Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Muhammad Jazir dan Warisan Tata Kelola Masjid

Muhammad Jazir dan Warisan Tata Kelola Masjid

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Muhammad Jazir wafat, meninggalkan warisan tata kelola masjid terbuka yang berpihak pada pelayanan dan pemberdayaan umat.

albadarpost.com, HUMANIORA – Tokoh pembaru tata kelola masjid, Muhammad Jazir, wafat di Yogyakarta pada Senin, 22 Desember 2025. Kepergiannya meninggalkan jejak penting dalam perubahan cara masjid berfungsi, dari ruang ibadah tertutup menjadi pusat layanan umat yang inklusif dan berorientasi sosial.

Kabar duka ini menyebar cepat di kalangan takmir, aktivis dakwah, dan jamaah masjid di berbagai daerah. Muhammad Jazir dikenal luas sebagai penggerak Masjid Jogokariyan Yogyakarta, model masjid yang menempatkan tata kelola masjid sebagai instrumen pemberdayaan warga, bukan sekadar pengelolaan bangunan ibadah.

Bagi publik, wafatnya Jazir bukan hanya kehilangan figur, tetapi juga momen refleksi tentang bagaimana masjid dikelola dan sejauh mana rumah ibadah hadir untuk menjawab persoalan sosial umat.

Masjid Terkunci dan Masalah Pengelolaan

Dalam praktik sehari-hari, wajah masjid di banyak tempat masih menyisakan problem serius. Akses dibatasi. Pagar dikunci di luar waktu salat. Toilet digembok. Anak-anak dianggap pengganggu. Jamaah yang kehilangan barang sering kali tak mendapat perlindungan dari pengurus.

Berbagai peristiwa menunjukkan bahwa kekakuan tata kelola masjid dapat berujung pada eksklusi sosial. Konflik antarsesama jamaah, pengusiran karena perbedaan pandangan, hingga kekerasan fisik di ruang ibadah mencerminkan rapuhnya fungsi masjid sebagai ruang aman.

Baca juga: Gubernur Jabar Tetapkan UMP dan UMK 2026

Masalah mendasarnya terletak pada pola manajemen. Banyak masjid dikelola secara tertutup, berbasis senioritas dan relasi personal, tanpa visi tertulis dan program pemberdayaan yang terukur. Transparansi keuangan minim. Fungsi masjid menyempit menjadi rutinitas ibadah lima waktu.

Dalam kerangka ini, keberhasilan masjid sering diukur dari aspek fisik: kebersihan karpet, keawetan bangunan, dan saldo kas. Manusia justru diposisikan sebagai risiko. Maka, akses dibatasi demi menjaga aset.

Pendekatan Muhammad Jazir

Muhammad Jazir hadir sebagai antitesis dari pola tersebut. Ia menempatkan tata kelola masjid sebagai urusan sosial dan kemanusiaan. Bagi Jazir, masjid harus menjadi tempat memecahkan persoalan umat—ekonomi, pendidikan, hingga krisis sosial—bukan sekadar ruang ritual.

Lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962, Jazir tumbuh dalam lingkungan takmir. Latar belakang pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia memberinya bekal untuk merancang sistem pengelolaan masjid yang rapi, terukur, dan berkeadilan.

Kiprahnya melampaui dinding masjid. Ia terlibat dalam berbagai forum keislaman dan kebudayaan, termasuk Pusat Studi Pancasila UGM dan MUI DIY. Namun, kontribusi terbesarnya tetap berada di Masjid Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta.

Masjid sebagai Pusat Layanan Sosial

Masjid Jogokariyan berdiri di kawasan yang secara historis bukan basis santri. Jazir membaca konteks sosial ini dengan pendekatan sosiologis. Ia tidak mengedepankan pendekatan dogmatis, melainkan pelayanan nyata.

Visinya jelas: mengembalikan fungsi masjid seperti pada masa awal Islam, sebagai pusat peradaban. Masjid menjadi balai pertemuan, pusat ekonomi umat, ruang pendidikan, hingga tempat perlindungan sosial.

Baca juga: Pemkot Tasikmalaya Musnahkan Ribuan Miras Ilegal

Program kuncinya adalah “Sensus Masjid”. Jazir dan tim mendata seluruh kepala keluarga di sekitar masjid—kondisi ekonomi, tingkat ibadah, hingga kebutuhan sosial. Data ini menjadi dasar penyusunan program, termasuk distribusi sembako rutin kepada ratusan keluarga.

