Kenapa Rasulullah Melarang Tertawa Berlebihan? Ini Penjelasannya
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi sekumpulan orang tertawa di kafe.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Suara tawa pecah di sebuah warung kopi kecil selepas magrib. Beberapa orang duduk melingkar sambil menatap layar ponsel. Video lucu lewat. Disusul video lain. Lalu tawa kembali meledak.
Kadang keras sekali.
Sampai ada yang menepuk meja.
Pemandangan seperti itu sekarang terasa biasa. Di media sosial pun sama. Orang tertawa hampir tanpa jeda. Timeline dipenuhi candaan, meme, parodi, dan hiburan cepat yang terus bergerak. Semua tampak ringan. Semua tampak menyenangkan.
Namun di tengah suasana seperti itu, ada satu hadis Nabi Muhammad SAW yang sering membuat banyak orang tiba-tiba diam.
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”
(HR Tirmidzi)
Kalimat itu pendek. Tetapi entah kenapa terasa menancap.
Sebagian orang mungkin langsung bertanya-tanya. Apakah Islam melarang tertawa? Apakah menjadi ceria dianggap buruk?
Ternyata bukan itu maksudnya.
Rasulullah SAW bukan sosok yang dingin. Beliau justru dikenal ramah dan lembut. Wajahnya sering dihiasi senyum. Para sahabat bahkan merasa nyaman berada di dekat beliau karena sikapnya hangat.
Tetapi Rasulullah memahami sesuatu yang sering luput disadari manusia: hati bisa perlahan keras tanpa terasa.
Dan salah satu tandanya kadang muncul dari tawa yang berlebihan.
Ketika Tawa Tidak Lagi Sekadar Tawa
Dalam kehidupan sehari-hari, tertawa memang terasa menenangkan. Orang yang sedang penat biasanya mencari hiburan. Itu manusiawi.
Namun masalahnya mulai muncul ketika seseorang terlalu tenggelam dalam hiburan sampai kehilangan ruang untuk merenung.
Hari-harinya penuh candaan. Pikirannya sibuk mencari lucu. Hatinya terlalu ramai oleh gelak tawa, tetapi anehnya terasa kosong saat sendirian.
Di situlah para ulama menjelaskan makna hadis tersebut.
Yang diperingatkan Rasulullah bukan senyumnya. Bukan juga kebahagiaannya. Melainkan kondisi hati yang perlahan lalai karena terlalu banyak tertawa tanpa arah.
Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa hati manusia membutuhkan keseimbangan. Ada waktu untuk bergembira, tetapi ada juga waktu untuk diam dan mengingat akhirat.
Sebab hati yang terus-menerus dipenuhi hiburan biasanya sulit peka.
Nasihat masuk sebentar, lalu hilang lagi.
Rasulullah SAW Juga Pernah Bercanda
Menariknya, Rasulullah SAW beberapa kali bercanda dengan para sahabat. Namun candaan beliau tidak pernah berlebihan.
Tidak menyakiti.
Tidak menghina.
Dan tidak dusta.
Dalam sebuah kisah, ada seorang perempuan tua meminta didoakan masuk surga. Rasulullah lalu berkata bahwa di surga tidak ada nenek-nenek. Perempuan itu sempat sedih. Beliau kemudian tersenyum dan menjelaskan bahwa semua penghuni surga akan kembali muda.
Para sahabat tertawa. Tetapi dari candaan itu tetap ada kelembutan.
Ada adab.
Ada pelajaran.
Karena itu, Islam sebenarnya tidak memusuhi kebahagiaan. Islam hanya menjaga agar manusia tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Hari ini, orang bisa tertawa berjam-jam di depan layar, tetapi sulit menangis saat mendengar ayat Al-Qur’an. Itu yang membuat hadis tentang tertawa berlebihan terasa begitu relevan.
Hati yang Sibuk Tertawa Kadang Lupa Pulang
Ada momen ketika seseorang pulang malam setelah seharian sibuk dengan hiburan dan media sosial. Badannya lelah, tetapi pikirannya masih penuh suara.
Video lucu.
Candaan.
Komentar.
Potongan-potongan tawa.
Namun saat suasana mulai sunyi, muncul rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Islam melihat hati manusia lebih dalam dari sekadar ekspresi wajah.
Karena itu Allah SWT berfirman:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
(QS Al-Hadid: 16)
Ayat ini sering membuat banyak orang tersentak. Sebab yang dinilai bukan seberapa sering seseorang tertawa, melainkan apakah hatinya masih hidup ketika mengingat Allah.
Kadang manusia terlihat paling ramai di luar, tetapi paling sepi di dalam.
Bahagia dalam Islam Tidak Dilarang
Islam tidak meminta umatnya menjadi muram sepanjang waktu.
Tidak.
Rasulullah SAW tetap tersenyum. Para sahabat juga bercanda. Anak-anak tetap bermain. Kehidupan tetap berjalan hangat.
Namun Islam mengajarkan satu hal penting: jangan sampai hati mati pelan-pelan hanya karena terlalu sibuk mencari hiburan.
Sebab hati yang hidup biasanya mudah tersentuh.
Mudah bersyukur.
Mudah meminta maaf.
Dan masih bisa menangis dalam doa.
Sedangkan hati yang terlalu keras sering merasa semua baik-baik saja, bahkan ketika dirinya mulai jauh dari Allah.
Mungkin itu sebabnya Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang tertawa berlebihan.
Bukan karena Islam anti bahagia.
Tetapi karena beliau tahu, manusia yang terlalu sibuk tertawa kadang lupa mendengar suara hatinya sendiri.
Dan ketika hati sudah terlalu lama bising, manusia perlahan kehilangan arah tanpa sadar.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras tertawa.
Melainkan siapa yang hatinya tetap hidup saat dunia sedang ramai-ramainya. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar