Breaking News
light_mode
Beranda » Editorial » Ketika Anak Terpapar Ekstremisme

Ketika Anak Terpapar Ekstremisme

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Editorial Albadarpost: Paparan ekstremisme pada anak mengungkap kegagalan pengawasan ruang digital dan perlindungan sosial.

albadarpost.comEDITORIAL – Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan yang mengganggu nurani publik. Densus 88 Antiteror Polri menangani 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi ekstrem seperti White Supremacy dan neo-Nazi. Paparan ekstremisme anak ini bukan sekadar fenomena daring, melainkan telah menjelma menjadi ancaman fisik di ruang pendidikan.

Fakta yang disampaikan kepolisian menunjukkan bahwa sebagian anak tersebut telah menguasai senjata berbahaya dan merancang serangan terhadap sekolah serta rekan sebayanya. Di titik ini, paparan ekstremisme anak tidak lagi bisa dipahami sebagai ekspresi kenakalan remaja. Ini adalah persoalan keamanan, pendidikan, dan kegagalan proteksi sosial yang saling berkelindan.

Fakta Dasar: Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menjelaskan bahwa paparan ekstremisme anak berasal dari berbagai platform digital. Mulai dari komunitas True Crime Community (TCC), konten kekerasan ekstrem, hingga gim daring berbasis gore. Ideologi White Supremacy dan neo-Nazi dijadikan legitimasi untuk melampiaskan dendam, kebencian, dan dorongan kekerasan.

Senjata yang digunakan pun mudah diakses. Senjata mainan yang dimodifikasi, pisau, hingga alat berbahaya lainnya dibeli secara daring. Artinya, ruang digital yang longgar telah membuka dua pintu sekaligus: radikalisasi ideologis dan akses terhadap alat kekerasan.

Baca juga: Menggugat Sistem Perlindungan Negara

Kepala Bareskrim Polri Komjen Syahardiantono menyebutkan bahwa Densus 88 bergerak cepat karena rencana aksi sudah menyasar lingkungan sekolah. Negara mencegah tragedi sebelum terjadi. Ini patut diapresiasi. Namun, fakta bahwa ancaman ini tumbuh diam-diam di rumah, kamar tidur, dan layar gawai anak-anak justru menjadi alarm yang lebih keras.

Analisis Redaksi: Negara Hadir, Tapi Terlambat di Hulu

Albadarpost memandang paparan ekstremisme anak sebagai kegagalan sistemik yang tidak bisa dibebankan semata pada aparat keamanan. Penindakan oleh Densus 88 adalah langkah hilir. Masalah sesungguhnya berada jauh di hulu: lemahnya literasi digital, minimnya pendampingan keluarga, dan absennya kontrol platform.

Anak-anak ini tidak sedang memperjuangkan ideologi global secara sadar. Mereka mencari identitas, pelampiasan emosi, dan rasa memiliki. Ideologi ekstrem hanya menjadi kendaraan. Ketika negara, sekolah, dan keluarga gagal menyediakan ruang aman untuk ekspresi dan dialog, ruang itu diambil alih oleh algoritma dan komunitas gelap.

Paparan ekstremisme anak juga menunjukkan bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Mengandalkan klaim Zero Terrorism Attack tanpa membenahi ekosistem sosial justru berisiko menciptakan ilusi aman. Bahaya tidak selalu datang dalam bentuk bom. Ia bisa tumbuh sebagai kebencian sunyi di bangku sekolah.

Konteks Historis: Pola Global, Dampak Lokal

Fenomena ini bukan khas Indonesia. Di Amerika Serikat dan Eropa, radikalisasi anak melalui komunitas daring ekstrem kanan telah lama menjadi perhatian. White Supremacy berkembang bukan lewat ceramah ideologis, melainkan lewat humor gelap, game, dan narasi kekerasan yang dibungkus hiburan.

Indonesia kini memasuki fase serupa. Perbedaannya, sistem pendidikan dan pengawasan digital kita belum siap. Negara-negara lain mulai memaksa platform bertanggung jawab atas algoritma mereka. Indonesia masih tertinggal dalam regulasi yang melindungi anak dari konten ekstremisme non-religius.

Sikap Redaksi: Melindungi Anak, Membersihkan Tata Kelola

Albadarpost berpihak tegas pada perlindungan anak dan keadilan sosial. Paparan ekstremisme anak harus diperlakukan sebagai krisis lintas sektor. Negara perlu memperkuat literasi digital berbasis emosi dan empati, bukan sekadar imbauan normatif.

