Tradisi Pesantren Ini Dulu Sangat Dijaga, Kini Mulai Hilang
- account_circle redaktur
- calendar_month 55 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi suasana santri di pesantren salafi pada malam hari.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, CAKRAWALA – Malam di pesantren dulu punya suara yang khas.
Ada bunyi sandal kayu di lorong asrama. Ada suara santri mengulang hafalan pelan-pelan di bawah lampu redup. Dari kejauhan terdengar lembar kitab dibalik cepat, lalu disusul batuk kecil para santri yang masih bertahan mengaji hingga larut malam.
Tradisi pesantren seperti itu pernah menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. Bahkan, budaya santri ikut membentuk cara berpikir masyarakat Nusantara selama ratusan tahun. Namun sekarang, beberapa tradisi lama mulai jarang terlihat, terutama di tengah perubahan zaman dan arus digital yang bergerak cepat.
Padahal, pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Di dalamnya tumbuh budaya hidup sederhana, disiplin, dan penghormatan kepada ilmu yang dulu sangat dijaga.
Pesantren Pernah Menjadi Pusat Perlawanan dan Pendidikan
Dalam sejarah Indonesia, pesantren punya peran yang jauh lebih besar dari sekadar lembaga pendidikan.
Pada masa penjajahan Belanda, banyak pesantren menjadi pusat pergerakan masyarakat. Para kiai tidak hanya mengajarkan fikih dan tafsir, tetapi juga menanamkan keberanian melawan penjajahan.
Data Kementerian Agama menunjukkan pesantren sudah berkembang di Nusantara sejak abad ke-15. Sementara itu, catatan sejarah mencatat banyak tokoh perlawanan lahir dari lingkungan santri, termasuk dalam Resolusi Jihad 1945 yang mendorong perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, tradisi pesantren sebenarnya melekat kuat dengan sejarah bangsa.
Namun ironisnya, sebagian generasi muda sekarang lebih mengenal budaya digital dibanding tradisi santri yang dulu sangat dihormati.
Tradisi “Ngaji Pasaran” yang Mulai Jarang Diminati
Salah satu tradisi pesantren yang mulai memudar adalah ngaji pasaran.
Tradisi ini biasanya berlangsung saat Ramadan. Santri duduk berjam-jam mendengarkan kiai membacakan kitab klasik secara maraton. Suasananya sederhana. Kadang panas. Kadang mengantuk. Tetapi justru di situlah letak nilai perjuangannya.
Dulu, banyak santri rela datang dari luar kota hanya untuk mengikuti pengajian pasaran beberapa minggu.
Sekarang suasananya tak selalu sama lagi. Di sela ngaji, kadang layar ponsel justru lebih terang daripada kitab yang dibaca.
Sebagian anak muda lebih nyaman belajar lewat potongan video singkat di media sosial. Kajian serba cepat memang terasa praktis. Namun proses panjang membaca kitab perlahan mulai ditinggalkan.
Padahal, tradisi pesantren seperti ngaji pasaran melatih kesabaran berpikir dan kedalaman memahami ilmu.
Seorang santri senior di Tasikmalaya pernah bercerita bahwa dulu santri bisa menghabiskan malam tanpa memegang ponsel sama sekali. Mereka duduk melingkar sambil berdiskusi isi kitab hingga menjelang subuh.
Hari ini suasana seperti itu semakin sulit ditemukan.
Budaya Taat dan Hormat kepada Guru Mulai Berubah
Tradisi pesantren juga terkenal karena adabnya.
Santri zaman dulu sangat menjaga sikap di depan guru. Bahkan ada yang memilih berjalan menunduk ketika melewati rumah kiai sebagai bentuk penghormatan.
Nilai seperti itu perlahan mulai bergeser.
Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari. Namun banyak pengasuh pesantren mulai mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menghapus adab dalam mencari ilmu.
Imam Malik pernah berkata:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat dalam.
Di banyak pesantren tradisional, santri dulu tidak hanya diajarkan cara membaca kitab. Mereka juga belajar cara berbicara, menghormati orang tua, hingga menjaga kesederhanaan hidup.
Karena itu, pesantren sebenarnya membentuk karakter, bukan sekadar kecerdasan akademik.
Hidup Sederhana yang Kini Semakin Langka
Ada satu tradisi pesantren yang dulu sangat kuat: hidup sederhana.
Santri terbiasa tidur berdesakan. Mereka mencuci pakaian sendiri, makan bersama, dan berbagi apa yang dimiliki. Bahkan, banyak pesantren lama memiliki aturan ketat soal kesederhanaan.
Namun gaya hidup modern perlahan mengubah banyak hal.
Sekarang tidak sedikit santri yang tumbuh di tengah budaya serba instan. Akibatnya, nilai tirakat dan kesabaran mulai berkurang.
Padahal, kesederhanaan itulah yang dulu melahirkan banyak ulama besar Indonesia.
Berdasarkan data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama 2025, Indonesia memiliki lebih dari 39 ribu pesantren dengan jumlah santri mencapai jutaan orang yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Angka itu menunjukkan pesantren tetap hidup dan berkembang.
Namun tantangan terbesarnya hari ini bukan hanya soal jumlah.
Melainkan bagaimana menjaga ruh tradisi pesantren agar tidak hilang ditelan zaman.
Pesantren dan Masa Depan Generasi Muda
Meski beberapa tradisi mulai memudar, pesantren tetap memiliki peluang besar menjadi benteng moral generasi muda.
Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, banyak orang justru mulai merindukan suasana yang lebih tenang dan sederhana.
Di saat banyak anak muda lelah dengan kebisingan digital, pesantren justru terasa seperti tempat bernapas pelan-pelan.
Ada kedisiplinan. Ada kebersamaan. Dan ada hubungan dekat antara guru dan murid yang kini mulai sulit ditemukan di banyak tempat.
Karena itu, banyak pengamat pendidikan menilai pesantren tetap relevan untuk masa depan Indonesia, terutama dalam membangun karakter anak muda di era modern.
Bukan berarti pesantren harus menolak teknologi.
Sebaliknya, tradisi lama bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman selama nilai dasarnya tetap dijaga.
Mungkin yang mulai hilang hari ini bukan sekadar tradisi pesantren.
Tetapi juga cara manusia menghormati ilmu, menghargai proses, dan menjaga adab dalam kehidupan.
Sebab pesantren sejak dulu tidak hanya melahirkan orang pintar.
Pesantren melahirkan manusia yang tahu bagaimana hidup dengan hati yang sederhana. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar