Media Sosial hingga Hilangnya Rasa Malu, Inikah Tanda Akhir Zaman?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi kehidupan modern dengan media sosial dan keramaian kota.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, LIFESTYLE – Dulu banyak orang membayangkan akhir zaman akan datang lewat peristiwa besar yang menggetarkan dunia. Langit gelap, bumi berguncang, atau suara yang membuat manusia panik berlarian. Namun sekarang, sebagian orang justru mulai merasa bahwa tanda-tanda dalam Hadis Akhir Zaman hadir perlahan di tengah kehidupan modern.
Bukan lewat suara menggelegar.
Tetapi lewat perubahan manusia itu sendiri.
Media sosial semakin ramai, tetapi percakapan makin mudah berubah menjadi pertengkaran. Informasi tersebar dalam hitungan detik, sementara kebenaran sering tertinggal di belakang. Semua orang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau memahami.
Sebagian orang menilai fenomena tersebut mirip dengan tanda-tanda yang disebut dalam hadis.
Semua Orang Punya Suara, Tapi Tidak Semua Membawa Ilmu
Hari ini, siapa pun bisa bicara tentang apa saja. Cukup satu akun dan satu unggahan, seseorang bisa terlihat seperti ahli.
Padahal belum tentu memahami persoalan secara utuh.
Fenomena itu sering terlihat di kolom komentar media sosial. Perdebatan kecil bisa berubah panas hanya dalam beberapa menit. Bahkan di grup WhatsApp keluarga, obrolan sederhana kadang berakhir saling sindir hanya karena perbedaan pandangan.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Di antara tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan banyaknya kebodohan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis itu terasa semakin dekat dengan kehidupan sekarang.
Orang lebih cepat membagikan kabar dibanding tabayun, memeriksa kebenarannya. Judul sensasional lebih mudah dipercaya daripada penjelasan panjang yang menenangkan.
Ironisnya, mereka yang benar-benar memahami masalah sering memilih diam. Sementara yang baru membaca satu potongan informasi sudah merasa paling benar.
Hilangnya Rasa Malu di Era Konten
Dulu, banyak orang merasa malu ketika melakukan kesalahan di depan umum. Sekarang situasinya mulai berubah.
Sebagian orang justru sengaja membuka aibnya sendiri demi perhatian dan jumlah viewer.
Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun jika diperhatikan, kehidupan modern justru sering memperlihatkan hal sebaliknya.
Tidak sedikit orang rela membuat sensasi demi viral. Ada yang memamerkan pertengkaran rumah tangga, ada pula yang menjadikan masalah pribadi sebagai hiburan publik.
Di warung kopi, fenomena seperti ini sering menjadi bahan obrolan.
“Sekarang mah yang penting rame dulu,” ucap seorang warga sambil tertawa kecil ketika membahas konten viral di media sosial.
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan realita yang cukup dalam.
Pendusta Dipercaya, Orang Jujur Dicurigai
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mulai sulit membedakan mana fakta dan mana opini.
Hoaks menyebar cepat. Potongan video tanpa konteks langsung memancing kemarahan publik. Kadang klarifikasi datang belakangan, setelah seseorang lebih dulu dihujat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Pendusta dipercaya dan orang jujur dianggap dusta.”
(HR. Ahmad)
Sebagian orang merasa hadis itu semakin relevan dengan kehidupan digital hari ini.
Di media sosial, informasi yang paling memancing emosi biasanya lebih cepat naik dibanding penjelasan yang tenang dan masuk akal.
Yang paling menyedihkan adalah ketika manusia lebih menikmati keributan dibanding mencari kebenaran.
Teknologi Semakin Canggih, Tetapi Manusia Makin Gelisah
Kehidupan modern membuat semuanya serba cepat.
Pesan terkirim dalam hitungan detik. Belanja bisa dilakukan tanpa keluar rumah. Bahkan hiburan tersedia tanpa batas selama 24 jam.
Namun di balik semua kemudahan itu, banyak orang justru merasa lelah secara mental.
Tidak sedikit yang terlihat tertawa di media sosial, tetapi diam-diam merasa kesepian. Ada yang sibuk membangun citra bahagia, padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena itu sering terlihat di kehidupan sehari-hari. Orang berkumpul di satu meja, tetapi masing-masing sibuk menatap layar ponselnya sendiri.
Dekat secara fisik, jauh secara hati.
Fitnah Menjadi Konsumsi Harian
Di era digital, fitnah kadang menyebar hanya lewat satu tombol.
Padahal Allah SWT telah berfirman:
“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
(QS. Al-Baqarah: 191)
Namun sekarang, sebagian orang justru menikmati konflik orang lain sebagai “drama Korea” gratisan.
Potongan video tanpa penjelasan lengkap langsung dibagikan. Komentar kasar muncul tanpa berpikir panjang. Nama seseorang bisa hancur hanya dalam satu malam.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang merasa itu hal biasa.
Akhir Zaman Tidak Selalu Tentang Bencana
Banyak orang menunggu tanda besar akhir zaman. Padahal, perubahan kecil dalam perilaku manusia juga bisa menjadi pengingat penting.
Bukan hanya soal perang atau bencana alam.
Kadang tanda itu terlihat dari:
- hilangnya adab,
- mudahnya manusia menghina,
- dan sulitnya menjaga hati di tengah dunia yang bising.
Karena itu, hadis-hadis akhir zaman sejatinya bukan untuk membuat manusia takut berlebihan. Rasulullah ﷺ justru mengingatkan agar umat tetap menjaga iman, akhlak, dan hati nurani di tengah zaman yang semakin rumit.
Akhir zaman mungkin tidak selalu datang dengan suara menggelegar. Kadang ia hadir pelan-pelan, lewat hati yang makin keras, rasa malu yang perlahan hilang, dan manusia yang sibuk mencari perhatian sampai lupa mencari Tuhan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar