Krisis Sampah Tasikmalaya Meledak, Sukwan Mogok Kerja
- account_circle redaktur
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Persoalan sampah di Kota Tasikmalaya meledak lagi, Selasa(12/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Krisis Sampah Tasikmalaya kembali menjadi sorotan setelah tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik kota dalam beberapa hari terakhir. Persoalan sampah Kota Tasikmalaya itu memuncak saat para sukarelawan pemungut sampah atau sukwan menghentikan aktivitas mereka sebagai bentuk protes terhadap minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan mereka.
Dampaknya langsung terasa. Di beberapa sudut kota, aroma menyengat mulai tercium sejak pagi. Plastik bekas makanan bercampur sampah rumah tangga menumpuk di pinggir jalan. Sejumlah warga bahkan mengeluhkan kondisi lingkungan yang mulai mengganggu aktivitas harian.
Situasi tersebut memicu reaksi keras dari anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi. Ia meminta Pemerintah Kota Tasikmalaya segera mengambil langkah konkret sebelum persoalan berkembang lebih luas.
“Yang paling mendesak sekarang adalah kesejahteraan sukwan. Mereka bekerja di lapangan setiap hari, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan,” kata Kepler saat ditemui di ruang Fraksi DPRD Kota Tasikmalaya.
Sukwan Jadi Garda Terdepan Kebersihan Kota
Menurut Kepler, banyak masyarakat belum memahami posisi para sukwan dalam sistem pengelolaan sampah kota. Selama ini, mereka bekerja secara sukarela tanpa gaji tetap dan hanya mengandalkan hasil memilah sampah yang masih memiliki nilai jual.
Padahal, keberadaan mereka dinilai sangat vital dalam menjaga ritme pengangkutan dan pengurangan sampah di lapangan.
“Kalau mereka berhenti bekerja, dampaknya langsung terasa. Sampah cepat menumpuk dan petugas formal kewalahan,” ujarnya.
Ia menilai persoalan ini tidak bisa terus dianggap sepele. Sebab, ketika pengelolaan sampah terganggu, masyarakat menjadi pihak pertama yang menerima dampaknya.
Selain mengganggu kenyamanan, kondisi lingkungan yang kotor juga berpotensi memicu persoalan kesehatan baru. Terlebih saat cuaca panas, aroma sampah semakin menyengat dan mengundang lalat di sekitar permukiman.
Di beberapa titik pembuangan sementara, warga terlihat mulai menutup hidung ketika melintas. Sebagian lainnya memilih membuang sampah lebih jauh karena lokasi penampungan di dekat rumah sudah penuh.
DPRD Minta Pemkot Jangan Hanya Andalkan Sukarela
Kepler menegaskan Pemerintah Kota Tasikmalaya harus segera menyiapkan kebijakan yang berpihak pada para sukwan. Menurutnya, pemerintah tidak bisa terus mengandalkan semangat sukarela tanpa memberikan kepastian kesejahteraan.
Ia mendorong adanya insentif rutin, jaminan sosial, hingga pelatihan kerja bagi para sukwan agar mereka memiliki perlindungan yang lebih layak.
“Ini bukan sekadar urusan sampah. Ini menyangkut kemanusiaan dan keberlangsungan lingkungan kota,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa krisis sampah beberapa hari terakhir menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran para sukarelawan tersebut.
Ketika mereka mogok, ritme pengangkutan sampah langsung terganggu. Dalam waktu singkat, tumpukan sampah muncul di berbagai titik.
Menurut Kepler, kondisi itu seharusnya menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.
Ancaman Sampah Bisa Terulang Lagi
Kepler juga mengingatkan bahwa persoalan serupa sangat mungkin kembali terjadi jika Pemkot Tasikmalaya tidak segera memperbaiki pola penanganan terhadap sukwan.
Ia menilai selama ini perhatian terhadap para pekerja lapangan masih minim, padahal mereka setiap hari bersentuhan langsung dengan limbah rumah tangga dan kondisi lingkungan yang tidak mudah.
“Kalau kesejahteraan mereka terus diabaikan, kota ini akan terus menghadapi persoalan sampah yang sama,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum situasi semakin parah. Mereka khawatir penumpukan sampah berlangsung lebih lama dan memicu gangguan kesehatan lingkungan.
Persoalan ini juga memunculkan perdebatan di tengah masyarakat soal pentingnya pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, bukan hanya saat krisis terjadi.
Sebab kenyataannya, para sukwan selama ini menjadi lapisan paling depan yang menjaga kota tetap bersih, meski bekerja dengan keterbatasan.
Kini sorotan publik tertuju pada langkah Pemerintah Kota Tasikmalaya. Warga menunggu apakah persoalan ini akan diselesaikan dengan kebijakan nyata atau kembali berakhir sebagai polemik sesaat.
Kota bisa membangun taman, jalan, dan gedung megah. Namun ketika para penjaga kebersihan dibiarkan berjuang sendiri, tumpukan sampah akan selalu menjadi wajah paling jujur dari sebuah krisis. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar