning di tangan. Ada pula yang berlari kecil dari asrama karena takut terlambat.

Di beberapa sekolah, petugas kebersihan bahkan masih terlihat merapikan halaman ketika jamaah mulai berdatangan. Suara bel sekolah baru saja berhenti beberapa menit sebelumnya.

Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan pendidikan Islam di Indonesia.

Mayoritas ulama membolehkan pelaksanaan Jumat di sekolah atau pesantren selama syarat dan rukun Jumat terpenuhi serta terdapat kebutuhan yang jelas.

Rasulullah SAW bersabda:

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.”

(HR. Bukhari)

Karena itu, selama tata cara pelaksanaannya sesuai syariat, banyak ulama memandang Jumat di lingkungan pendidikan tetap sah.

Mengapa Perdebatan Ini Terus Muncul?

Menariknya, tiga persoalan tersebut hampir selalu muncul kembali setiap tahun.

Kadang dibahas setelah khutbah selesai. Kadang muncul dalam pengajian. Dan kadang ramai di media sosial setelah seseorang mengunggah pertanyaan sederhana.

Yang diperdebatkan sebenarnya bukan hanya soal angka atau lokasi.

Sering kali yang muncul adalah kegelisahan masyarakat. Mereka ingin memastikan ibadah yang dilakukan benar-benar sesuai tuntunan agama.

Tidak semua orang membaca kitab fiqih. Tidak semua jamaah memahami perbedaan pendapat para ulama. Namun hampir semua orang memiliki keinginan yang sama: jangan sampai ibadah yang dilakukan ternyata keliru.

Di situlah pentingnya peran ulama, guru ngaji, dan lembaga fatwa untuk memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus mencerahkan.

Karena pada akhirnya, tujuan Salat Jumat bukan sekadar memenuhi syarat sah. Jumat adalah momen ketika umat Islam berhenti sejenak dari urusan dunia, lalu berkumpul untuk mengingat Allah SWT.

Mungkin perdebatan tentang 40 jamaah tidak akan selesai hari ini. Bisa jadi lima tahun lagi persoalan yang sama kembali dibahas. Mungkin juga muncul masalah-masalah baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Namun setiap kali azan Jumat berkumandang, saf mulai dirapatkan, dan khatib berdiri di atas mimbar, sebagian besar jamaah datang dengan niat yang sederhana.

Mereka meninggalkan pekerjaan, menutup toko, mematikan mesin, atau menghentikan aktivitas sejenak. Bukan untuk memenangkan perdebatan fiqih.

Melainkan untuk memenuhi panggilan Allah.

Pada akhirnya, perbedaan pendapat mungkin tetap ada. Tetapi ketika dahi menyentuh sajadah pada hari Jumat, tidak ada yang lebih penting daripada satu harapan yang sama: semoga Allah menerima ibadah kita, meski ilmu kita belum sempurna dan pemahaman kita masih terus belajar. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pohon Tumbang Ciamis

    Pohon Tumbang Ciamis Rusak Dua Rumah Warga

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • account_circle redaktur
    • visibility 13
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pohon tumbang Ciamis akibat angin kencang merusak dua rumah warga di Dusun Sompok, Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Sabtu (25/7/2026). Peristiwa pohon tumbang yang dipicu cuaca ekstrem itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian rumah dengan total kerugian material diperkirakan mencapai Rp30 juta. Meski bangunan mengalami kerusakan, tidak ada korban jiwa maupun […]

  • Iran Amerika berunding

    Rahasia Iran “Paksa” Amerika Hingga Mau Berunding

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 164
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Iran vs Amerika kembali jadi sorotan dunia. Ketegangan meningkat, tekanan politik menguat, dan retorika keras terus bermunculan. Namun, di tengah konflik yang terlihat tajam, muncul fakta menarik: kedua negara justru membuka ruang dialog. Dalam konteks ini, konflik Iran Amerika, ketegangan Timur Tengah, dan strategi geopolitik global menjadi satu paket isu yang […]

  • tawon endas Bekasi

    Dua Bocah Diserang Tawon Endas di Bekasi, Satu Tewas dan Satu Luka Berat

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Tragedi tawon endas Bekasi: dua bocah diserang kawanan Vespa Affinis, satu tewas, satu dirawat intensif. Tragedi Tawon Endas Bekasi: Satu Bocah Tewas, Satu Kritis albadarpost.com, LENSA – Kejadian memilukan menimpa dua bocah kakak beradik di Kampung Piket, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Keduanya diserang puluhan tawon endas Bekasi atau Vespa Affinis saat pulang bersama […]

  • Perubahan desa digital Krandegan dari kondisi sederhana menjadi desa modern dengan layanan publik berbasis teknologi

    Dulu Tak Bisa Komputer, Kini Jadi Desa Digital Nasional: Kisah Krandegan

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 128
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di sebuah sudut Kabupaten Purworejo, ada satu desa yang dulu bahkan belum akrab dengan komputer. Tahun 2013, Desa Krandegan masuk kategori desa miskin. Perangkat desanya berjumlah belasan orang—dan tidak satu pun mampu mengoperasikan komputer. Namun hari ini, desa itu dikenal sebagai desa digital. Transformasi digitalisasi desa dan perubahan berbasis teknologi bukan lagi […]

  • Ilustrasi ASN bekerja dari rumah dengan laptop untuk kebijakan WFH ASN guna menghemat BBM nasional

    WFH ASN Hemat BBM? Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 171
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – WFH ASN mendadak jadi perbincangan panas. Banyak yang mengira kebijakan ini sudah resmi dan siap diterapkan. Padahal, wacana WFH ASN atau kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara—termasuk istilah lain seperti work from anywhere (WFA ASN)—masih berada di tahap kajian. Namun demikian, isu ini langsung viral karena dikaitkan dengan upaya hemat BBM […]

  • kepala ikan kuah kuning dengan bumbu kunyit dan rempah khas Indonesia disajikan hangat di meja makan sederhana

    Cara Masak Kepala Ikan Kuah Kuning Anti Amis, Dijamin Nagih!

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 170
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Resep kepala ikan kuah kuning menjadi salah satu hidangan tradisional yang selalu menggoda selera. Olahan kepala ikan kuah kuning ini terkenal dengan cita rasa gurih, segar, dan kaya rempah. Banyak orang mencari cara memasak kepala ikan kuah kuning agar tidak amis dan tetap nikmat, karena di situlah letak tantangannya. Selain itu, hidangan […]

expand_less