Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Ingin Fokus Ibadah dan Meninggalkan Dunia? Bisa Jadi Itu Tipuan Nafsu

Ingin Fokus Ibadah dan Meninggalkan Dunia? Bisa Jadi Itu Tipuan Nafsu

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • visibility 269
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Tajrid dan kasab, adalah dua hal yang seharusnya seimbang. Tapi tidak sedikit orang pernah membayangkan hidup yang seluruhnya diisi ibadah. Tidak lagi sibuk mengejar target pekerjaan. Tidak lagi dipusingkan urusan dagang, sawah, kantor, atau tagihan bulanan. Yang ada hanya zikir, salat, mengaji, dan mendekat kepada Allah.

Sekilas, keinginan itu terdengar mulia.

Namun menurut Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, tidak semua keinginan meninggalkan dunia berasal dari petunjuk Allah. Dalam keadaan tertentu, syahwat yang sangat halus dan sulit dikenali justru dapat menyamar di balik keinginan tersebut.

Hikmah tentang tajrid dan kasab ini menjadi salah satu pelajaran tasawuf yang paling sering disalahpahami.

Padahal pesan yang terkandung di dalamnya sangat dekat dengan kehidupan umat Islam sehari-hari.

Tidak Semua Orang Diperintahkan Meninggalkan Dunia

Ibnu Athaillah berkata:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk lepas dari sebab-sebab (usaha dunia), padahal Allah menempatkanmu pada sebab-sebab itu, merupakan syahwat yang tersembunyi.”

Hikmah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus meninggalkan pekerjaan untuk mendekat kepada Allah.

Justru bagi sebagian orang, bekerja adalah bagian dari ibadah yang diperintahkan Allah.

Di banyak desa di Priangan, misalnya, masih mudah ditemukan petani yang berangkat ke sawah selepas Subuh. Di tangannya ada cangkul. Tapi di bibirnya ada wirid pendek yang terus berulang sepanjang perjalanan.

Ia mungkin tidak pernah membaca kitab tasawuf yang tebal.

Namun tanpa sadar, ia sedang menjalani hikmah ini setiap hari.

Bekerja dengan tangan.

Tetapi tetap menggantungkan hati kepada Allah.

Begitu pula para pedagang pasar yang membuka kios sejak pagi, para guru yang mengajar murid-muridnya, atau para sopir yang mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain.

Mereka tidak meninggalkan dunia.

Namun mereka juga tidak melupakan akhirat.

Allah Lebih Tahu Jalan yang Cocok untuk Setiap Hamba

Syarah Al-Hikam mengajarkan bahwa seorang hamba wajib ridha terhadap posisi yang Allah pilihkan untuknya, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sebab Allah lebih mengetahui apa yang mendatangkan manfaat dan apa yang mendatangkan mudarat bagi kehidupan hamba-Nya.

Karena itu, ukuran kesalehan bukan terletak pada profesinya.

Ukuran kesalehan terletak pada ketaatan yang dijaga dalam profesi tersebut.

Allah berfirman:

“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.”

(QS. Al-Mulk: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara tajrid dan kasab, antara ibadah dan usaha.

Kasab atau bekerja bukan lawan dari tawakal.

Sebaliknya, tawakal yang benar justru lahir setelah seseorang melakukan usaha terbaik yang mampu ia lakukan.

Syaitan Tidak Selalu Mengajak kepada Maksiat

Salah satu pelajaran menarik dalam syarah ini adalah cara syaitan menggoda manusia.

Sering kali kita membayangkan syaitan mengajak kepada dosa yang jelas terlihat.

Padahal tidak selalu demikian.

Terkadang syaitan datang melalui sesuatu yang tampak baik.

Allah menceritakan bagaimana syaitan menggoda Nabi Adam AS:

“Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal.”

(QS. Al-A’raf: 20)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

(QS. Thaha: 120)

Perhatikan cara syaitan bekerja.

Ia tidak mengajak Adam kepada sesuatu yang tampak buruk.

Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang terlihat indah.

Kekekalan.

Kemuliaan.

Kedudukan.

Hal yang sama sering terjadi dalam kehidupan modern.

Hari ini banyak orang merasa gelisah bukan karena kekurangan, melainkan karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Media sosial memperlihatkan rumah yang lebih besar.

Mobil yang lebih mewah.

Bisnis yang lebih sukses.

Akibatnya, hati yang sebelumnya tenang menjadi resah.

Jalan Menuju Allah Tidak Selalu Sama

Ada kisah menarik dalam syarah Al-Hikam tentang seorang murid yang ingin meninggalkan kesibukan dunia demi menempuh jalan para wali.

Ia merasa aktivitas mengajar, belajar, dan bergaul dengan manusia justru menghambat perjalanan spiritualnya.

Namun gurunya memberikan jawaban yang tidak terduga.

“Bukan itu yang harus kamu lakukan. Tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu.”

Jawaban ini terasa sederhana.

Tetapi sangat dalam.

Sebab banyak orang mengira jalan menuju Allah harus sama seperti jalan orang lain.

Padahal Allah memiliki cara yang berbeda untuk setiap hamba.

Ada yang menemukan Allah di ruang kelas.

Ada yang menemukannya di sawah.

Dan ada yang menemukannya di pasar.

Serta ada pula yang menemukannya saat mengurus keluarga.

