Bukan Sekadar Apel, Tasikmalaya Uji Kesiapan Hadapi Karhutla
- account_circle redaktur
- calendar_month 49 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Simulasi pemadaman Karhutla Perhutani dan BPBD Kabupaten Tasikmalaya di Kadipaten. (Dok. BPBD Kab. Tasikmalaya).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Api tidak pernah memberi banyak waktu untuk bersiap. Karena itu, menghadapi potensi Karhutla Tasikmalaya tidak cukup hanya dengan apel kesiapsiagaan. Perum Perhutani KPH Tasikmalaya bersama BPBD Kabupaten Tasikmalaya turun langsung menguji kesiapan melalui simulasi pemadaman dan memperkuat koordinasi lintas lembaga.
Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan hutan Petak 12e RPH Ciawi, BKPH Tasikmalaya, KPH Tasikmalaya, Desa Kadipaten, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 9 September 2026.
Rangkaian kegiatan mencakup apel siaga, simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan, serta penandatanganan perjanjian kerja sama antara Perhutani KPH Tasikmalaya dan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.
Langkah tersebut menjadi penting karena kesiapsiagaan tidak hanya berbicara soal siapa yang datang ketika api sudah membesar. Lebih dari itu, kesiapan mencakup personel, peralatan, komunikasi, pembagian tugas, hingga kecepatan mengambil tindakan.
Simulasi Menguji Kesiapan di Lapangan
Ada perbedaan antara menyatakan siap dan benar-benar menguji kesiapan.
Apel dapat menjadi ruang untuk menyatukan komitmen. Namun, simulasi memberi kesempatan kepada petugas untuk melihat bagaimana prosedur berjalan ketika menghadapi skenario kebakaran.
Dalam kegiatan di Kadipaten, unsur gabungan memperagakan penanganan api menggunakan peralatan pemadaman. Latihan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan koordinasi dan respons antarpihak yang berada di lapangan.
Model latihan seperti ini memiliki fungsi praktis.
Ketika kebakaran terjadi, petugas tidak bisa menghabiskan waktu untuk menentukan siapa melakukan apa. Setiap unsur harus memahami perannya, mengetahui jalur komunikasi, serta mampu menggunakan peralatan yang tersedia.
Dengan kata lain, simulasi bukan sekadar pertunjukan.
Ia merupakan kesempatan untuk menemukan celah dalam kesiapan sebelum celah tersebut berubah menjadi masalah ketika kondisi sebenarnya terjadi.
Perhutani-BPBD Perkuat Benteng Pencegahan
Penguatan kesiapsiagaan juga ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama atau PKS antara Perhutani KPH Tasikmalaya dan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi dalam mitigasi, antisipasi bencana, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerja Perhutani Tasikmalaya.
Artinya, penanganan Karhutla Kabupaten Tasikmalaya tidak diletakkan sebagai pekerjaan satu institusi.
Perhutani memiliki peran dalam pengelolaan kawasan hutan. BPBD memiliki fungsi penanggulangan bencana. Sementara itu, unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat sekitar hutan, serta pihak terkait lainnya juga memiliki posisi penting.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, unsur Forkopimcam Kecamatan Kadipaten, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Karaha Harum Lestari, Polhutmob, dan pemerintah desa.
Semakin banyak unsur yang terlibat, semakin penting pula pembagian peran dan komunikasi yang jelas.
Data Kebakaran Lahan Menjadi Pengingat
Kesiapsiagaan tersebut memiliki konteks yang lebih luas.
Data SIRENA BPBD Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa sejak 1 Januari hingga 10 September 2026 tercatat 18 kejadian kebakaran lahan. Dalam periode yang sama, BPBD mencatat 459 kejadian bencana secara keseluruhan.
Angka tersebut tidak otomatis berarti seluruh kejadian kebakaran lahan merupakan kebakaran hutan atau Karhutla.
Namun, data itu cukup menjadi pengingat bahwa risiko kebakaran di wilayah Tasikmalaya perlu diperhatikan dan diantisipasi.
Karena itu, pencegahan Karhutla Tasikmalaya sebaiknya tidak menunggu munculnya api terlebih dahulu.
Deteksi dini, kesiapan peralatan, koordinasi lintas lembaga, serta keterlibatan masyarakat justru menjadi lapisan pertahanan pertama.
Masyarakat Punya Peran Penting
Kawasan hutan tidak berdiri sendiri.
Di sekelilingnya terdapat masyarakat yang bekerja, beraktivitas, dan berinteraksi dengan lingkungan setiap hari. Karena itu, masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran hutan Tasikmalaya.
Kewaspadaan terhadap sumber api, pelaporan ketika melihat asap atau indikasi kebakaran, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api dapat membantu memperkecil risiko.
Peran masyarakat bahkan bisa menjadi sangat menentukan pada tahap awal.
Sebab, api yang diketahui ketika masih kecil tentu memiliki konsekuensi berbeda dibandingkan api yang sudah menyebar ke area luas.
Di sinilah konsep pencegahan menjadi lebih penting daripada sekadar kecepatan pemadaman.
Kesiapsiagaan Tidak Berakhir Setelah Apel
Penandatanganan PKS memberikan dasar kerja sama. Simulasi memberikan ruang untuk menguji kemampuan. Apel menyatukan komitmen.
Namun, semuanya baru memiliki arti penuh apabila berlanjut setelah kegiatan selesai.
Peralatan harus tetap siap.
Koordinasi harus tetap berjalan.
Personel harus memahami prosedur.
Masyarakat harus mengetahui bagaimana merespons potensi bahaya.
Dengan begitu, kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berubah menjadi sistem yang bekerja ketika dibutuhkan.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya pencegahan yang lebih luas. Pada awal September 2026, kepolisian di Tasikmalaya turut mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Karhutla memasuki musim kemarau.
Pesannya sederhana: jangan menunggu api menjadi besar untuk mulai bergerak.
Dari Simulasi Menuju Respons Nyata
Kegiatan di Kadipaten pada akhirnya bukan hanya tentang satu apel, satu simulasi, atau satu dokumen kerja sama.
Nilai terpentingnya justru terletak pada kemampuan berbagai unsur untuk membangun pola kerja bersama sebelum bencana terjadi.
Sebab, penanganan kebakaran membutuhkan lebih dari sekadar alat pemadam.
Dibutuhkan informasi yang cepat, keputusan yang tepat, personel yang siap, komunikasi yang tidak terputus, serta masyarakat yang ikut menjaga lingkungan.
Jika seluruh unsur tersebut berjalan, risiko dapat ditekan sejak awal.
Dan jika api benar-benar muncul, respons dapat dilakukan lebih cepat sebelum situasi berkembang menjadi lebih besar.
Api tidak pernah menunggu rapat selesai. Karena itu, kesiapsiagaan juga tidak boleh berhenti setelah apel dibubarkan. Hutan yang benar-benar terlindungi bukanlah hutan yang paling hebat memadamkan api, melainkan hutan yang berhasil dijaga agar api tidak pernah mendapat kesempatan untuk membesar. (Red)
- Penulis: redaktur








Saat ini belum ada komentar