Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Nasional » Kasus Ujaran Kebencian, Polisi Telusuri Jejak Pelarian Resbob

Kasus Ujaran Kebencian, Polisi Telusuri Jejak Pelarian Resbob

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pelarian streamer Resbob usai kasus ujaran kebencian berakhir di Semarang, polisi dalami motif.

albadarpost.com, BERITA NASIONALKepolisian Daerah Jawa Barat memburu seorang streamer yang tersandung kasus ujaran kebencian bermuatan penghinaan terhadap Suku Sunda. Upaya melarikan diri itu berakhir di Semarang, Jawa Tengah, setelah polisi melacak pergerakan pelaku lintas kota.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyentuh isu sensitif terkait identitas dan martabat kelompok masyarakat. Aparat menilai pelarian pelaku justru memperkuat urgensi penegakan hukum terhadap tindak ujaran kebencian di ruang digital.


Jejak Pelarian Lintas Kota

Streamer tersebut diketahui bernama Muhammad Adimas Firdaus Putra Nasihan, yang dikenal dengan nama Resbob. Berdasarkan penelusuran kepolisian, Resbob tercatat sebagai warga Jakarta Timur. Namun sejak kasusnya viral di media sosial, ia terdeteksi berpindah-pindah lokasi.

Menurut data kepolisian, Resbob sempat berada di Surabaya sebelum bergerak ke Solo. Pergerakan itu dilakukan dalam waktu singkat, hingga akhirnya pelariannya terhenti di wilayah Semarang. Polisi menyebut, perpindahan lintas kota itu dilakukan tanpa tujuan yang jelas.

“Ia hanya berupaya lari sejauh-jauhnya tanpa tujuan pasti, untuk bersembunyi dari kejaran petugas,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Hendra Rochmawan, Selasa (16/12/2025).


Upaya Menghilangkan Jejak Digital

Dalam proses pelarian tersebut, Resbob diduga berupaya memutus jejak digital agar tidak mudah dilacak aparat. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan tidak membawa telepon genggam miliknya.

Kombes Hendra menjelaskan, Resbob menitipkan ponselnya kepada sang pacar yang berada di Surabaya. Dengan cara itu, keberadaan pelaku tidak terlacak melalui perangkat komunikasi pribadi.

“Kemudian HP-nya dititipkan kepada pacar di Surabaya. Sehingga yang bersangkutan tidak pegang HP lagi,” ujar Hendra.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya sadar untuk menghindari pelacakan aparat, mengingat perangkat seluler menjadi salah satu sarana utama penelusuran keberadaan seseorang dalam penyelidikan modern.


Persembunyian di Ungaran

Selama berada di Semarang, Resbob sempat bersembunyi di sebuah rumah di kawasan Ungaran. Polisi akhirnya menemukan lokasi persembunyian itu setelah melakukan penelusuran lanjutan terhadap jaringan pergerakan pelaku.

Hingga saat ini, kepolisian masih mendalami motif Resbob melakukan ujaran kebencian yang berujung pada penghinaan terhadap Suku Sunda. Pemeriksaan juga diarahkan pada konteks konten yang disampaikan, serta dampaknya terhadap ketertiban dan keharmonisan sosial.

Baca juga: Budidaya Lobster Pangandaran Perkuat Ekonomi Pesisir

Kasus ini menambah daftar panjang perkara ujaran kebencian di ruang digital yang berujung proses hukum. Aparat menilai, popularitas di platform daring tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menyebarkan konten yang merendahkan kelompok tertentu.


Penegakan Hukum di Ruang Digital

Polda Jawa Barat menegaskan bahwa penanganan kasus ujaran kebencian menjadi prioritas, terutama ketika konten yang disebarkan berpotensi memicu konflik sosial. Ruang digital, menurut polisi, tetap tunduk pada hukum yang berlaku.

Langkah cepat aparat memburu pelaku lintas wilayah juga menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak berhenti pada batas administratif daerah. Koordinasi antardaerah menjadi kunci dalam menangani kejahatan berbasis teknologi informasi.

Kasus Resbob menjadi pengingat bahwa ujaran kebencian memiliki konsekuensi hukum nyata, tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata.

Pelarian lintas kota yang dilakukan Resbob berakhir di Semarang, namun proses hukum masih berjalan untuk mengungkap motif dan dampak ujaran kebencian yang dilakukannya.

Kasus ujaran kebencian streamer Resbob berujung pelarian lintas kota dan penindakan polisi hingga Semarang. (Red/Asep Chandra)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Theodore Kwan, kuliah di NTU, IQ 154

    Kisah Theodore Kwan, Bocah 7 Tahun Kuliah Kimia di NTU dengan IQ 154

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Bocah jenius berusia 7 tahun, Theodore Kwan, kuliah di NTU Singapura dengan IQ 154 dan semangat tinggi belajar kimia. albadarpost.com, PELITA – Di tengah aula kuliah Nanyang Technological University (NTU) Singapura, seorang bocah berusia tujuh tahun duduk di antara mahasiswa dewasa, mencatat dengan serius setiap rumus kimia yang terpampang di layar. Namanya Theodore Kwan, anak […]

  • Ilustrasi seorang muslim membaca doa keselamatan perjalanan sebelum memulai perjalanan jauh.

    Doa Safar Lengkap dengan Dalil, Amalan Penting Sebelum Bepergian

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 20
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Doa keselamatan perjalanan merupakan amalan penting yang dianjurkan dalam Islam ketika seseorang hendak bepergian. Doa memohon keselamatan di perjalanan atau doa safar menjadi bentuk ikhtiar spiritual agar perjalanan berlangsung aman, lancar, dan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Sejak zaman Rasulullah SAW, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa perjalanan sebelum memulai safar. Selain […]

  • Santri belajar di pesantren tradisional yang menunjukkan alasan pesantren bertahan hingga sekarang.

    Di Tengah Modernisasi, Mengapa Pesantren Justru Semakin Bertahan?

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 9
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Pesantren bertahan hingga sekarang bukan sekadar karena tradisi lama. Justru, pesantren bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Banyak orang bertanya mengapa pesantren tetap eksis, bahkan ketika sistem pendidikan modern berkembang pesat. Faktanya, keberlanjutan pesantren dipengaruhi oleh kekuatan nilai, jaringan sosial, serta kemampuan lembaga ini menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. […]

  • Uya Kuya tak langgar etik

    MKD Putuskan Uya Kuya Tak Langgar Etik, Kembali Aktif di DPR

    • calendar_month Rabu, 5 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 11
    • 0Komentar

    MKD DPR RI menyatakan Uya Kuya tak langgar etik dan kembali aktif sebagai anggota DPR Fraksi PAN. Uya Kuya Resmi Dibebaskan dari Tuduhan Pelanggaran Etik DPR albadarpost.com, LENSA – Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI secara resmi memutuskan Uya Kuya tak langgar etik dan mengembalikannya ke posisi semula sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat […]

  • perbandingan sistem kuota haji

    Perbandingan Sistem Kuota Haji di Negara Lain, Indonesia Perlu Belajar?

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 12
    • 0Komentar

    “Perbandingan sistem kuota haji di negara lain: pelajari mekanisme alokasi Saudi, pembagian kuota, dan pelajaran penting bagi Indonesia.” albadarpost.com, CENDIKIA. Banyak negara muslim memiliki sistem pembagian kuota haji yang berbeda-beda berdasarkan populasi, aturan pemerintah, dan regulasi lokal. Perbandingan sistem kuota haji di negara lain mengungkap bagaimana praktik alokasi kuota yang adil, transparan, dan terkadang kontroversial […]

  • pilkades digital

    Karawang Gelar Pilkades Digital dan Uji Dampaknya bagi Transparansi Publik

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Karawang uji coba pilkades digital pertama di Jabar, dengan sistem offline dan bukti suara fisik untuk transparansi. albadarpost.com, LENSA – Karawang bersiap memasuki babak baru tata kelola desa. Kabupaten ini menjadi daerah pertama di Jawa Barat yang menggelar pilkades digital, sebuah sistem pemilihan berbasis perangkat elektronik yang mulai diuji sebagai model nasional. Langkah ini penting […]

expand_less