Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » 2 Tahun Feradi WPI: Ketika Hukum Masih Jauh, Mereka Justru Mendekat

2 Tahun Feradi WPI: Ketika Hukum Masih Jauh, Mereka Justru Mendekat

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Organisasi Advokat dan Paralegal, Forum Era Adil Warung Paralegal Indonesia (Feradi WPI) genap berusia dua tahun. Namun di balik milad Feradi WPI ini, ada pertanyaan yang lebih besar: mengapa di negeri dengan ribuan advokat, akses keadilan masyarakat masih terasa jauh? Di titik inilah Feradi WPI mengambil posisi yang tidak nyaman: turun langsung ke lapangan, bukan sekadar bicara di forum.

Perayaan milad ke-2 akan berlangsung sederhana pada Sabtu (18/4/2026) di Triiz Hotel Semarang. Tidak ada kemewahan. Tidak ada panggung besar. Tetapi justru di situlah letak pesannya: ketika banyak organisasi sibuk membangun citra, sebagian advokat dan paralegal memilih bekerja dalam senyap.

Dan faktanya, kebutuhan itu nyata.

Hukum Masih Elit, Siapa yang Peduli?

Realitas di lapangan tidak bisa ditutup-tutupi. Banyak masyarakat masih menganggap hukum itu mahal, rumit, dan hanya untuk mereka yang punya akses.

Di sisi lain, tidak sedikit kasus kecil dibiarkan menggantung. Bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak ada yang mendampingi.

Ketua Umum Feradi WPI, Advokat Donny Andretti mengakui hal ini tanpa basa-basi.

“Masalahnya bukan masyarakat tidak mau, tapi mereka tidak tahu harus ke mana. Dan sering kali, mereka takut duluan,” katanya.

Pernyataan ini mungkin terdengar sederhana. Namun di situlah letak masalah yang selama ini luput dibahas secara serius.

feradi wpi

Ketua Umum Feradi WPI, Adv. Donny Andretti, S.H., S.Kom., M.Kom., C.MD., C.PFW., C.MDF., C.JKJ.

Paralegal: Dari Pinggiran Jadi Penentu

Di tengah situasi itu, Feradi WPI justru mengambil langkah yang jarang dilakukan: menguatkan peran paralegal.

Selama ini, paralegal sering diposisikan sebagai pelengkap. Namun di organisasi ini, peran mereka justru diputar menjadi pusat.

Paralegal turun langsung ke masyarakat. Mereka mendengar, mencatat, lalu menghubungkan ke advokat. Proses ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Pendekatan ini sekaligus menampar realitas lama—bahwa akses hukum tidak selalu harus dimulai dari ruang sidang, tetapi dari pemahaman di tingkat paling bawah.

Dua Tahun, Tapi Masalahnya Belum Berubah

Di usia dua tahun, Feradi WPI mulai mendapat tempat. Jaringan bertambah. Kegiatan berjalan. Pendampingan meningkat.

Namun satu hal belum berubah: ketimpangan akses hukum masih nyata.

Ini yang membuat perayaan milad terasa berbeda. Ada kebanggaan, tetapi juga ada kegelisahan.

Sebab semakin banyak kasus yang ditemui, semakin terlihat bahwa persoalan hukum di masyarakat bukan sekadar soal aturan, tetapi soal akses.

Dan akses itu belum merata.

Antara Idealisme dan Realita

Feradi WPI berada di persimpangan yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka membawa idealisme—bahwa hukum harus bisa diakses semua orang.

Di sisi lain, realitas di lapangan sering kali tidak sejalan. Keterbatasan sumber daya, luasnya wilayah, hingga kompleksitas kasus menjadi tantangan harian.

Namun justru di situlah nilai organisasi ini diuji.

Mereka tidak menunggu sistem berubah. Mereka memilih masuk ke celah yang ada, sekecil apa pun itu.

Jika Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Pertanyaan besarnya sederhana: jika bukan organisasi seperti Feradi WPI yang bergerak, siapa lagi?

Di tengah banyaknya wacana soal keadilan, langkah konkret sering kali justru minim. Sementara masyarakat terus menghadapi persoalan hukum yang tidak kunjung selesai.

Feradi WPI mungkin belum besar. Namun dalam dua tahun, mereka menunjukkan satu hal penting—bahwa perubahan tidak selalu datang dari pusat, tetapi bisa dimulai dari pinggiran.

