Dulu Tak Bisa Komputer, Kini Jadi Desa Digital Nasional: Kisah Krandegan
- account_circle redaktur
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi tampilan website Desa Krandegan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, PERSPEKTIF – Di sebuah sudut Kabupaten Purworejo, ada satu desa yang dulu bahkan belum akrab dengan komputer. Tahun 2013, Desa Krandegan masuk kategori desa miskin. Perangkat desanya berjumlah belasan orang—dan tidak satu pun mampu mengoperasikan komputer.
Namun hari ini, desa itu dikenal sebagai desa digital. Transformasi digitalisasi desa dan perubahan berbasis teknologi bukan lagi wacana di sana. Ia hidup, digunakan setiap hari, dan dirasakan langsung oleh warganya.
Perubahan ini tidak datang dari kemewahan. Ia lahir dari keterbatasan.
Ketika Keterbatasan Justru Jadi Titik Awal
Krandegan tidak memulai dari kondisi ideal. Pelayanan publik masih manual. Informasi berjalan lambat. Akses teknologi hampir tidak ada.
Namun di tengah keterbatasan itu, muncul satu keputusan penting: berubah.
Perubahan dimulai perlahan. Belajar teknologi dari nol. Membangun sistem sederhana. Mengubah cara kerja yang sudah bertahun-tahun berjalan.
Prosesnya tidak cepat. Bahkan tidak mudah. Tetapi langkah kecil itu terus dijaga.
Hingga akhirnya, hasilnya mulai terlihat.
Lompatan yang Tak Banyak Disangka
Dalam waktu kurang dari satu dekade, Krandegan mengalami lonjakan yang sulit dipercaya.
Tahun 2020, desa ini mulai meraih penghargaan. Tahun 2022, statusnya berubah menjadi desa mandiri. Lalu sejak 2023 hingga sekarang, Krandegan dikenal sebagai salah satu percontohan desa digital di Indonesia.
Yang berubah bukan hanya status. Cara hidup masyarakat juga ikut berubah.
Warga tidak lagi harus datang ke kantor desa untuk mengurus administrasi. Layanan bisa diakses secara digital. Informasi terbuka. Proses menjadi cepat.
Dan yang paling terasa: masyarakat mulai terbiasa dengan teknologi.
Desa Digital: Bukan Sekadar Internet
Banyak orang mengira desa digital hanya soal jaringan internet. Namun Krandegan menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Teknologi di sana benar-benar digunakan untuk menjawab kebutuhan warga.
Sistem pelayanan online seperti SiPolgan mempermudah urusan administrasi. Portal desa membuka akses informasi. Bahkan keamanan lingkungan didukung CCTV online dan panic button.
Selain itu, teknologi juga masuk ke sektor lain. Pertanian mulai memanfaatkan IoT. Lingkungan dipantau dengan sistem peringatan dini. Komunikasi warga terhubung melalui kanal digital.
Dalam empat bulan saja hingga April 2026, akses layanan digital desa ini mencapai sekitar 1,4 juta kunjungan. Angka yang tidak kecil untuk ukuran desa.
Transparansi yang Mengubah Kepercayaan
Salah satu perubahan paling terasa adalah keterbukaan.
Anggaran desa, kegiatan, hingga keputusan pemerintah dapat diakses publik. Warga tidak lagi hanya menerima informasi, tetapi bisa ikut mengawasi.
Akibatnya, kepercayaan tumbuh. Partisipasi meningkat. Desa tidak lagi berjalan satu arah.
Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi bukan hanya alat, tetapi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
Regulasi Membuka Jalan, Keberanian Menentukan Hasil
Transformasi seperti ini tidak berdiri sendiri. Ada kebijakan yang mendorong desa untuk berkembang.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberi ruang kemandirian.
Prioritas Dana Desa membuka peluang inovasi.
Program Kemendes PDT (12 Aksi Prioritas) mendorong digitalisasi desa sebagai bagian pembangunan nasional.
Namun regulasi hanya membuka jalan. Yang menentukan hasil tetap pada keberanian untuk melangkah.
Krandegan memilih untuk melangkah.
Desa Lain Bisa, Jika Berani Memulai
Kisah Krandegan memberi pesan sederhana: tidak ada desa yang terlalu tertinggal untuk berubah.
Perbedaan bukan pada kondisi awal, tetapi pada keputusan untuk bergerak.
Digitalisasi desa bukan soal siapa yang paling siap. Justru sering dimulai oleh mereka yang berani mencoba.
Dan ketika langkah pertama diambil, perubahan mulai menemukan jalannya.
Krandegan membuktikan satu hal yang sering dilupakan: desa tidak berubah karena sudah siap, tetapi karena berani memulai—dan dari keberanian itulah masa depan dibangun. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar