Surat Al Kahfi Hari Jumat: Benarkah Ada Cahaya di Antara Dua Jumat?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang membaca Al-Qur'an pada Jumat pagi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com, HIKMAH — Bolehkah membaca Surat Al-Kahfi pada Kamis malam? Apakah harus selesai sebelum salat Jumat? Dan dari mana sebenarnya keutamaan berupa “cahaya antara dua Jumat” yang sering disebut dalam hadis?
Pertanyaan tersebut muncul setiap pekan ketika umat Islam menyambut hari Jumat. Membaca Surat Al Kahfi hari Jumat dikenal sebagai salah satu amalan yang dianjurkan berdasarkan sejumlah riwayat tentang keutamaannya.
Salah satu keutamaan yang paling masyhur adalah memperoleh cahaya di antara dua Jumat. Hadis tentang keutamaan tersebut dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis, meski terdapat pembahasan mengenai sebagian jalur periwayatannya di kalangan ahli hadis.
Yang perlu digarisbawahi, membaca Surat Al-Kahfi pada Jumat merupakan amalan yang dianjurkan, bukan kewajiban. Karena itu, orang yang tidak membacanya tidak dapat langsung dianggap meninggalkan kewajiban agama.
Hadis tentang Surat Al-Kahfi Hari Jumat
Salah satu riwayat yang menjadi dasar pembahasan keutamaan membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat berasal dari Abu Sa’id Al-Khudri RA.
Dalam riwayat tersebut disebutkan:
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
Makna hadis tersebut secara ringkas:
“Barang siapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.”
Riwayat dengan makna tersebut antara lain tercantum dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim dan As-Sunan Al-Kubra karya Al-Baihaqi.
Sejumlah ulama memberikan penilaian positif terhadap riwayat tersebut. Al-Hakim menilai salah satu jalurnya sahih. Al-Albani juga menilai hadis tentang keutamaan membaca Surat Al-Kahfi pada Jumat sebagai hadis sahih dalam sejumlah karyanya.
Namun, terdapat pula pembahasan mengenai jalur periwayatan hadis tersebut di kalangan ahli hadis. Karena itu, penyebutan hadis sebaiknya tetap disertai konteks mengenai penilaian ulama, bukan disampaikan secara berlebihan seolah tidak ada pembahasan ilmiah sama sekali.
Yang jelas, riwayat tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan ulama dalam menganjurkan membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat.
Apa Makna “Cahaya di Antara Dua Jumat”?
Ungkapan “cahaya di antara dua Jumat” menjadi bagian yang paling banyak dikenal dari hadis tersebut.
Cahaya dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai cahaya secara fisik. Para ulama menjelaskannya dalam kaitan dengan petunjuk, kebaikan, dan cahaya yang Allah berikan kepada seorang hamba.
Dengan demikian, keutamaan tersebut dapat menjadi pengingat agar hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada rutinitas membaca.
Surah Al-Kahfi sendiri berisi sejumlah kisah yang sarat pelajaran.
Kisah para pemuda penghuni gua mengingatkan tentang keteguhan iman. Kisah pemilik dua kebun berbicara tentang ujian harta dan kesombongan. Kisah Nabi Musa AS bersama Khidir mengajarkan keterbatasan pengetahuan manusia. Sementara kisah Dzulqarnain memberikan pelajaran tentang kekuasaan dan tanggung jawab.
Karena itu, membaca Al Kahfi hari Jumat akan lebih bermakna jika bacaan tersebut juga diikuti dengan usaha memahami dan merenungkan kandungannya.
Bolehkah Membaca Surat Al-Kahfi pada Kamis Malam?
Boleh.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah membaca Surat Al-Kahfi harus dilakukan pada Jumat pagi.
Tidak harus.
Dalam pemahaman kalender Islam, malam Jumat dimulai sejak matahari terbenam pada Kamis. Karena itu, membaca Surah Al-Kahfi setelah Magrib pada Kamis malam termasuk waktu yang biasa dijelaskan untuk mengamalkan keutamaan tersebut.
Artinya, seseorang dapat membaca Surat Al-Kahfi setelah Magrib atau Isya pada Kamis malam apabila waktu tersebut lebih memungkinkan.
Jika belum sempat, bacaan dapat dilakukan pada Jumat pagi atau siang.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menunggu sampai waktu tertentu apabila kesempatan membaca Al-Qur’an sudah tersedia.
