Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bebas Merdeka atau Budak Duniawi?

Bebas Merdeka atau Budak Duniawi?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
  • visibility 189
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Di tengah hiruk-pikuk ambisi, istilah Bebas Merdeka terdengar seperti slogan upacara. Padahal, menurut hikmah Syekh ‘Athoillah dalam Al-Hikam, Bebas Merdeka bukan sekadar bebas secara fisik, melainkan merdeka dari keinginan palsu dan harapan semu. Ironisnya, banyak orang merasa merdeka, tetapi justru menjadi budak ambisi. Mereka mengira sedang mengejar impian, padahal nafsu diam-diam mengejar mereka.

Syekh ‘Athoillah mengingatkan, “Kita menjadi hamba dari apa yang kita harapkan.” Kalimat ini terasa menampar. Sebab, semakin tinggi harapan duniawi digantungkan, semakin rendah jiwa ditundukkan. Seseorang bisa saja berdasi, berjabatan, bahkan disanjung. Namun, ketika hatinya bergantung pada pujian, uang, atau status sosial, maka ia belum mencapai Bebas Merdeka.

Ketika Elang Turun karena Daging

Bayangkan seekor elang. Ia terbang tinggi menembus langit. Sulit ditangkap, sulit dijangkau. Namun, ketika sepotong daging digantung sebagai umpan, ia turun. Bukan karena lemah, melainkan karena tamak. Sekali cakar menyentuh perangkap, tamatlah kebebasannya. Anak-anak kecil pun bisa mempermainkannya.

Baca juga: Diamnya Kesbangpol Kabupaten Tasikmalaya Makin Membuat Penasaran

Begitulah manusia. Ketika tidak memiliki keinginan palsu, ia terbang tinggi dalam kehormatan. Namun, saat tergoda dunia yang fana, ia rela turun. Ia meninggalkan prinsip, menggadaikan integritas, bahkan menjual iman hanya demi “sepotong daging” bernama kepentingan.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa dunia sering memoles jebakan dengan kilau. Sementara itu, manusia kerap terkecoh oleh kemasan.

Nafsu: Tuan yang Tidak Pernah Kenyang

Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga.”
(HR. Muhammad)

Hadis ini bukan sekadar kritik terhadap kerakusan, melainkan potret abadi sifat manusia. Nafsu tidak pernah puas. Hari ini mengejar jabatan, besok mengejar pengaruh. Setelah itu, mengejar validasi. Sementara itu, hati terus lelah.

Imam Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa cinta dunia adalah akar dari banyak keburukan. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, tetapi dunia tidak boleh menguasai hati. Ketika hati terpaut kuat pada materi, maka Bebas Merdeka menjadi ilusi.

Oleh karena itu, kebebasan sejati bukanlah memiliki segalanya, melainkan tidak diperbudak oleh apa pun. Seseorang boleh kaya, tetapi tidak tamak. Boleh berpengaruh, tetapi tidak sombong. Boleh terkenal, tetapi tidak haus pujian.

Satir Zaman: Merdeka di Status, Terjajah di Hati

Lucunya, manusia modern sering merasa bebas karena bisa berkata apa saja di media sosial. Mereka merasa merdeka karena memiliki pilihan tanpa batas. Namun, pada saat yang sama, mereka gelisah jika tidak mendapat “like”. Mereka marah jika tidak diakui. Bahkan, mereka rela memoles citra demi tepuk tangan digital.

Di sinilah satir itu terasa pedih. Kita berbicara tentang kebebasan, tetapi algoritma menentukan suasana hati. Kita merasa independen, tetapi opini publik mengendalikan arah langkah. Dan kita mengaku tidak peduli, padahal diam-diam berharap dipuji.

Syekh ‘Athoillah seakan tersenyum melihat drama ini. Beliau tidak menyuruh kita kabur ke gunung. Beliau hanya mengingatkan: lepaskan ketergantungan. Jika hati tidak lagi terpaut pada keinginan palsu, maka perangkap kehilangan daya tariknya.

Karena itu, Bebas Merdeka dimulai dari dalam. Pertama, luruskan niat. Kedua, kurangi ketergantungan pada pujian manusia. Ketiga, perbanyak berharap hanya kepada Allah. Dengan demikian, seseorang tidak mudah turun dari “angkasa” kehormatan.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini memberi arah yang jelas. Ketika tawakal menjadi fondasi, maka hati tidak lagi mudah diseret oleh umpan dunia.

