Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Judi Online Picu Gelombang Sosial Ekonomi yang Membahayakan

Judi Online Picu Gelombang Sosial Ekonomi yang Membahayakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
  • visibility 94
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lonjakan judi online di kota memicu krisis sosial-ekonomi dan meningkatnya kekerasan ekstrem di kalangan muda.


Dampak Judi Online Kian Nyata di Kota

albadarpost.com, PERSPEKTIF – Kasus buruh harian di Bandung yang membunuh penjaga konter demi melunasi utang judi online membuka kembali luka lama: dampak judi online yang semakin dalam di kota-kota Indonesia. Fenomena ini bukan lagi sekadar soal kehilangan uang, melainkan soal runtuhnya sistem sosial dan ekonomi rumah tangga di lapisan masyarakat bawah.

Dalam tiga tahun terakhir, sejumlah kepolisian daerah mencatat tren yang sama. Di Bandung, Medan, hingga Makassar, pelaku kejahatan dengan motif judol meningkat hampir 30 persen dibanding 2023. Sebagian besar pelaku berusia di bawah 35 tahun, dengan pekerjaan tidak tetap dan akses mudah ke ponsel pintar.

Peneliti sosial Universitas Padjadjaran, Dwi Ramadhani, menyebut fenomena ini sebagai “ledakan ketergantungan digital berbiaya tinggi.” Judi online, katanya, merusak sistem ekonomi rumah tangga sekaligus memicu spiral kekerasan ekstrem. “Ketika orang terjebak hutang dan malu secara sosial, mereka bisa mengambil keputusan paling gelap dalam waktu paling singkat,” ujarnya.


Lingkaran Setan Ekonomi dan Kekerasan

Dampak judi online kini terlihat pada skala mikro: keluarga berantakan, ekonomi rumah tangga runtuh, dan lingkungan sosial kehilangan rasa aman. Di Bandung saja, Polrestabes mencatat sedikitnya 41 kasus kekerasan berat sepanjang 2025 yang berkaitan dengan utang judol. Angka ini naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Pelaku umumnya mengaku meminjam uang dari teman, koperasi ilegal, atau rentenir online. Ketika gagal membayar, tekanan ekonomi berubah menjadi tekanan psikologis. “Banyak kasus bermula dari keputusasaan,” kata AKBP Wahyu Prasetya, Kasatreskrim Polrestabes Bandung. “Pelaku merasa tidak punya pilihan selain melakukan pencurian, bahkan kekerasan.”

Dalam laporan yang sama, kepolisian menemukan pola serupa di beberapa wilayah penyangga metropolitan: Bekasi, Depok, dan Tangerang. Urbanisasi dan kesenjangan ekonomi menjadi bahan bakar bagi penyebaran judi online. Iklan di media sosial memperparah keadaan, memanfaatkan algoritma yang menarget kelompok usia produktif dengan iming-iming “cuan cepat.”

Baca juga: Buruh di Bandung Bunuh Penjaga Konter demi Judi Online

Ekonom perkotaan dari Universitas Katolik Parahyangan, Rina Surya, menjelaskan, “Judi online itu memakan pendapatan informal yang seharusnya berputar di ekonomi lokal. Uang habis ke server asing. Ini bukan cuma soal kriminalitas, tapi juga kebocoran ekonomi.”


Kebijakan Publik Masih Tertinggal

Meski pemerintah sudah memblokir lebih dari 1,4 juta situs judi online hingga Oktober 2025, laju kemunculan situs baru tak terbendung. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat ada ratusan situs baru tiap hari yang muncul kembali dengan nama domain berbeda.

Sementara itu, kebijakan penegakan hukum lebih sering menarget pemain kecil ketimbang jaringan besar. Hal ini dinilai tidak efektif menekan akar masalah. “Yang ditangkap selalu orang-orang yang kalah,” kata Sociolog UI, Bambang Wijaya. “Sementara operator besar dan aliran uang lintas negara masih aman bersembunyi di balik regulasi digital yang lemah.”

Dalam konteks sosial ekonomi perkotaan, judi online telah menjadi bentuk baru kemiskinan digital—di mana kemiskinan bukan hanya soal pendapatan rendah, tetapi juga soal kehilangan kendali atas perilaku ekonomi sendiri. Banyak korban yang sebelumnya berprofesi tetap akhirnya kehilangan pekerjaan karena tak sanggup menahan dorongan bermain.


