Pulang Nobar Persib, Remaja Tasikmalaya Tewas Dikeroyok
- account_circle redaktur
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Keluarga MI Ngamuk Lapor Polisi, Selasa(12/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Kasus bobotoh tewas di Tasikmalaya usai menonton bareng pertandingan Persib Bandung kembali menyita perhatian publik. Seorang remaja berinisial MI (18), warga Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal saat perjalanan pulang dari acara nobar laga Bhayangkara FC melawan Persib Bandung.
Peristiwa tragis itu kini resmi dilaporkan ke Polres Tasikmalaya oleh pihak keluarga pada Selasa (12/5/2026). Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/108/V/2026/SPKT/Polres Tasikmalaya/Polda Jawa Barat.
Keluarga korban meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kematian suporter muda tersebut dan segera menangkap para pelaku yang hingga kini belum diketahui identitasnya.
Korban Diduga Dihadang Saat Pulang Dini Hari
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi pada Jumat dini hari, 1 Mei 2026, sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu MI pulang bersama rekannya setelah mengikuti acara nobar pertandingan sepak bola.
Namun ketika melintas di kawasan Kampung Golacir Gunung, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, motor yang mereka kendarai diduga dihadang sekelompok orang.
Situasi jalan saat itu disebut cukup sepi. Di tengah kondisi minim aktivitas warga, korban diduga langsung menjadi sasaran pengeroyokan.
Menurut keterangan keluarga, pelaku memukul korban secara brutal hingga menyebabkan luka serius di bagian kepala dan wajah. Korban sempat tersungkur di jalan sebelum akhirnya warga sekitar datang memberi pertolongan.
Beberapa warga yang mendengar keributan kemudian membantu membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Namun nyawa MI tidak tertolong. Korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 04.30 WIB akibat luka berat yang dialaminya.
Kabar meninggalnya remaja pendukung Persib Bandung itu langsung menyebar cepat di lingkungan tempat tinggalnya. Suasana duka tampak menyelimuti rumah keluarga korban di Kecamatan Taraju.
Kuasa Hukum Keluarga Minta Polisi Bertindak Cepat
Kuasa hukum keluarga korban, Ade Sugiri, menegaskan pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga pelaku berhasil ditangkap.
Ia meminta kepolisian bekerja serius dan terbuka dalam menangani kasus tersebut karena menyangkut hilangnya nyawa seorang remaja.
“Keluarga ingin ada kejelasan. Kami berharap proses penyelidikan berjalan transparan dan para pelaku segera diamankan,” ujar Ade, Selasa (12/5/2026).
Selain itu, pihak keluarga juga meminta aparat tidak menganggap kasus ini sebagai peristiwa biasa. Menurut mereka, tindakan kekerasan yang menyebabkan korban meninggal harus menjadi perhatian serius.
Ade menyebut keluarga masih sangat terpukul atas kejadian tersebut. Korban diketahui berpamitan untuk menonton pertandingan sepak bola bersama teman-temannya, tetapi pulang dalam kondisi tak bernyawa.
“Ini bukan hanya soal sepak bola. Ini soal keselamatan dan nyawa anak muda,” katanya.
Kekerasan Suporter Kembali Jadi Sorotan
Kasus bobotoh tewas di Tasikmalaya kembali memunculkan kekhawatiran terkait kekerasan yang masih membayangi dunia suporter sepak bola.
Ironisnya, kejadian kali ini tidak berlangsung di stadion, melainkan di jalan saat korban pulang dari acara nobar.
Sejumlah warga di sekitar lokasi mengaku terkejut karena kawasan tersebut biasanya relatif sepi pada dini hari. Mereka juga berharap aparat segera mengungkap pelaku agar situasi tetap kondusif.
Di media sosial, kabar meninggalnya MI memicu banyak reaksi dari sesama pendukung Persib Bandung. Banyak warganet menyampaikan belasungkawa sekaligus mendesak penegakan hukum berjalan cepat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Polres Tasikmalaya terkait perkembangan penyelidikan maupun identitas pelaku yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Sementara itu, keluarga korban masih menunggu langkah konkret aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus yang merenggut nyawa anggota keluarga mereka.
Sepak bola seharusnya melahirkan sorak kemenangan, bukan kabar duka. Ketika seorang remaja pulang nobar lalu kehilangan nyawa di jalan gelap, yang tersisa bukan lagi rivalitas—melainkan luka panjang bagi sebuah keluarga. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar