Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Hukum Buzzer Politik dalam Islam, Halal atau Haram?

Hukum Buzzer Politik dalam Islam, Halal atau Haram?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • visibility 193
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Fenomena buzzer politik kini semakin sering dibahas masyarakat. Dalam perspektif Buzzer Politik Islam, topik ini menjadi sensitif karena berkaitan dengan etika berbicara, menyebarkan informasi, hingga tanggung jawab moral di media sosial.

Tidak sedikit orang mulai mempertanyakan: apakah menjadi buzzer politik diperbolehkan dalam Islam?

Pertanyaan itu muncul karena media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat berbagi pendapat. Platform digital sudah berubah menjadi arena perang opini, propaganda, bahkan saling serang antarkelompok politik.

Dan situasinya terasa semakin panas menjelang momentum politik tertentu.

Di media sosial, orang bisa dengan cepat membagikan potongan video, narasi emosional, hingga komentar provokatif hanya dalam hitungan detik.

Kadang tanpa sempat memeriksa kebenarannya lebih dulu.

Islam Sangat Keras soal Fitnah dan Informasi Bohong

Dalam Islam, menyampaikan informasi tidak bisa dilakukan sembarangan. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan tegas agar umat Islam memverifikasi kabar sebelum menyebarkannya.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS Al-Hujurat: 6)

Ayat ini sering menjadi dasar utama pembahasan etika informasi dalam Islam.

Sebab buzzer politik kerap dikaitkan dengan:

  • penyebaran hoaks,
  • manipulasi opini,
  • framing berlebihan,
  • hingga serangan personal terhadap lawan politik.

Padahal Islam melarang keras fitnah dan kebohongan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR Muslim)

Artinya, seorang Muslim tidak boleh asal membagikan informasi hanya karena sesuai dengan kelompok atau kepentingannya.

Karena setiap ucapan tetap akan dipertanggungjawabkan.

Ketika Media Sosial Lebih Ramai daripada Ruang Diskusi

Belakangan, media sosial memang terasa semakin bising. Setiap hari muncul potongan video, debat, dan narasi politik yang terus berganti. Ada yang membaca sambil ngopi pagi sebelum kerja. Ada juga yang diam cukup lama hanya memandangi kolom komentar yang semakin panas.

Tidak sedikit orang membaca debat politik sambil rebahan malam hari dengan layar ponsel yang terus menyala sampai lewat tengah malam.

Kadang seseorang baru sadar sudah menghabiskan hampir satu jam di kolom komentar politik tanpa benar-benar mendapat informasi baru.

Dan itu terjadi perlahan.

Lucunya, sebagian akun hari ini lebih sibuk membela tokoh politik dibanding menjaga hubungan dengan keluarga sendiri.

Fenomena inilah yang membuat banyak orang mulai mempertanyakan batas moral dalam aktivitas digital modern.

Apakah Semua Buzzer Politik Haram?

Dalam kajian para ulama kontemporer, tidak semua aktivitas politik digital otomatis haram.

Jika seseorang menyampaikan informasi yang benar, edukatif, tidak memfitnah, dan bertujuan membangun kebaikan publik, maka aktivitas itu bisa masuk ranah amar ma’ruf.

Namun masalah muncul ketika:

  • informasi dipelintir,
  • fakta disembunyikan,
  • lawan dihina,
  • atau opini dibentuk dengan cara manipulatif.

Di titik itulah banyak ulama mulai mengingatkan bahaya etika digital yang rusak.

Sebab Islam tidak hanya menilai tujuan, tetapi juga cara.

Dan itu sering dilupakan.

Tidak sedikit pengguna media sosial membaca berita politik sambil terus menggulir kolom komentar yang isinya saling menyerang.

Bahkan ada yang mengaku mulai lelah melihat perdebatan yang terasa tidak selesai-selesai.

Ulama Ingatkan Bahaya Ghibah Digital dan Dosa Jari

Dalam Islam, dosa tidak hanya lahir dari lisan. Hari ini, jari di layar ponsel juga bisa membawa dosa yang sama.

Imam An-Nawawi dalam penjelasan tentang ghibah menegaskan bahwa menyebarkan keburukan orang lain tetap haram, baik secara lisan maupun tulisan.

Karena itu, komentar, caption, unggahan ulang, hingga meme politik tetap masuk wilayah moral yang harus dijaga.

Apalagi jika bertujuan menjatuhkan martabat seseorang.

Allah SWT juga berfirman:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi media sosial hari ini.

Karena sebagian akun justru hidup dari memperbesar konflik.

Kadang narasinya sengaja dibuat kasar agar ramai.

Kadang judul dibuat panas agar viral.

Dan perlahan, kebisingan digital mulai dianggap biasa.

Politik dalam Islam Tetap Harus Bermoral

Islam tidak melarang umatnya terlibat dalam politik. Bahkan kepedulian terhadap urusan masyarakat termasuk bagian penting dalam kehidupan sosial Islam.

Namun politik tetap harus dijalankan dengan:

  • kejujuran,
  • adab,
  • akhlak,
  • dan tanggung jawab moral.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi pernah mengingatkan bahwa dakwah maupun komunikasi publik tidak boleh dibangun di atas kebohongan dan permusuhan.

Karena kebencian yang terus dipelihara bisa merusak persaudaraan umat.

Di sisi lain, media sosial hari ini memang membuat batas antara dakwah, opini, hiburan, dan propaganda menjadi semakin tipis.

Ada orang yang awalnya hanya ikut membagikan konten politik karena tren pertemanan.

Ada pula yang perlahan terbiasa menyerang pihak lain demi engagement.

Dan itu sering terjadi tanpa terasa.

Bijak Bermedia Sosial Jadi Bagian Akhlak Muslim

Kajian tentang buzzer politik akhirnya bukan hanya soal politik itu sendiri. Tetapi juga soal akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab seorang Muslim di ruang digital.

Karena setiap tulisan akan meninggalkan jejak.

Setiap komentar akan dibaca orang lain.

Dan setiap unggahan bisa memengaruhi banyak pikiran sekaligus.

Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah tanda keselamatan iman.

Hari ini, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya lisan.

Tetapi juga jempol dan tombol “share”.

Sebab di zaman media sosial seperti sekarang, dosa kadang tidak lagi keluar dari mulut.

Tetapi dari layar kecil yang setiap hari kita genggam terlalu lama. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH Miftah Fauzi menyuarakan aspirasi pedagang Pasar Cikurubuk terkait keadilan dan kebijakan Pemkot Tasikmalaya

    KH Miftah Fauzi Menunggu Ketegasan Pemkot Tasikmalaya

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 128
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – KH Miftah Fauzi menyatakan bahwa dirinya bersama ribuan pedagang Pasar Cikurubuk hingga kini masih menunggu ketegasan sikap Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam menyelesaikan persoalan pasar tradisional. Menurutnya, pasar rakyat bukan hanya urusan ekonomi, melainkan juga menyangkut martabat, keadilan, dan keberpihakan negara terhadap masyarakat kecil. Hal tersebut disampaikan KH Miftah Fauzi saat ditemui […]

  • FGD May Day Tasikmalaya 2026 mempertemukan pemerintah, pekerja, dan pelaku usaha dalam dialog ketenagakerjaan di Kota Tasikmalaya

    FGD May Day 2026: Langkah Baru Hubungan Industrial Tasikmalaya

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 100
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Tasikmalaya tahun ini tidak hanya berlangsung sebagai agenda seremonial. Pemerintah Kota Tasikmalaya justru memilih pendekatan yang lebih terbuka dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan pekerja dalam satu meja dialog, Minggu (3/5/2026). Kegiatan yang digelar oleh Dinas […]

  • Learning Loss

    Nilai TKA Rendah, Salah Siswa?

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Nilai TKA rendah mencerminkan learning loss dan kesenjangan struktural pendidikan yang belum tertangani secara sistemik. Ujian sebagai Alarm, Bukan Vonis albadarpost.com, PERSPEKTIF – Rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali memantik perdebatan publik. Namun, persoalan ini tidak sesederhana angka rapor nasional. Nilai ujian yang rendah bukan vonis atas kemampuan siswa, melainkan alarm atas masalah struktural […]

  • Wiramuda Hebat Garut

    Bootcamp Unik Garut Cetak Calon Pengusaha Muda

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 75
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Wiramuda Hebat Garut kembali hadir dengan konsep yang berbeda. Program pembinaan wirausaha muda yang digagas Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Garut itu tidak hanya menghadirkan pelatihan kewirausahaan, tetapi juga membangun pola pikir entrepreneur melalui pendekatan yang lebih dekat dengan pengalaman nyata. Karena itu, Bootcamp Wiramuda Hebat 2026 menjadi salah satu ruang […]

  • ancaman anak presiden uganda

    Dunia Heboh! Ancaman Anak Presiden Uganda ke Erdogan Tuai Sorotan

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Isu ancaman anak presiden Uganda mendadak ramai dibicarakan. Nama Muhoozi Kainerugaba muncul di berbagai pemberitaan setelah pernyataannya yang mengejutkan ditujukan kepada Recep Tayyip Erdoğan. Ucapan tersebut langsung memancing perhatian karena dinilai tidak biasa untuk konteks hubungan antarnegara. Tidak butuh waktu lama, respons publik pun bermunculan. Banyak yang terkejut, sebagian lagi menganggapnya […]

  • Ilustrasi Abdurrahman bin Auf sahabat Nabi yang kaya dan dermawan sedang bersedekah kepada masyarakat

    Rahasia Sukses Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Super Kaya

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 159
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESSTYLE – Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sahabat Nabi yang kaya raya sekaligus dermawan luar biasa. Sosok ini sering disebut sebagai contoh ideal bagaimana kekayaan dapat membawa manfaat besar. Kisah Abdurrahman bin Auf dan kemurahan hatinya, serta gaya hidup sederhana di tengah limpahan harta, menjadi inspirasi sepanjang masa. Awal Perjalanan: Dari Nol hingga Sukses […]

expand_less