Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Rahasia Sukses Menurut Al-Hikam: Mulailah dengan Allah

Rahasia Sukses Menurut Al-Hikam: Mulailah dengan Allah

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • visibility 12
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Mengapa ada orang yang bekerja tanpa mengenal waktu, tetapi hidupnya terasa jalan di tempat? Sebaliknya, mengapa ada yang melangkah dengan sederhana, namun pintu-pintu kemudahan seolah terbuka satu demi satu? Pertanyaan itu terus muncul dari zaman ke zaman. Jauh sebelum buku-buku motivasi memenuhi rak toko, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari telah memberikan jawabannya melalui satu kalimat singkat dalam Kitab Al-Hikam. Menurut beliau, tawakal, berserah kepada Allah, bukanlah penutup setelah usaha selesai, melainkan fondasi yang harus diletakkan sejak langkah pertama.

Tulisan ini merupakan refleksi keislaman berdasarkan Hikmah ke-34 dalam Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah.

مِنْ عَلَامَاتِ النُّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ فِي الْبِدَايَاتِ

“Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaannya.”

Kalimat itu tampak sederhana. Namun, jika direnungkan, ia mengubah cara pandang tentang arti sebuah keberhasilan.

Ketika Dunia Mengajari Cara Berlari, Al-Hikam Mengajari Arah Melangkah

Hari ini, hampir semua orang ingin sukses. Tidak sedikit yang rela mengikuti pelatihan, membaca buku pengembangan diri, memperluas jaringan, bahkan mempelajari berbagai strategi agar mampu bersaing di tengah perubahan zaman. Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Islam justru mendorong umatnya untuk berikhtiar secara maksimal.

Namun, ada satu kebiasaan yang perlahan mulai terpinggirkan, yakni memulai setiap ikhtiar dengan menghadapkan hati kepada Allah.

Sering kali seseorang begitu teliti menyusun rencana, tetapi lupa menyusun niat. Ia sibuk menghitung peluang, sementara doa hanya menjadi pelengkap ketika keadaan mulai sulit. Padahal, bagi seorang mukmin, hubungan dengan Allah bukan pilihan terakhir saat semua jalan tertutup, melainkan titik awal sebelum melangkah.

Di sinilah letak satir kehidupan modern. Kita terbiasa memastikan baterai telepon genggam terisi penuh sebelum bepergian, tetapi tidak selalu memastikan hati telah terhubung kepada Sang Pemilik kehidupan. Kita cemas ketika kehilangan sinyal internet, tetapi kadang tidak merasa kehilangan kekhusyukan dalam berdoa.

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa siapa pun yang menggantungkan harapannya kepada selain Allah akan mudah kecewa ketika sandaran itu rapuh. Sebaliknya, orang yang memulai langkahnya dengan tawakal memiliki tempat kembali setiap kali jalan terasa buntu.

Tawakal Tidak Pernah Menghapus Ikhtiar

Ada anggapan bahwa tawakal berarti menunggu tanpa berbuat apa-apa. Pemahaman seperti ini tidak sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah ﷺ justru memberikan contoh yang sangat sederhana, tetapi penuh makna.

Ketika seorang Arab Badui bertanya apakah untanya cukup dilepas lalu bertawakal, Nabi menjawab:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut menegaskan bahwa usaha dan tawakal bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi. Ikhtiar adalah bentuk tanggung jawab manusia, sedangkan tawakal merupakan pengakuan bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Al-Qur’an juga memberikan tuntunan yang sama.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Menariknya, ayat ini tidak memisahkan tekad, usaha, dan tawakal. Ketiganya hadir dalam satu rangkaian yang utuh.

Keberhasilan Bukan Sekadar Sampai, Tetapi Siapa yang Mengantarkan

Ukuran sukses sering kali hanya dilihat dari hasil akhir. Jabatan, kekayaan, atau pencapaian menjadi tolok ukur yang paling mudah terlihat. Padahal, Al-Hikam mengajak manusia melihat sesuatu yang lebih dalam, yaitu bagaimana sebuah perjalanan dimulai.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (QS. At-Thalaq: 3)

Dalam ayat lain, Allah juga menjanjikan petunjuk bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Kedua ayat tersebut menghadirkan keseimbangan. Ada kesungguhan dalam berusaha, ada pula keyakinan bahwa Allah-lah yang membuka jalan. Karena itu, seorang mukmin tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak cepat putus asa saat mengalami kegagalan. Ia memahami bahwa ikhtiar hanyalah bagian dari perjalanan, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan Allah.

Mungkin inilah yang mulai jarang disadari di tengah budaya yang mengukur segala sesuatu dengan angka, grafik, dan pencapaian. Kita begitu sibuk mencari rumus sukses, tetapi terkadang lupa memperbaiki hubungan dengan Dzat yang menentukan setiap hasil.

Bukan berarti strategi tidak penting. Perencanaan tetap dibutuhkan. Ilmu harus dipelajari. Pengalaman perlu ditambah. Akan tetapi, semua itu hanyalah peta. Yang benar-benar mengantarkan seseorang sampai ke tujuan adalah izin Allah.

Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya soal seberapa cepat seseorang mencapai garis akhir, melainkan kepada siapa ia menyandarkan langkah pertamanya. Dunia mungkin menghitung hasil kerja dan angka-angka pencapaian. Namun, Allah melihat hati yang sejak awal memilih berjalan bersama-Nya. Sebab, ketika tawakal menjadi awal perjalanan, keberhasilan tidak lagi sekadar kemungkinan, melainkan harapan yang selalu memiliki sandaran. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Salat Jenazah

    Banyak yang Belum Tahu, Begini Tata Cara Salat Jenazah Sesuai Sunnah

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 101
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Di tengah kesibukan sehari-hari, salat jenazah sering hadir tanpa banyak pemberitahuan. Seseorang wafat. Kabar menyebar dari mulut ke mulut, grup WhatsApp keluarga, atau pengeras suara masjid. Tidak lama kemudian, jamaah mulai berdatangan untuk melaksanakan salat jenazah, sebuah ibadah yang sederhana namun menyimpan pelajaran besar tentang kehidupan dan kematian. Siang itu, misalnya. Sebuah […]

  • karakter murid

    Guru dan Rahasia Membaca Karakter Murid dalam 5 Menit Pertama di Kelas

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 163
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Banyak guru mengira karakter murid baru terlihat setelah berhari-hari mengajar. Padahal, karakter murid, kepribadian siswa, dan sikap anak di kelas sering muncul dalam 5 menit pertama. Saat murid masuk ruangan, memilih tempat duduk, lalu merespons sapaan guru, mereka sebenarnya sedang menunjukkan pola perilaku yang penting. Karena itu, guru yang peka tidak hanya […]

  • pemuda dari pesantren

    Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Kisah pemuda dari pesantren yang ikut berperan penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda 1928. albadarpost.com, CENDIKIA — Di balik gema ikrar Sumpah Pemuda 1928, ada kisah tentang para pemuda dari pesantren yang ikut menyalakan semangat persatuan Indonesia. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan penggerak sunyi yang membawa nilai-nilai Islam, moralitas, dan nasionalisme ke dalam denyut pergerakan […]

  • batik sebagai karakter bangsa

    Menggali Makna Batik sebagai Karakter Bangsa dan Simbol Persatuan

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Batik sebagai karakter bangsa mencerminkan identitas, persatuan, dan warisan budaya Indonesia yang harus dijaga bersama. albadarpost.com, PELITA – Batik kembali menjadi sorotan publik menjelang peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak 2009, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan simbol identitas, persatuan, sekaligus karakter bangsa Indonesia. Keberagaman […]

  • Gus Yaqut tahanan rumah

    Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah: Apa Kata KUHAP?

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 132
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Isu Gus Yaqut jadi tahanan rumah tidak hanya ramai secara politik, tetapi juga menarik jika dilihat dari perspektif hukum. Banyak yang bertanya, apakah pengalihan penahanan Gus Yaqut dari rutan ke rumah sesuai dengan aturan? Dalam konteks ini, tahanan rumah Gus Yaqut sebenarnya telah diatur dalam KUHAP dan regulasi hukum pidana Indonesia. […]

  • Ilustrasi keluarga duduk bersama di ruang tamu sambil menyimpan ponsel untuk menjaga keharmonisan keluarga di era digital.

    7 Cara Islam Menjaga Keluarga Tetap Harmonis di Era Digital

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 139
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH -Konflik keluarga Islam di era digital kini semakin sering dibahas. Banyak keluarga Muslim mulai merasakan perubahan suasana rumah karena media sosial, kebiasaan bermain gadget, komunikasi yang dingin, hingga manusia yang perlahan lebih sibuk menatap layar dibanding mendengarkan keluarganya sendiri. Padahal Islam sangat menekankan ketenangan dalam rumah tangga. Namun suasananya sekarang berbeda. Di beberapa […]

expand_less