Baca juga: Polres Tasikmalaya Bongkar Penyalahgunaan Gas Subsidi

Platform digital harus diminta bertanggung jawab. Sekolah perlu menjadi ruang aman dialog, bukan sekadar tempat belajar akademik. Keluarga harus diposisikan sebagai benteng pertama, dengan dukungan negara, bukan disalahkan sendirian.

Pendekatan represif terhadap anak harus menjadi pilihan terakhir. Rehabilitasi psikososial, pendampingan intensif, dan pemulihan lingkungan harus diutamakan. Anak-anak ini adalah korban ekosistem yang abai, bukan musuh negara.

Reflektif: Ancaman yang Tidak Boleh Diabaikan

Paparan ekstremisme anak adalah cermin retak dari ruang digital dan sosial kita. Negara boleh bangga mencegah serangan. Tetapi mencegah kebencian tumbuh di kepala anak jauh lebih mendesak.
Keamanan sejati dimulai ketika anak-anak merasa dilindungi, bukan diawasi. (Ds)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • rokok ilegal

    Bea Cukai Jabar Tindak Rokok Ilegal, 88 Juta Batang Disita

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Bea Cukai Jawa Barat menyita 88 juta batang rokok ilegal hingga November 2025, mayoritas dari jalur darat perlintasan. albadarpost.com, LENSA – Kepala Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jawa Barat, Setiawan, menyatakan wilayahnya menjadi titik perlintasan paling strategis dalam distribusi rokok ilegal. Hingga November 2025, total 88 juta batang rokok tanpa cukai disita dan dimusnahkan […]

  • Putusan MK pencemaran nama baik

    MK Tegaskan Kritik Pejabat Bukan Pencemaran Nama Baik

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 70
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Putusan Mahkamah Konstitusi terbaru kembali menguji arah demokrasi Indonesia. Di tengah meningkatnya penggunaan pasal pencemaran nama baik untuk merespons kritik, MK menegaskan batas yang selama ini kabur: negara tidak boleh mempidanakan kritik terhadap pejabat dan kebijakan publik. Putusan ini penting sekarang, ketika ruang berekspresi warga kerap berhadapan dengan ancaman hukum. Putusan Nomor […]

  • Qanaah

    Rahasia Qanaah yang Membuat Hidup Lebih Bahagia

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 66
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Suatu hari, seorang ulama pernah bertemu dengan seorang petani yang hidup sangat sederhana. Rumahnya kecil, pakaiannya biasa, dan makanannya tidak mewah. Namun petani itu selalu tersenyum dan terlihat sangat bahagia. Sang ulama kemudian bertanya, “Apa yang membuatmu selalu terlihat tenang?” Petani itu menjawab dengan sederhana, “Saya percaya Allah selalu memberikan yang terbaik. […]

  • reintroduksi banteng jawa

    Reintroduksi Banteng Jawa: Mandat Negara, Regulasi Konservasi, dan Celah Pertanggungjawaban

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 90
    • 0Komentar

    BBKSDA Jawa Barat memperkuat reintroduksi banteng jawa di Pangandaran guna menekan ancaman kepunahan. albadarpost.com, PERSPEKTIF – Pusat Reintroduksi Banteng Jawa di Pangandaran bukan sekadar proyek konservasi. Program ini berdiri di atas kerangka hukum yang mengikat, dengan konsekuensi administratif dan pidana bagi pihak yang melanggar. Reintroduksi banteng jawa, menurut otoritas kehutanan, adalah implementasi langsung kewajiban negara […]

  • lima kesempatan hidup

    Lima Kesempatan Hidup Manusia yang Sering Disia-siakan

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 77
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Ulama kembali mengingatkan umat Islam tentang bahaya mengabaikan lima kesempatan hidup yang ditegaskan Rasulullah SAW. Peringatan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan kritik terbuka terhadap pola hidup umat yang kian lalai mengelola waktu, kesehatan, dan kemampuan. Ketika peluang hidup disia-siakan, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi meluas menjadi krisis sosial dan spiritual. […]

  • Botol jamu modern berisi kunyit asam dan jahe lemon dalam kemasan estetik dengan latar minimalis kekinian.

    Jamu Modern: Herbal Tradisional yang Bertransformasi

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 85
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Jamu modern kini hadir sebagai wajah baru dari minuman herbal tradisional. Jika dulu jamu identik dengan rasa pahit dan botol sederhana, sekarang jamu modern—atau minuman herbal kekinian—tampil estetik, segar, dan digemari generasi muda. Transformasi ini bukan sekadar perubahan kemasan; ia mencerminkan pergeseran gaya hidup sehat yang semakin populer. Saat tren wellness global […]

expand_less