Pendekatan berbasis data ini menjadikan tata kelola masjid lebih akuntabel dan tepat sasaran. Masjid tidak lagi reaktif, tetapi proaktif dalam melayani umat.

Dampak dan Warisan

Model Jogokariyan memengaruhi banyak masjid di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa keterbukaan, transparansi, dan keberpihakan pada warga justru memperkuat fungsi masjid. Jamaah tumbuh. Kepercayaan publik meningkat. Masjid hidup.

Kepergian Muhammad Jazir menutup satu bab penting dalam sejarah pengelolaan masjid di Indonesia. Namun gagasannya tetap relevan di tengah tantangan sosial yang terus berkembang.

Wafatnya Muhammad Jazir menegaskan bahwa pembaruan masjid adalah kerja panjang. Warisannya mengingatkan bahwa tata kelola masjid yang terbuka dan manusiawi adalah kebutuhan publik, bukan pilihan tambahan.

Warisan Muhammad Jazir memperkuat gagasan tata kelola masjid sebagai pusat layanan sosial yang terbuka dan berpihak pada umat. (Red/Asep Chandra)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • penanganan hukum judi online guru

    Kecanduan Judi Online Picu Guru Cianjur Lakukan Kejahatan, Apa Dampaknya?

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 8
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA — Kasus guru di Cianjur yang terjerat masalah hukum akibat kecanduan judi online menyita perhatian publik. Peristiwa ini menegaskan bahwa praktik perjudian digital bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berpotensi mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal. Aparat kepolisian mengungkapkan, guru tersebut nekat melakukan tindak pidana setelah terjerat utang akibat kekalahan berulang di sejumlah platform […]

  • investasi bodong

    IRT Subang Jadi Korban Investasi Bodong

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Modus investasi bodong kembali menjerat korban. IRT di Subang kehilangan miliaran akibat iming-iming untung besar. albadarpost.com, HUMANIORA – Skema investasi bodong kembali menjerat masyarakat. Kali ini, seorang ibu rumah tangga (IRT) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menjadi korban setelah dana miliaran rupiah yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun raib tanpa kejelasan. Kasus ini menegaskan bahwa kejahatan finansial […]

  • Ilustrasi kalender hijriah global dengan peta dunia dan penentuan hilal secara internasional

    Muhammadiyah Gunakan Kalender Global, Hari Raya Bisa Serentak

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Kalender hijriah global kini menjadi pendekatan baru yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menetapkan hari raya Islam. Sistem ini, yang juga dikenal sebagai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), membawa perubahan besar dari metode lokal ke sistem global yang berlaku untuk seluruh dunia. Selain itu, metode ini tidak lagi bergantung pada batas negara. […]

  • pajak daerah jabar

    Pajak Daerah Jabar Terungkap: Uang Anda Jadi Jalan Mulus 474 Km!

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 26
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pajak daerah Jabar kini menjadi sorotan karena dampaknya yang langsung terasa. Pajak daerah Jawa Barat, kontribusi warga, dan pemanfaatan pajak daerah terbukti mendorong pembangunan nyata. Tidak hanya sekadar kewajiban, pajak kini menjadi investasi publik yang menghadirkan jalan mulus, penerangan, hingga fasilitas umum yang lebih baik. Menariknya, pendekatan baru yang transparan dan […]

  • Ilustrasi keluarga Singapura dengan anak kecil membahas manfaat Kredit Child LifeSG S$500 dalam Belanjawan 2026

    Setiap Anak Singapura Dapat 500 Dolar dari Pemerintah

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Pemerintah Singapura kembali menegaskan komitmennya terhadap keluarga melalui kebijakan konkret. Dalam APBN 2026, pemerintah mengumumkan Kredit Child LifeSG 500 Dolar Singapura bagi setiap anak warga negara Singapura berusia di bawah 12 tahun. Kebijakan ini langsung menjadi perhatian publik karena menyentuh kebutuhan dasar keluarga secara langsung. Langkah tersebut tidak muncul dalam ruang […]

  • Memasak nasi pulen tanpa rice cooker menggunakan panci dengan metode tradisional di dapur rumah

    Ternyata Begini Cara Memasak Nasi Pulen Tanpa Rice Cooker

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 11
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat rice cooker tidak bisa digunakan, banyak orang langsung panik karena merasa tidak bisa memasak nasi. Padahal, membuat nasi pulen tanpa rice cooker justru lebih mudah daripada yang dibayangkan. Cara memasak nasi manual atau masak nasi pakai panci sudah dilakukan sejak lama dan tetap menghasilkan nasi lembut, wangi, serta matang merata. […]

expand_less