Milad ke-2 ini bukan sekadar perayaan. Ini semacam pengingat keras bahwa hukum belum sepenuhnya hadir untuk semua.

Feradi WPI memilih tidak menunggu. Mereka bergerak, meski pelan. Mereka hadir, meski tanpa sorotan.

Dan di tengah kondisi yang masih timpang, langkah seperti ini bukan hanya penting—tetapi mendesak.

‌وَاللَّهُ ‌أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi reflektif tadabbur alam untuk Gen Z dengan latar langit, air, dan cahaya sebagai simbol kekuasaan Allah dalam Surah Al-Waqi’ah.

    Tadabbur Alam: Gen Z Terlalu Pede?

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Tadabbur Alam bukan sekadar istilah kajian yang terdengar religius. Tadabbur alam, merenungi kekuasaan Allah, dan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya justru menjadi tamparan keras bagi generasi digital. Di era ketika semua bisa dicari lewat mesin pencari, banyak orang merasa paling tahu. Namun ironisnya, semakin luas akses informasi, semakin tipis rasa tunduk kepada Sang Pencipta. […]

  • Kisah Hasan dan Husain

    7 Kisah Hasan dan Husain, Nomor 4 Membuat Rasulullah Turun dari Mimbar

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 96
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Kisah Hasan dan Husain selalu menarik untuk dipelajari karena keduanya merupakan cucu Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai. Namun, di balik sejarah besar tersebut, terdapat banyak kisah Hasan dan Husain yang jarang diketahui oleh umat Islam. Cerita tentang keteladanan Hasan dan Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, tidak hanya menggambarkan kedekatan mereka dengan […]

  • Pria Tewas Dalam Mobil

    Jalan KHZ Mustofa Mendadak Sunyi Saat Warga Temukan Pria Tewas di Mobil

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 84
    • 0Komentar

    albadarpsot.com, BERITA DAERAH – Pagi di Jalan KHZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, awalnya berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas rapat. Pedagang membuka toko. Pengemudi ojek online duduk menunggu orderan sambil menyeruput kopi. Namun menjelang siang, suasana berubah. Sebuah Daihatsu Sigra abu-abu bernopol Z 129 MJ yang sejak pagi terparkir di pinggir jalan mendadak menjadi pusat perhatian warga. […]

  • Ilustrasi seseorang menenangkan temannya sebagai simbol kasih sayang Nabi dan empati di tengah kehidupan modern

    Dunia Semakin Keras, Nabi Ajarkan Kasih Sayang

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 61
    • 0Komentar

     albadarpost.com, LIFESTYLE – Kasih sayang Nabi sering kita dengar, tetapi tidak selalu kita rasakan. Hadis Nabi tentang kasih sayang mengajarkan empati, kelembutan, dan kepedulian—nilai yang justru terasa semakin hilang di tengah kehidupan modern. Hari ini, orang mudah marah, cepat menghakimi, dan lambat memahami. Padahal, satu sikap lembut bisa menyelamatkan banyak hal. Hadis yang Menampar: Tanpa […]

  • Tasik Gemas

    Tasik Gemas: Gerakan Sehat atau Agenda Simbolik?

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: Tasik Gemas harus diawasi agar tak berhenti sebagai agenda simbolik pemerintah. Diluncurkan Hari Ini, Dipertanyakan Esok Hari albadarpost.com, EDITORIAL – Pemerintah Kota Tasikmalaya meluncurkan program Tasik Gemas (Gerakan Masyarakat Sehat) sebagai langkah mendorong perubahan pola hidup warga. Program ini diawali dengan senam bersama dan layanan cek kesehatan gratis. Bagi publik, peluncuran ini bukan […]

  • manusia bermanfaat

    Saat Sedekah Jadi Konten: Kita Membantu atau Sekadar Terlihat Peduli?

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 47
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Hari ini, istilah manusia bermanfaat terdengar di mana-mana. Frasa khoirunnas anfauhum linnas dikutip, dibagikan, bahkan dijadikan caption. Namun, di saat yang sama, muncul pertanyaan yang lebih jujur: apakah kita benar-benar memberi manfaat bagi sesama, atau hanya sibuk terlihat peduli? Coba perhatikan sekeliling. Ada orang yang membantu sambil menyalakan kamera. Ada yang berbagi […]

expand_less