Al Kahfi Jumat Sampai Kapan?
Pertanyaan berikutnya adalah: Al Kahfi Jumat sampai kapan?
Dalam penjelasan yang banyak dirujuk, waktu membaca Surah Al-Kahfi berkaitan dengan malam Jumat dan hari Jumat. Secara umum, rentang tersebut dimulai sejak Kamis setelah Magrib hingga Jumat sebelum Magrib.
Jadi, membaca Surat Al-Kahfi tidak harus dilakukan tepat setelah salat Jumat.
Orang yang baru memiliki waktu pada Jumat pagi masih dapat membacanya. Begitu pula seseorang yang memilih membaca pada Kamis malam.
Yang perlu diperhatikan adalah adanya perbedaan istilah antara malam Jumat dan hari Jumat dalam kalender Islam. Malam Jumat dimulai sejak matahari terbenam pada Kamis, sedangkan hari Jumat berakhir ketika matahari terbenam pada Jumat.
Pemahaman tersebut membantu menjawab pertanyaan praktis yang sering muncul di tengah masyarakat.
Apakah Membaca Surat Al-Kahfi Wajib?
Tidak.
Membaca Surat Al-Kahfi pada Jumat merupakan amalan yang dianjurkan berdasarkan riwayat tentang keutamaannya. Ia tidak sama dengan kewajiban seperti salat Jumat bagi orang yang memang terkena kewajibannya.
Karena itu, tidak tepat apabila seseorang langsung menganggap orang yang tidak membaca Al-Kahfi pada Jumat sebagai orang yang berdosa.
Pembahasan mengenai keutamaan ibadah seharusnya mendorong umat untuk beramal, bukan menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Setiap Muslim juga memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda. Ada yang mampu menyelesaikan seluruh Surah Al-Kahfi dalam satu waktu, sementara yang lain mungkin membutuhkan waktu lebih panjang.
Bagi orang yang belum lancar membaca Al-Qur’an, Jumat juga dapat menjadi kesempatan untuk belajar secara bertahap.
Apakah Mendengarkan Al-Kahfi Sama dengan Membacanya?
Mendengarkan bacaan Al-Qur’an merupakan aktivitas yang baik. Namun, mendengarkan dan membaca adalah dua aktivitas yang berbeda.
Jika pembahasannya secara khusus mengenai keutamaan membaca Surah Al-Kahfi berdasarkan hadis tersebut, maka yang dimaksud adalah membaca Surah Al-Kahfi.
Karena itu, memutar rekaman Surah Al-Kahfi dapat menjadi sarana mendengarkan dan membantu proses belajar. Namun, tidak perlu langsung diklaim sebagai pengganti membaca ketika membahas keutamaan khusus yang disebutkan dalam riwayat.
Pendekatan tersebut lebih hati-hati dan tidak membuat kesimpulan keagamaan yang melampaui keterangan sumber.
Jangan Hanya Mengejar Selesai Bacaan
Surah Al-Kahfi terdiri dari 110 ayat. Menyelesaikannya pada hari Jumat dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.
Namun, membaca tidak harus berhenti pada target menyelesaikan seluruh ayat.
Ada pesan yang dapat dibawa setelah bacaan selesai.
Kisah penghuni gua mengajarkan keteguhan iman ketika berada dalam tekanan. Kisah pemilik kebun mengingatkan bahwa harta dapat menjadi ujian. Kisah Nabi Musa AS dan Khidir menunjukkan bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Sementara kisah Dzulqarnain memperlihatkan bahwa kekuasaan juga membawa tanggung jawab.
Pesan-pesan tersebut tetap relevan ketika manusia menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Karena itu, keutamaan Surat Al-Kahfi tidak seharusnya dipahami hanya sebagai target mendapatkan sebuah keistimewaan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an.
Jumat datang setiap pekan. Kesempatan membaca Al-Qur’an pun kembali terbuka.
Jika memiliki waktu, membaca Surah Al-Kahfi dapat menjadi salah satu amalan untuk mengisi hari Jumat. Tidak perlu menjadikannya perlombaan, apalagi alasan untuk menilai ibadah orang lain.
Sebab, membaca Al-Kahfi pada Jumat bukan hanya tentang menyelesaikan bacaannya, tetapi juga tentang membawa pesan Al-Qur’an untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar