Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hijab Allah: Mengapa Hati Sulit Mengenal-Nya?

Hijab Allah: Mengapa Hati Sulit Mengenal-Nya?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 47
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

“Bagaimana mungkin Allah dihijab oleh sesuatu, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu?”

Kalimat-kalimat dalam Al-Hikam Ibnu Athaillah tentang Hijab Allah terasa seperti tamparan yang halus, tetapi menghunjam. Frasa Hijab Allah, tertutupnya hati dari Allah, atau terhalangnya ma’rifat kepada-Nya bukan berbicara tentang Allah yang jauh. Justru sebaliknya, manusialah yang sibuk membangun dinding di dalam dirinya sendiri.

Ironinya, manusia modern begitu percaya pada apa yang terlihat oleh mata, tetapi sering mengabaikan Zat yang membuat semua itu dapat terlihat. Dunia dipeluk erat, sementara Sang Pencipta sekadar menjadi pengetahuan, bukan lagi kesadaran hidup.

Satir Kehidupan: Sibuk Mengejar Bayangan, Lupa Matahari

Ada ironi yang terus berulang sepanjang zaman.

Orang rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi menikmati panorama alam. Kamera dipenuhi foto gunung, laut, dan langit. Namun, ketika ditanya siapa yang menciptakan semua keindahan itu, jawabannya sering hanya sebatas teori.

Padahal, menurut Ibnu Athaillah, alam bukan penghalang menuju Allah. Alam justru merupakan penunjuk arah menuju-Nya.

Yang menjadi hijab bukan gunung.

Bukan langit.

Bukan harta.

Dan bukan jabatan.

Melainkan hati yang berhenti membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Dalam perspektif tasawuf yang diajarkan Ibnu Athaillah, hafalan ilmu agama saja belum cukup jika tidak diiringi penyucian hati. Padahal lisan bisa menghafal ribuan ayat, sementara hati tetap kosong dari rasa hadir bersama-Nya.

Al-Hikam: Allah Lebih Nyata daripada Semua yang Kita Lihat

Dalam kutipan Al-Hikam dijelaskan secara bertingkat:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ فِي كُلِّ شَيْءٍ

“Bagaimana mungkin Allah dihijab oleh sesuatu, padahal Dialah yang menampakkan segala sesuatu.”

Kemudian dilanjutkan:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ النَّاظِرُ لِكُلِّ شَيْءٍ

“Bagaimana mungkin Allah dihijab, padahal Dia tampak pada setiap sesuatu.”

Lalu mencapai puncaknya:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَلَوْلَاهُ مَا كَانَ وُجُودُ كُلِّ شَيْءٍ

“Bagaimana mungkin Allah dihijab, padahal tanpa-Nya tidak akan ada satu pun yang wujud. (Yang dimaksud bukan Allah menyatu dengan makhluk, melainkan tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, dan sifat-sifat-Nya tampak melalui ciptaan-Nya).

Kalimat-kalimat tersebut membangun satu kesimpulan yang kuat.

Jika semua yang ada berasal dari Allah, menunjukkan kekuasaan Allah, dan bergantung kepada Allah, lalu apa sebenarnya yang menutupi manusia dari mengenal-Nya?

Jawabannya bukan alam.

Menurut penjelasan para ulama tasawuf, termasuk yang dipahami dari Al-Hikam, jawabannya adalah hijab hati sering dikaitkan dengan dominasi hawa nafsu, kesombongan, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.

Dalil Al-Qur’an: Allah Sangat Dekat

Allah SWT berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

(QS. Al-Baqarah: 186)

Firman Allah lainnya:

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf: 16)

Sementara itu Allah juga mengingatkan:

“Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah (rahmat dan kekuasaan) Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 115)

Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa kedekatan Allah bukan persoalan jarak, melainkan persoalan kesadaran hati.

Hijab Terbesar Ternyata Bukan Dunia, tetapi Ego

Satir terbesar sebenarnya bukan ditujukan kepada orang lain.

Ia mengarah kepada diri kita sendiri.

Kita sering berkata mencari Allah.

Namun, waktu habis mengejar pujian manusia.

Kita mengaku mencintai akhirat.

Namun, hati gelisah hanya karena kehilangan sedikit keuntungan dunia.

Kita mengaku bertawakal.

Namun, ketakutan kepada masa depan lebih besar daripada keyakinan kepada pertolongan Allah.

Inilah hijab yang sesungguhnya.

Bukan kain.

Bukan tembok.

Dan bukan langit.

Tetapi ego yang merasa mampu hidup tanpa terus mengingat Allah.

Penutup

Ibnu Athaillah seolah mengajak manusia berhenti menyalahkan keadaan.

Allah tidak pernah pergi.

Allah tidak pernah bersembunyi.

Dan Allah juga tidak membutuhkan manusia untuk menemukan-Nya.

Justru manusialah yang terlalu sibuk memandang ciptaan hingga lupa kepada Sang Pencipta.

Mata melihat alam.

Akal mengagumi hukum-hukumnya.

Namun, hanya hati yang bersih mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah di balik semuanya.

Sebab itu, perjalanan menuju Allah bukan dimulai dengan melangkah lebih jauh, melainkan dengan membersihkan hati dari kesombongan, hawa nafsu, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia.

Bukan karena Allah terlalu jauh sehingga sulit ditemukan. Masalahnya, hati kita terlalu penuh oleh dunia sehingga tidak lagi memiliki ruang untuk melihat-Nya. Hijab terbesar bukan berada di depan mata, melainkan tumbuh diam-diam di dalam dada. (Red)

  • Sumber utama: Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari.
  • Penjelasan bahwa kutipan merupakan terjemahan yang beredar di Indonesia dan dapat memiliki variasi redaksi.
  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • pendaratan darurat pesawat

    Pesawat GA8 Airvan Alami Loss Power, Pilot Arahkan Pendaratan ke Sawah

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Pesawat GA8 Airvan melakukan pendaratan darurat di Karawang akibat gangguan mesin, seluruh awak selamat. albadarpost.com, LENSA – Di tengah hamparan hijau Desa Kertawaluya, sebuah pesawat kecil tampak miring dengan moncong menancap tanah. Beberapa warga berdiri tak jauh, masih menahan napas setelah melihat manuver terakhir pilot yang membawa pesawat itu mendarat di persawahan. Tak ada ledakan, […]

  • “Suasana hening menjelang Subuh saat seseorang berdoa dan bermunajat kepada Allah di dalam rumah”

    Doa Sebelum Subuh Ini Harus Diamalkan Saat Hidup Sedang Berat

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tidak semua orang kuat menghadapi hidup yang terasa berat setiap hari. Ada yang terlihat tersenyum di siang hari, tetapi diam-diam menangis saat malam tiba. Menariknya, belakangan semakin banyak orang mulai mencari ketenangan lewat doa sebelum Subuh. Sebagian bahkan mengaku hidupnya perlahan berubah setelah rutin mengamalkan doa mustajab di waktu menjelang Subuh. Bukan […]

  • Timnas Indonesia 4-0

    Timnas Indonesia Menang 4-0, Era Baru yang Bikin Asia Mulai Waspada

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Saat Timnas Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis national football team di FIFA Series 2026, publik langsung bersorak. Empat gol. Clean sheet. Dominasi penuh. Tapi ada satu hal yang luput dari perhatian banyak orang: Ini bukan sekadar kemenangan besar. Ini adalah transformasi. Dan transformasi ini… terlihat sangat nyata. Dari […]

  • keuangan daerah Tasikmalaya

    Ketergantungan PAD Ungkap Kerentanan Keuangan Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 144
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH — Kondisi keuangan daerah Tasikmalaya kembali mendapat sorotan setelah dua aset utama penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), yakni RSUD dr. Soekardjo dan Pasar Cikurubuk, menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Situasi ini tidak berdiri sendiri sebagai persoalan manajerial aset, melainkan mencerminkan ketergantungan fiskal daerah pada mesin pendapatan yang semakin rentan di tengah tekanan ekonomi dan […]

  • gugatan OpenAI

    Gugatan OpenAI Meningkat, Peluncuran AI Dipertanyakan Usai Kasus Bunuh Diri

    • calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Gugatan OpenAI meningkat setelah keluarga korban menilai ChatGPT memicu bunuh diri dan delusi berbahaya. albadarpost.com, HUMANIORA – Kenaikan jumlah gugatan OpenAI kembali menempatkan industri kecerdasan artifisial di bawah sorotan tajam. Tujuh keluarga di Amerika Serikat menggugat perusahaan tersebut, menuding model percakapan ChatGPT memicu tindakan bunuh diri dan memperburuk delusi pada anggota keluarga mereka. Sengketa hukum […]

  • Feradi WPI

    2 Tahun Feradi WPI: Ketika Hukum Masih Jauh, Mereka Justru Mendekat

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Organisasi Advokat dan Paralegal, Forum Era Adil Warung Paralegal Indonesia (Feradi WPI) genap berusia dua tahun. Namun di balik milad Feradi WPI ini, ada pertanyaan yang lebih besar: mengapa di negeri dengan ribuan advokat, akses keadilan masyarakat masih terasa jauh? Di titik inilah Feradi WPI mengambil posisi yang tidak nyaman: turun langsung […]

expand_less