Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Ibnu Athaillah: Dunia Tak Pernah Berjanji Membahagiakan

Ibnu Athaillah: Dunia Tak Pernah Berjanji Membahagiakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • visibility 137
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAHDunia adalah ujian. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi banyak orang baru benar-benar memahaminya setelah kehilangan pekerjaan, gagal membangun usaha, ditinggal orang tercinta, atau menghadapi penyakit yang tak pernah mereka bayangkan. Saat musibah datang, sebagian orang bertanya, “Kenapa hidup saya begini?” Padahal, menurut Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam, hakikat dunia memang bukan tempat yang menjanjikan kebahagiaan tanpa cela.

Lucunya, manusia sering memperlakukan dunia seperti pusat layanan pelanggan. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, protes langsung diarahkan kepada kehidupan. Seolah-olah dunia pernah menandatangani perjanjian bahwa setiap impian pasti menjadi kenyataan.

Padahal, tidak pernah ada janji seperti itu.

Justru sejak awal Allah menciptakan dunia sebagai ruang ujian, bukan ruang istirahat.

Ibnu Athaillah mengingatkan melalui salah satu hikmah paling terkenal dalam Al-Hikam:

لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقٌّ وَصْفَهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا

“Jangan merasa heran terhadap datangnya berbagai kesulitan selama engkau masih berada di dunia. Sebab, dunia tidak menampakkan sesuatu selain apa yang memang menjadi sifat dan tabiatnya.”

Kalimat singkat itu mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Musibah bukan tanda bahwa hidup sedang rusak. Sebaliknya, musibah sering kali menjadi bukti bahwa dunia sedang berjalan sebagaimana mestinya.

Berhenti Menagih Kebahagiaan kepada Dunia

Bayangkan seorang pria yang baru saja mendapatkan promosi jabatan. Ia mengira semua masalah selesai. Beberapa bulan kemudian, tekanan pekerjaan meningkat, waktu bersama keluarga berkurang, dan kesehatan mulai terganggu.

Di tempat lain, seseorang membeli rumah impian. Bukannya tenang, ia justru sibuk memikirkan cicilan setiap bulan.

Ada pula yang mengejar popularitas di media sosial. Semakin banyak pengikut, semakin besar pula rasa takut kehilangan perhatian.

Semua itu memperlihatkan satu kenyataan: dunia memang pandai memberi harapan, tetapi tidak pernah sanggup memberikan kepuasan yang sempurna.

Bukan karena dunia kejam, melainkan karena memang bukan itu tugasnya.

Satirnya, kita sering meminta sesuatu kepada dunia yang bahkan Allah sendiri tidak menjadikannya sebagai sifat dunia.

Para Ulama Salaf Sudah Memahami Rahasia Ini

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa dunia adalah tempat keresahan dan duka. Oleh karena itu, apabila seseorang masih memperoleh kebahagiaan di dalamnya, maka itulah keuntungan yang layak disyukuri.

Pandangan yang sama disampaikan oleh Ja’far ash-Shadiq rahimahullah. Beliau mengatakan bahwa orang yang mengharapkan kesenangan mutlak di dunia sedang mengejar sesuatu yang memang tidak Allah ciptakan untuk dunia.

Lebih menarik lagi, Junayd al-Baghdadi rahimahullah pernah mengaku tidak pernah merasa kecewa ketika musibah datang. Alasannya sederhana. Sejak awal beliau telah menerima bahwa dunia merupakan rumah ujian. Karena itu, kesulitan terasa wajar. Sebaliknya, setiap kemudahan beliau anggap sebagai hadiah yang tidak wajib diberikan.

Cara berpikir seperti ini membuat hati jauh lebih tenang.

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan Sejak Awal

Apa yang disampaikan Ibnu Athaillah sepenuhnya sejalan dengan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 155)

Kemudian Allah kembali menegaskan:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Sementara itu, Allah juga mengingatkan:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa ujian bukan penyimpangan dari kehidupan. Justru itulah bagian dari kehidupan itu sendiri.

Rasulullah Tidak Pernah Menjanjikan Hidup Tanpa Masalah

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“…Ketahuilah bahwa kemenangan datang bersama kesabaran, kelapangan hadir bersama kesusahan, dan bersama kesulitan selalu ada kemudahan.”

(HR. Ahmad; dinilai hasan oleh banyak ulama)

Hadis ini tidak mengajarkan cara menghindari ujian. Sebaliknya, Rasulullah mengajarkan bagaimana seorang mukmin tetap kokoh ketika ujian datang silih berganti.

Karena itu, ukuran keberhasilan bukanlah hidup tanpa masalah. Ukuran keberhasilan adalah tetap menjaga iman ketika masalah tidak kunjung selesai.

Ketika Cara Pandang Berubah, Hati Menjadi Ringan

Banyak orang merasa hidupnya paling berat. Namun, setelah memahami hikmah Al-Hikam, pertanyaannya berubah.

