Bangun Masjid Serius, IKMT Gandeng Unsil Tasikmalaya
- account_circle redaktur
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi rumah adat Minangkabau.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Masjid Ikatan Keluarga Minang Tasikmalaya mulai memasuki fase yang tidak terlihat mencolok, tetapi justru paling menentukan. Proyek yang juga disebut sebagai pembangunan Masjid IKMT atau masjid peradaban IKMT ini tidak langsung bergerak ke pembangunan fisik. IKMT memilih menahan diri sejenak, lalu menggandeng akademisi untuk memastikan semuanya benar sejak awal.
Di lokasi rencana pembangunan di Jalan Bong, Tamansari, suasana Minggu (26/4/2026) pagi terasa lebih seperti forum serius ketimbang seremoni. Beberapa orang duduk melingkar, sebagian membuka berkas, yang lain sesekali menunjuk sketsa. Percakapan berlangsung pelan, tetapi isinya padat.
Rapat Teknis Digelar, Fokus pada Kekuatan Struktur
Ketua IKMT, Syahrial Koto, hadir bersama jajaran panitia. Di hadapan mereka, tim dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Siliwangi mulai memetakan langkah kerja.
Di titik ini, pembahasan tidak lagi soal bentuk bangunan. Semua beralih ke hal yang lebih mendasar: apakah tanahnya cukup kuat, bagaimana struktur menahan beban, dan seberapa aman bangunan itu berdiri dalam jangka panjang.
Ir. Pengki Irawan, yang memimpin tim dari kampus, menyampaikan bahwa kajian akan dilakukan menyeluruh. Mulai dari pengukuran ulang lahan, uji tanah, hingga analisis struktur.
“Kami tidak hanya melihat desainnya. Kami cek dari bawah sampai atas,” ujarnya singkat.
Nada bicaranya datar, tetapi pesannya jelas: tidak ada ruang untuk perkiraan kasar.
Dari Desain ke Realita, Tahap yang Sering Diremehkan
Sebelumnya, IKMT sudah menyepakati desain arsitektur dalam agenda Halal Bihalal pada 19 April 2026. Banyak yang mengira itu langkah besar terakhir sebelum pembangunan dimulai.
Namun, kenyataannya berbeda.
Justru setelah desain disetujui, pekerjaan yang lebih rumit dimulai. Di tahap ini, semua keputusan harus berdasar hitungan, bukan sekadar visual.
Syahrial tidak menutup hal itu.
“Ini bukan bangunan biasa. Kami ingin masjid ini bertahan lama, aman dipakai, dan benar-benar bermanfaat,” katanya.
Ia sempat berhenti sejenak, lalu menambahkan bahwa melibatkan akademisi bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan.
Tahapan Teknis Disusun Detail, Tidak Ada yang Dilompati
Tim Teknik Sipil Unsil akan masuk melalui skema pengabdian kepada masyarakat. Setelah proposal disetujui, mereka langsung turun ke lapangan.
Pekerjaan yang dilakukan tidak ringan. Mereka akan melakukan sondir tanah, menghitung daya dukung, lalu menyusun analisis struktur yang menjadi dasar pembangunan.
Setelah itu, proses berlanjut ke penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Semua disusun terbuka agar mudah diaudit dan dipahami.
Dokumen tersebut juga menjadi syarat utama untuk mengurus Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) serta Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
IKMT Siapkan “Versi Rakyat” Agar Mudah Dipahami
Di sisi lain, IKMT mencoba menjaga komunikasi tetap terbuka. Mereka menyiapkan proposal yang ditulis dengan bahasa sederhana.
Tujuannya cukup jelas: warga dan donatur bisa memahami alur pembangunan tanpa harus membaca istilah teknis yang rumit.
Langkah ini muncul dari kesadaran bahwa pembangunan masjid bukan hanya urusan panitia. Ada kepercayaan publik yang harus dijaga.

IKMT Gandeng Teknik Sipil Unsil, Matangkan Tahapan Pembangunan Masjid Minang di Kota Tasikmalaya, Minggu (26/4/2026).
Groundbreaking Ditahan, Dua Syarat Jadi Penentu
IKMT memastikan tidak akan terburu-buru melakukan peletakan batu pertama. Setidaknya ada dua hal yang harus beres lebih dulu.
Pertama, kajian teknis dari Unsil harus selesai dan terverifikasi. Kedua, izin PBG harus sudah diterbitkan.
“Kami tidak mau cepat, tapi bermasalah di belakang,” ujar Syahrial.
Kalimat itu diucapkan ringan, tetapi terdengar tegas.
Masjid Ditargetkan Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Sejak awal, IKMT tidak hanya membayangkan bangunan fisik. Mereka ingin menghadirkan ruang yang hidup—tempat berkumpul, belajar, dan tumbuh bersama.
Karena itu, pendekatan ilmiah dipilih agar kualitas bangunan sejalan dengan fungsi jangka panjangnya.
Kolaborasi dengan Unsil menjadi bagian dari upaya tersebut. Bagi IKMT, kekuatan masjid tidak hanya terlihat dari kubahnya, tetapi dari fondasi yang tidak terlihat.
Pembangunan Masjid IKMT Tasikmalaya menunjukkan satu hal penting: tidak semua proyek harus dimulai dengan cepat.
Kadang, langkah paling bijak justru berhenti sejenak, menghitung ulang, lalu memastikan semuanya siap.
Dengan cara itu, masjid yang dibangun tidak hanya berdiri, tetapi juga bertahan. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar