Breaking News
light_mode
Beranda » Lifestyle » Lima Kesempatan Hidup Manusia yang Sering Disia-siakan

Lima Kesempatan Hidup Manusia yang Sering Disia-siakan

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 223
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, LIFESTYLE – Ulama kembali mengingatkan umat Islam tentang bahaya mengabaikan lima kesempatan hidup yang ditegaskan Rasulullah SAW. Peringatan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan kritik terbuka terhadap pola hidup umat yang kian lalai mengelola waktu, kesehatan, dan kemampuan. Ketika peluang hidup disia-siakan, dampaknya tidak berhenti pada individu, tetapi meluas menjadi krisis sosial dan spiritual.

Hadits “Ightanim khomsan qobla khomsin” menjadi alarm keras. Ia menegaskan bahwa hidup tidak netral. Setiap fase membawa tanggung jawab. Ketika kesempatan habis, penyesalan datang tanpa ruang koreksi.

Hadits yang Ditinggalkan dalam Praktik

Rasulullah SAW bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara.”

Para ulama menilai hadits ini sebagai prinsip dasar manajemen hidup seorang Muslim. Namun, dalam praktik keseharian, pesan ini sering kalah oleh budaya menunda, konsumtif, dan abai terhadap nilai amal.

Baca juga: Makna Takdir Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Imam Ibnul Qayyim menyebut waktu sebagai “modal utama manusia.” Ketika modal ini habis tanpa hasil, manusia berada dalam kerugian nyata. Sayangnya, banyak umat baru menyadari nilai waktu setelah kesempatan itu hilang.

Masa Muda Disia-siakan

Kesempatan pertama adalah masa muda sebelum masa tua. Fakta sosial menunjukkan masa muda kini sering dihabiskan tanpa arah. Energi besar tidak selalu diiringi kesadaran amal dan kontribusi.

Padahal, Imam Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan bahwa kesempatan berlalu lebih cepat daripada awan. Ketika usia bertambah, tubuh melemah, dan semangat menurun, ruang untuk mengejar ketertinggalan menjadi sempit.

Mengabaikan masa muda bukan sekadar kerugian personal. Ia menciptakan generasi yang rapuh secara spiritual dan miskin keteladanan.

Sehat tapi Lalai

Kesempatan kedua adalah sehat sebelum sakit. Banyak orang memperlakukan kesehatan sebagai kondisi permanen. Padahal, Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesehatan termasuk nikmat yang sering dilupakan.

Ketika sakit datang, banyak rencana ibadah dan amal sosial terhenti. Ulama menilai kelalaian ini sebagai bentuk ketidaksyukuran yang nyata. Sehat tanpa amal bukan prestasi, melainkan potensi yang terbuang.

Kecukupan yang Tidak Membela Sesama

Kesempatan ketiga adalah mampu sebelum kekurangan. Dalam pandangan Islam, harta bukan simbol status, melainkan alat kebermanfaatan.

Namun, realitas menunjukkan kecukupan sering berhenti pada konsumsi pribadi. Sedekah dan kepedulian sosial kerap menjadi prioritas terakhir. Ketika masa sulit datang, penyesalan muncul bersama kesadaran yang terlambat.

Al-Qur’an menegaskan bahwa harta tidak akan berguna kecuali yang dibelanjakan di jalan kebaikan.

Waktu Luang yang Terbuang

Kesempatan keempat adalah waktu luang sebelum kesibukan. Ulama sepakat bahwa waktu luang adalah ladang amal. Namun, di era digital, waktu luang justru habis dalam aktivitas tanpa nilai ibadah dan produktivitas.

Kesibukan sering dijadikan alasan. Padahal, banyak kesibukan lahir dari kelalaian mengatur waktu sebelumnya. Ketika waktu habis, penyesalan menjadi satu-satunya respon.

Hidup yang Dianggap Panjang

Kesempatan kelima adalah hidup sebelum mati. Ini pesan paling tegas. Setiap detik hidup adalah peluang terakhir yang terus berjalan.

Baca juga: Virus Nipah, Ancaman Global Tanpa Obat dan Vaksin

Surat Al-‘Ashr menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Ayat ini tidak memberi ruang netral. Hidup tanpa amal berarti rugi.

Dari Kelalaian Pribadi ke Dampak Sosial

Ulama menilai pengabaian lima kesempatan hidup telah melahirkan krisis disiplin, rendahnya kepedulian sosial, dan melemahnya integritas moral umat. Masalah ini bukan isu personal semata, tetapi persoalan kolektif.