Bukan lagi, “Mengapa Allah menguji saya?”

Melainkan,

“Apa yang Allah ingin ajarkan melalui ujian ini?”

Di titik itulah seseorang mulai menemukan ketenangan.

Ia tetap bekerja keras, tetapi tidak menggantungkan kebahagiaan kepada pekerjaan.

Ia tetap berusaha mencari rezeki, tetapi tidak menjadikan harta sebagai sumber ketenteraman.

Dan ia tetap mencintai keluarga, tetapi sadar bahwa semua yang dicintai hanyalah titipan.

Cara pandang seperti inilah yang membuat nikmat sekecil apa pun terasa besar, sedangkan musibah sebesar apa pun tidak mampu mematahkan harapan.

Barangkali yang membuat hidup terasa begitu berat bukan karena ujian datang terlalu banyak, melainkan karena kita masih berharap dunia memberi sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijanjikannya. Ketika kita menerima bahwa dunia memang tempat ujian, setiap musibah berubah menjadi pelajaran, dan setiap nikmat terasa seperti hadiah yang tak ternilai. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ujub dalam ibadah

    Rajin Ibadah tapi Terjebak Ujub? Ini Pesan Ibnu Athaillah

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 28
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Selesai salat, hati semestinya lega. Setelah bersedekah, seorang Muslim semestinya bersyukur. Seusai membaca Al-Qur’an, yang patut tumbuh adalah rasa membutuhkan Allah. Namun, ujub dalam ibadah bisa muncul ketika rasa syukur perlahan bergeser menjadi kekaguman kepada diri sendiri. Dalam bahasa sederhana, seseorang bukan lagi sekadar bahagia karena mendapat kesempatan beramal, melainkan mulai merasa […]

  • Ilustrasi seseorang sedang berdoa khusyuk di malam hari setelah salat tahajud dengan suasana tenang dan cahaya lampu redup.

    Doa Mujarab agar Hajat Cepat Terkabul, Lengkap Waktu Mustajab

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 323
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Doa mujarab sering dicari banyak orang ketika hidup mulai terasa berat, rezeki terasa seret, atau hati terus dipenuhi kegelisahan. Dalam Islam, doa agar hajat cepat dikabulkan bukan hanya soal lafaz yang dibaca, tetapi juga tentang keyakinan, waktu mustajab, dan cara seseorang mengetuk pintu langit dengan tulus. Ada yang berdoa lama setelah salat. […]

  • Ilustrasi keluarga dengan orang tua dan anak belajar menyelesaikan konflik secara sehat di rumah

    Saat Anak Diam Mengamati Pertengkaran Orang Tua

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 226
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Sering kali orang tua mengira anak tidak memperhatikan. Padahal, di sudut ruangan, anak justru menyerap semuanya—nada suara, raut wajah, hingga kata-kata yang terlontar saat orang tuanya bertengkar. Konflik dalam rumah tangga memang tidak terhindarkan. Namun, yang jarang disadari, cara mengelola pertengkaran di keluarga justru membentuk cara anak memahami emosi, hubungan, dan rasa […]

  • Anak Garut Peduli Lingkungan

    Anak Garut Mulai Bersuara, Lingkungan Jadi Perhatian Generasi Muda

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    AlbadarPost.com, BERITA DAERAH – Anak Garut peduli lingkungan mulai mendapat ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai persoalan lingkungan di daerahnya. Dalam kegiatan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, anak dan generasi muda menyampaikan hasil riset, pengalaman, serta pandangan tentang lingkungan sehat dan pengelolaan sampah organik. Seminar Diseminasi Riset Anak atas Lingkungan, Advokasi Hak Anak, serta […]

  • rezeki menurut Islam

    7 Kebiasaan yang Membuka Peluang Rezeki Menurut Islam, Lengkap dengan Dali

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 223
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Rezeki menurut Islam tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari kebiasaan yang penuh keberkahan. Banyak amalan pembuka rezeki, cara membuka pintu rezeki dalam Islam, dan kebiasaan mendatangkan rezeki yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Menariknya, kebiasaan ini sering dianggap sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, dampaknya bisa mengubah kehidupan […]

  • Peresmian Gedung Gus Dur RSU Muslimat Ponorogo oleh Gus Ipul, Khofifah, dan Rais Aam PBNU dengan peninjauan fasilitas kesehatan modern

    Fakta Penting Gedung Gus Dur Ponorogo: Dari Sejarah Hingga Layanan Unggulan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 205
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Gedung Gus Dur Ponorogo resmi beroperasi dan langsung mencuri perhatian publik. Peresmian gedung ini menjadi tonggak penting penguatan layanan kesehatan, khususnya untuk ibu dan anak di Ponorogo. Selain itu, kehadiran fasilitas baru ini juga memperluas layanan fertilitas atau kesuburan yang semakin dibutuhkan masyarakat. Peresmian Gedung Gus Dur Ponorogo ini melibatkan sejumlah tokoh […]

expand_less