Bahkan tidak sedikit santri yang ketika masih muda ingin meninggalkan seluruh urusan dunia demi fokus beribadah. Namun setelah dewasa, mereka justru memahami bahwa mengajar, berdagang, mengurus anak, dan melayani masyarakat juga merupakan bentuk penghambaan kepada Allah.

Hikmah yang Sering Terlupakan

Tajrid bukan tujuan.

Kasab juga bukan tujuan.

Keduanya hanyalah jalan.

Yang menjadi tujuan tetap sama, yaitu ridha Allah.

Karena itu, seseorang tidak perlu iri kepada jalan hidup orang lain.

Tidak perlu memaksa dirinya menjadi seperti orang lain.

Tidak perlu meninggalkan amanah yang Allah titipkan hanya karena terlihat kurang “spiritual”.

Jika Allah menempatkanmu di pasar, beribadahlah di pasar.

Jika Allah menempatkanmu di sawah, beribadahlah di sawah.

Dan jika Allah menempatkanmu di ruang kerja, beribadahlah di ruang kerja.

Sebab sering kali jalan tercepat menuju Allah bukanlah jalan yang kita pilih sendiri, melainkan jalan yang telah Allah pilihkan untuk kita sejak awal.

Banyak orang menghabiskan hidupnya mencari jalan menuju Allah di tempat yang jauh. Padahal bisa jadi, jalan itu sudah terbentang di depan mata: di sawah yang ia garap, di toko yang ia jaga, di kelas yang ia ajar, atau di keluarga yang setiap hari ia nafkahi dengan penuh keikhlasan. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi seorang muslim melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam dengan suasana tenang dan cahaya lembut yang melambangkan kekhusyukan ibadah malam.

    Salat Tahajud Disebut Kunci Langit, Ini Rahasianya

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 222
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Salat tahajud atau salat malam merupakan ibadah sunyi yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Banyak ulama menjelaskan bahwa tahajud di sepertiga malam mampu membuka pintu doa, membersihkan hati, dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Karena itu, keutamaan salat tahajud sering disebut sebagai jalan spiritual yang mengubah kehidupan seseorang. Namun sayangnya, tidak semua […]

  • Ilustrasi konflik Timur Tengah dengan latar kilang minyak dan peta kawasan sebagai simbol dampak perang AS Israel Iran terhadap harga minyak global.

    Perang AS–Israel vs Iran: Dunia Terancam Krisis Energi

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 202
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Ketegangan Perang AS Israel Iran kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global. Konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini bukan hanya persoalan militer, tetapi juga menyentuh stabilitas geopolitik serta harga minyak dunia. Seiring eskalasi konflik Timur Tengah tersebut, pasar energi dan hubungan internasional ikut bergejolak. Situasi memanas setelah serangkaian serangan dan respons balasan […]

  • Semangkuk es buah segar dengan potongan melon, semangka, nanas, dan sirup manis dingin

    Rahasia Resep Es Buah Segar yang Jarang Diketahui

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 238
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Saat cuaca panas atau waktu berbuka puasa tiba, banyak orang langsung mencari minuman dingin. Salah satu yang paling populer tentu resep es buah segar. Namun tidak semua orang tahu bahwa ada cara membuat es buah segar dengan racikan kuah yang lebih unik dan rasa yang jauh lebih nikmat. Bahkan beberapa penjual minuman […]

  • Guru pesantren mengajar di kelas diniyah dengan harapan baru setelah kebijakan tunjangan guru 2026 dari Kemenag

    Akhirnya Setara? Tunjangan Guru 2026 Menyentuh Diniyah dan Muadalah

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 216
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Tunjangan Guru 2026 akhirnya membuka pintu bagi guru pesantren, termasuk pendidikan diniyah dan muadalah. Kebijakan ini langsung menyatukan isu tunjangan profesi guru, TPG Kemenag, dan pengakuan negara dalam satu momentum yang sulit diabaikan. Selama ini mereka mengajar dalam senyap. Sekarang negara mulai melihat. Namun satu pertanyaan muncul: apakah ini benar-benar titik keadilan, […]

  • Gateball Tasikmalaya

    Rumput Kering Hambat Gateball Tasikmalaya, Atlet Tetap Berjuang

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 81
    • 0Komentar

      albadarpost.com, BERITA DAERAH – Gateball Tasikmalaya kembali menjadi perhatian publik saat menggelar latihan tanding bersama Durma Gateball Bandung, Sabtu (18/7/2026). Di balik hangatnya silaturahmi antarkomunitas, kondisi lapangan Gateball Tasikmalaya yang dipenuhi rumput kering justru mencuri perhatian. Kondisi tersebut dinilai menghambat kualitas latihan sekaligus menjadi tantangan bagi pembinaan atlet di daerah. Kegiatan berlangsung di kawasan Balekota […]

  • Ali bin Abi Thalib2

    Ali bin Abi Thalib Kalah di Pengadilan. Mengapa?

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 106
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Ali bin Abi Thalib. Seorang khalifah berdiri di hadapan seorang hakim. Tidak ada singgasana. Tidak ada perlakuan istimewa. Dan tidak ada keputusan yang berpihak karena jabatan. Ketika bukti yang diajukannya belum memenuhi ketentuan hukum, hakim menjatuhkan putusan yang tidak menguntungkannya. Sang khalifah menerimanya dengan lapang dada. Dalam sejumlah literatur sejarah Islam, peristiwa […]

expand_less