Seruan untuk Regulasi yang Lebih Tegas

Pemerintah daerah kini didesak mengambil peran lebih besar. Sejumlah wali kota mulai menggagas program rehabilitasi sosial digital, seperti penyuluhan literasi keuangan dan pelatihan kerja bagi korban judol. Namun, langkah itu masih bersifat sporadis.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung menilai penanganan korban judi online semestinya dilakukan seperti menangani kecanduan narkoba. “Ada kebutuhan akan sistem pemulihan, bukan hanya penegakan hukum,” ujar Direktur LBH Bandung, Siska Rahmawati.

Tanpa intervensi sosial yang serius, judi online bisa menjadi epidemi baru di tengah kota. Ia menjalar senyap melalui telepon genggam, tapi efeknya terasa hingga ke ruang makan warga.

Judi online kian menekan ekonomi rumah tangga dan memicu kekerasan ekstrem di kota. Regulasi tegas jadi kebutuhan mendesak. (Red)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi seorang Muslim makan dengan tangan kanan sambil membaca doa sesuai sunnah makan Rasulullah SAW.

    Rahasia Keberkahan di Balik Sunnah Makan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 76
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Sunnah Makan bukan sekadar adab biasa, melainkan tuntunan Rasulullah yang penuh hikmah. Banyak orang mengenal adab makan dalam Islam, tetapi belum memahami detail Sunnah Makan yang jarang diamalkan. Padahal, tuntunan makan Rasulullah SAW bukan hanya soal sopan santun, melainkan jalan menuju keberkahan dan kesehatan jiwa. Di era serba cepat, banyak orang makan […]

  • pemotongan bansos PKH

    Pendamping PKH di Pamekasan Diperiksa Usai Dugaan Pemotongan Bansos

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Kasus dugaan pemotongan bansos PKH di Pamekasan diselidiki. Pendamping diperiksa setelah warga melapor soal dana tak utuh diterima. albadarpost.com, HUMANIORA – Rabu, 12 November 2025, publik Pamekasan dihebohkan oleh dugaan pemotongan bansos PKH di Kecamatan Tlanakan, Jawa Timur. Seorang warga bernama Jumaati mengaku hanya menerima Rp1,2 juta dari total bantuan yang seharusnya Rp2,05 juta. Kasus […]

  • literasi Al-Qur’an guru

    Kementerian Agama: Literasi Al-Qur’an Guru PAI Rendah

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Lebih 58 persen guru PAI SD belum fasih baca Al-Qur’an. Kemenag siapkan reformasi rekrutmen dan sertifikasi. albadarpost.com, HUMANIORA – Kementerian Agama mengungkap temuan krusial terkait kualitas pendidikan agama di sekolah dasar. Hasil asesmen nasional Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 menunjukkan 58,26 persen guru PAI tingkat SD dan SDLB di Indonesia belum fasih membaca Al-Qur’an. Kondisi […]

  • tokoh antikorupsi

    Tokoh Antikorupsi Dunia dan Indonesia Warnai Peringatan Hakordia 2025

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Deretan tokoh antikorupsi dunia kembali disorot jelang Hakordia 2025 sebagai inspirasi integritas publik. albadarpost.com, PELITA – Menjelang peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 2025, deretan tokoh antikorupsi dari berbagai negara kembali mendapat sorotan. Kiprah mereka penting karena memberi bukti bahwa perubahan menuju pemerintahan bersih selalu dimulai dari keberanian individu. Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap lembaga negara, […]

  • Sembako Tasikmalaya

    Asep Sopari Apresiasi Bantuan 3.700 Paket Sembako untuk Warga Tasikmalaya

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, hadir langsung dalam kegiatan pembagian 3.700 paket sembako Tasik bagi yatim piatu dan kaum dhuafa di Kota serta Kabupaten Tasikmalaya, Senin (25/5/2026). Bantuan sosial tersebut digagas Inspektur Jenderal Kemendes RI bersama Sahabat Ryano, Bandara Group 37, dan Yonif TP 939/Macan Putih sebagai bentuk kepedulian […]

  • guru mengajar banyak pelajaran

    Fenomena Guru Mengajar Banyak Pelajaran, Dedikasi atau Keterpaksaan?

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 88
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Guru mengajar banyak pelajaran kini menjadi fenomena yang semakin sering ditemukan. Kondisi ini juga dikenal sebagai guru multi mata pelajaran atau guru mengajar lintas mapel, terutama di sekolah dengan keterbatasan tenaga pendidik. Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan. Apakah ini bentuk dedikasi luar biasa, atau justru tanda adanya masalah serius dalam sistem pendidikan? […]

expand_less