Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

Pemuda dari Pesantren yang Berperan dalam Sumpah Pemuda 1928

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
  • visibility 185
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kisah pemuda dari pesantren yang ikut berperan penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

albadarpost.com, CENDIKIA — Di balik gema ikrar Sumpah Pemuda 1928, ada kisah tentang para pemuda dari pesantren yang ikut menyalakan semangat persatuan Indonesia. Mereka bukan sekadar saksi sejarah, melainkan penggerak sunyi yang membawa nilai-nilai Islam, moralitas, dan nasionalisme ke dalam denyut pergerakan pemuda. Dari ruang-ruang belajar pesantren, lahirlah generasi yang bukan hanya taat beragama, tetapi juga sadar kebangsaan.


Akar Gerakan dari Dunia Pesantren

Sejarah mencatat, pada masa pra-kemerdekaan, pesantren menjadi salah satu pusat perlawanan intelektual terhadap kolonialisme. Di sinilah ide-ide kebebasan, keadilan, dan kesetaraan tumbuh bersamaan dengan pendidikan agama. Para santri muda mulai membaca dunia, tidak hanya kitab kuning. Mereka menafsirkan ajaran Islam sebagai dorongan moral untuk menegakkan kemerdekaan dan persatuan.

Salah satu figur penting pemuda dari pesantren yang terlibat dalam semangat Sumpah Pemuda adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Meskipun keduanya tidak hadir langsung dalam kongres pemuda di Batavia (Jakarta sekarang), gagasan-gagasan mereka tentang kebangsaan, pendidikan, dan persaudaraan umat menjadi fondasi intelektual bagi para pemuda yang hadir.

Banyak peserta kongres kala itu merupakan didikan pesantren atau aktif di organisasi kepemudaan bercorak Islam seperti Jong Islamieten Bond (JIB). Tokoh seperti Agus Salim dan Haji Agus Salim muda, meskipun dikenal sebagai diplomat dan jurnalis, juga pernah merasakan atmosfer pendidikan keislaman yang kuat dalam masa mudanya. Nilai-nilai inilah yang mereka bawa ketika merumuskan arah perjuangan bangsa.

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 itu bukan sekadar pertemuan para aktivis pelajar dan mahasiswa. Ia adalah pertemuan gagasan besar antara modernitas dan spiritualitas. Para pemuda dari pesantren menegaskan bahwa semangat kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru, ajaran Islam yang menekankan ukhuwah (persaudaraan) menjadi landasan etis bagi tekad “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”.


Islam dan Nasionalisme dalam Ikrar Pemuda

Nilai-nilai pesantren terlihat jelas dalam cara para pemuda waktu itu membingkai nasionalisme. Nasionalisme yang tumbuh dari lingkungan pesantren tidak sempit, tidak eksklusif, dan tidak berjarak dengan agama. Sebaliknya, ia menempatkan agama sebagai sumber moralitas perjuangan.

Para pemuda dari pesantren berperan menyatukan pandangan antara kaum modernis dan tradisionalis, antara pemuda sekuler dan religius. Mereka menjadi jembatan yang memudahkan dialog lintas organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, hingga Jong Islamieten Bond. Semangat kebersamaan itulah yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda sebagai pernyataan kebangsaan pertama yang mengikat seluruh suku dan agama di Nusantara.

Dalam beberapa catatan sejarah, forum-forum diskusi antar-pemuda kala itu kerap dilakukan di rumah para tokoh Islam atau di ruang-ruang belajar pesantren perkotaan. Di situ, pemuda berdiskusi tentang arti “bangsa Indonesia” yang masih baru tumbuh sebagai konsep. Para santri muda memahami, perjuangan bukan hanya soal politik dan kekuasaan, tetapi juga perjuangan moral melawan kebodohan dan penjajahan pemikiran.

“Nasionalisme yang hidup di pesantren adalah nasionalisme yang berakhlak,” ujar sejarawan UIN Syarif Hidayatullah, Asep Saefuddin, dalam wawancara akademiknya. Menurutnya, gagasan tentang kemerdekaan Indonesia tidak akan sekuat itu jika tidak ditopang oleh nilai-nilai spiritual dari pesantren yang menumbuhkan disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial.


Pesantren dan Regenerasi Semangat Pemuda

Setelah Sumpah Pemuda 1928, peran pesantren dalam membentuk karakter bangsa tidak berhenti. Pesantren menjadi lembaga yang melahirkan ribuan pemuda pejuang di masa pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan. Dari sanalah muncul generasi ulama-muda yang terjun langsung di medan tempur, baik melalui perjuangan bersenjata maupun dakwah moral.

Kini, hampir seabad setelah peristiwa bersejarah itu, pesantren tetap menjadi tempat yang subur bagi lahirnya semangat kebangsaan. Gerakan santri masa kini, seperti Hari Santri Nasional, pada dasarnya merupakan kelanjutan semangat yang sama dengan Sumpah Pemuda: memperkuat identitas bangsa tanpa meninggalkan akar spiritualnya.