Bebas Merdeka: Jalan Sunyi yang Menguatkan

Memang, jalan ini tidak populer. Sebab, dunia memuja pencapaian yang terlihat, bukan kebebasan batin yang tersembunyi. Namun, justru di situlah kekuatan sejati lahir. Orang yang Bebas Merdeka tidak mudah diprovokasi, tidak mudah dibeli, dan tidak mudah ditipu.

Sebaliknya, orang yang terjebak keinginan palsu akan terus mencari. Ia lelah, tetapi tidak berhenti. Ia kenyang, tetapi tetap lapar. Ia tersenyum, tetapi batinnya kosong.

Elang itu sebenarnya kuat. Ia hanya salah memilih arah turun. Maka, manusia pun demikian. Ia mulia ketika menjaga jarak dari umpan. Namun, ia menjadi permainan ketika membiarkan nafsu memimpin.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana: kita ingin tetap terbang tinggi atau turun demi sepotong daging?

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • rotasi kajari

    Kejaksaan Agung Mutasi Puluhan Kajari

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Kejaksaan Agung merotasi 43 kajari akhir 2025 untuk menjaga efektivitas dan integritas penegakan hukum daerah. albadarpost.com, FOKUS – Kejaksaan Agung Republik Indonesia kembali melakukan rotasi kajari secara besar-besaran menjelang penutupan tahun 2025. Sebanyak 43 kepala kejaksaan negeri resmi diganti dari total 68 pejabat kejaksaan yang dimutasi melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor KEP-IV-1734/C/12/2025 tertanggal 24 […]

  • Doa Meninggalkan Makkah

    Jangan Lewatkan, Ini Doa yang Dianjurkan Saat Meninggalkan Makkah

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 180
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Ada banyak momen mengharukan dalam perjalanan haji. Namun bagi sebagian jamaah, salah satu yang paling berat justru terjadi ketika semua rangkaian ibadah hampir selesai. Bukan saat wukuf di Arafah. Bukan saat melempar jumrah. Dan bukan pula saat tahallul. Melainkan ketika tiba waktunya meninggalkan Kota Makkah setelah thawaf wada, atau thawaf perpisahan. Di […]

  • Oknum DPRD Banjar

    Kasus Oknum DPRD Banjar Masuk Babak Penuntutan

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 104
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Oknum DPRD Banjar resmi memasuki babak baru dalam kasus narkotika setelah Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Banjar menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti atau Tahap 2 dari penyidik Polres Banjar, Kamis (16/7/2026). Dengan proses tersebut, perkara pidana ini kini berlanjut ke tahap penuntutan sebelum disidangkan di Pengadilan Negeri Banjar. Perkembangan terbaru ini […]

  • Pelantikan Pejabat Tasikmalaya

    19 Pejabat Tasikmalaya Dilantik, Kini Publik Menunggu Buktinya

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 65
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pelantikan Pejabat Tasikmalaya bukan sekadar agenda seremonial pergantian jabatan. Mutasi dan promosi terhadap 19 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menjadi ujian awal apakah birokrasi benar-benar bergerak menuju pelayanan publik yang lebih cepat, profesional, dan berbasis sistem merit sebagaimana ditegaskan pemerintah. Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, […]

  • realitas guru

    Fakta Mengejutkan! 9 Realitas Guru yang Jarang Diketahui Orang Tua

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 190
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Realitas guru sering kali tidak terlihat oleh orang tua murid. Banyak yang mengira pekerjaan guru hanya sebatas mengajar di kelas. Padahal, kehidupan guru, fakta profesi guru, dan tantangan pendidik jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, memahami realitas guru menjadi penting agar muncul empati dan dukungan yang lebih besar. Selain itu, guru tidak […]

  • PDAM Banjar

    PDAM Banjar Diprotes, Petani Soroti Pengukuran Lahan

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – PDAM Banjar menuai protes dari para petani penggarap di kawasan Mandalare, Kota Banjar, setelah proses pengukuran lahan untuk rencana pembangunan fasilitas penampungan air dilakukan tanpa koordinasi langsung dengan warga. Polemik protes petani Banjar itu tidak berangkat dari penolakan terhadap proyek pelayanan publik, melainkan dari cara pelaksanaannya yang dinilai mengabaikan komunikasi, etika […]

expand_less