Ketika umat lalai, dampaknya terlihat pada lemahnya solidaritas, minimnya teladan, dan berulangnya penyesalan yang tidak produktif.

Hadits lima kesempatan hidup bukan hiasan mimbar. Ia adalah peringatan keras tentang batas waktu manusia. Selama kesempatan masih ada, tanggung jawab belum gugur. Ketika waktu habis, tidak ada negosiasi. (ARR)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Doa Belum Dikabulkan

    Saat Allah Belum Menjawab Doamu

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Pukul dua dini hari. Sebuah lampu kamar masih menyala. Di sudut ruangan, seseorang baru saja menyelesaikan salat tahajud. Tangannya menengadah cukup lama. Air matanya sempat jatuh. Permohonannya juga tidak berubah dari malam-malam sebelumnya. Ia meminta satu hal yang sama. Pekerjaan. Kesembuhan. Jodoh. Atau mungkin jalan keluar dari masalah yang sudah berbulan-bulan menghuni […]

  • Kasus Korupsi Dana Desa

    Kasus Korupsi Dana Desa Kutim Ungkap Investasi Bodong Bendahara Rp 2,1 Miliar

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Kasus Korupsi Dana Desa di Kutim terungkap setelah bendahara desa diduga gelapkan Rp 2,1 miliar untuk investasi bodong. albadarpost.com, LENSA – Gulungan perkara Kasus Korupsi Dana Desa di Kutai Timur kembali mencuat setelah Kejaksaan Negeri Kutai Timur menetapkan bendahara Desa Bumi Etam, berinisial J, sebagai tersangka penyalahgunaan anggaran desa hingga Rp 2,1 miliar untuk investasi […]

  • Petugas Polres Garut melakukan patroli dan pengamanan di kawasan wisata pantai saat libur panjang dipadati wisatawan.

    Garut Diserbu Wisatawan Saat Long Weekend, Polisi Siaga di Pantai hingga Jalur Arteri

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 188
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Libur panjang membuat kawasan wisata di Kabupaten Garut dipadati wisatawan sejak Kamis 14 Mei 2026. Kondisi tersebut mendorong jajaran Polres Garut memperketat pengamanan libur Garut di sejumlah titik strategis. Pengawasan difokuskan ke objek wisata, jalur arteri, gereja, hingga kawasan pantai yang mengalami lonjakan pengunjung selama long weekend. Arus kendaraan menuju kawasan […]

  • Kepemimpinan Santri

    Jarang Disadari, Ini 5 Cara Pesantren Mencetak Jiwa Pemimpin

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 220
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Tidak banyak yang sadar bahwa banyak pemimpin tangguh di Indonesia justru lahir dari lingkungan sederhana: pesantren. Di balik jadwal padat dan kehidupan disiplin, kepemimpinan santri terbentuk melalui kebiasaan harian yang tampak biasa, namun memiliki dampak luar biasa. Nilai kepemimpinan pesantren, karakter santri, serta pola pendidikan berbasis pengalaman nyata membuat santri belajar memimpin […]

  • perjalanan dinas

    Perjalanan Dinas: Pos Favorit Anggaran yang Minim Dampak Publik

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Editorial Albadarpost: perjalanan dinas terus membebani anggaran publik tanpa dampak layanan yang jelas. Perjalanan Dinas yang Tak Pernah Sepi albadarpost.com, EDITORIAL – Perjalanan dinas kembali menjadi sorotan. Bukan karena prestasinya, melainkan karena ketahanannya sebagai pos anggaran yang nyaris tak tersentuh kritik serius. Dari pusat hingga daerah, pos ini terus tumbuh dan nyaris selalu habis terserap. […]

  • Mufassirah Indonesia

    Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Mufassirah? Ini Harapan Menag

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 100
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Harapan Menteri Agama agar lahir lebih banyak mufassirah dari perguruan tinggi Islam tidak sekadar menjadi pesan saat meresmikan STAI Aisyah Bogor. Pernyataan tersebut juga kembali membuka ruang diskusi mengenai kebutuhan Indonesia terhadap ulama perempuan yang memiliki kompetensi dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Saat meresmikan kampus tersebut, Menteri Agama berharap lembaga pendidikan tinggi […]

expand_less