Pendidikan pesantren yang mengajarkan kemandirian, disiplin, dan cinta tanah air menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi tantangan zaman. Dunia modern yang sarat dengan arus informasi dan teknologi membutuhkan nilai dasar yang kuat agar pemuda tidak kehilangan arah. Di sinilah nilai “ikhlas dan istiqamah” ala pesantren menemukan relevansinya kembali.

Pesantren bukan sekadar institusi keagamaan, tetapi juga sekolah kebangsaan yang melahirkan pemimpin-pemimpin moral. Dalam konteks masa kini, semangat para pemuda dari pesantren menjadi inspirasi untuk membangun bangsa yang moderat, adil, dan berkeadaban.


Pesan Abadi dari Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bahwa persatuan tidak bisa lahir tanpa dasar nilai yang kuat. Para pemuda dari pesantren telah meletakkan fondasi moral dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Mereka membuktikan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring — bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Generasi muda masa kini mewarisi semangat itu. Mereka hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya tetap sama: bagaimana menjaga Indonesia agar tetap satu, berdaulat, dan bermartabat di tengah perubahan dunia.

Melalui semangat Sumpah Pemuda, pesantren mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus selalu dengan senjata, tetapi dengan ilmu, kesabaran, dan pengabdian.

Pemuda pesantren menjadi ruh moral di balik Sumpah Pemuda 1928, meneguhkan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan seiring. (Red/Arrian)


  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Norwegia vs Brasil

    Haaland Yakin Norwegia Tetap Punya Peluang Lawan Brasil

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 58
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Norwegia vs Brasil menjadi salah satu pertandingan paling dinanti pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Meski mengakui peluang timnya cukup kecil, Erling Haaland tetap membawa optimisme tinggi. Penyerang Manchester City itu menegaskan bahwa Timnas Norwegia tidak datang hanya untuk memenuhi jadwal, melainkan ingin kembali menciptakan kejutan di panggung sepak bola […]

  • gempa megathrust Jawa Sumatra

    Megathrust Mengintai Jawa–Sumatra

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 136
    • 0Komentar

    BMKG mengingatkan ancaman gempa megathrust di Jawa dan Sumatra. Potensi besar dan dampaknya perlu diwaspadai. albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan potensi gempa megathrust di wilayah Indonesia, khususnya di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Zona tersebut dinilai menyimpan akumulasi energi tektonik besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan […]

  • Kalibrasi Arah Kiblat

    Gerakan Berkiblat Dimulai, Cek Arah Salat Anda

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 87
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Arah kiblat di masjid, musala, maupun tempat ibadah lainnya belum tentu selalu tepat. Karena itu, kalibrasi arah kiblat kembali menjadi perhatian Kementerian Agama melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat. Di Jawa Barat, program ini menargetkan pengecekan arah kiblat di 279.150 lokasi ibadah secara serentak pada 15–16 Juli 2026. Kegiatan tersebut memanfaatkan momen Rashdul […]

  • Ilustrasi perempuan berhijab cream menangis di lanskap kota, simbol kesabaran dan harapan di balik kesulitan hidup.

    Kesulitan yang Tak Pernah Datang Sendiri

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 142
    • 0Komentar

    albadarpost.com, OPINI – Di masa depan, manusia hidup dengan teknologi yang serba cepat, tetapi jiwa mereka berjalan tertatih. Segalanya tersedia, namun ketenangan menjadi barang langka. Orang-orang hafal cara mengeluh, tetapi lupa cara bersyukur. Mereka menunggu keajaiban datang setelah luka sembuh, padahal luka itu tidak pernah benar-benar pergi. Fa inna ma’al usri yusra. Di kota yang […]

  • kenaikan elektoral Dedi

    Efisiensi Anggaran Jawa Barat: Birokrat “Berpuasa”, Rakyat Tetap “Berpesta”

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Pemprov Jawa Barat lakukan efisiensi besar-besaran demi menjaga ketahanan fiskal tanpa ganggu program publik. Pemprov Jawa Barat Pangkas Anggaran, Prioritaskan Pembangunan Publik albadarposrt.com, PERSPEKTIF – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tengah bersiap menghadapi masa ketat anggaran setelah dana transfer dari pemerintah pusat dipangkas sekitar Rp2,45 triliun. Langkah penghematan ini menjadi bagian dari strategi efisiensi anggaran […]

  • radikalisme digital

    Radikalisme Digital: Ancaman Baru yang Tumbuh di Saku Anak-anak

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 203
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF — Setiap kali laporan baru tentang radikalisasi muncul, publik sering membayangkan proses perekrutan yang berlangsung di ruang-ruang gelap. Dalam imajinasi itu, ekstremisme tumbuh jauh dari pusat kehidupan sehari-hari. Namun data beberapa tahun terakhir menabrak asumsi tersebut. Radikalisme kini hadir melalui jalur yang justru paling dekat: ponsel anak-anak. Perangkat yang semestinya menjadi ruang belajar […]

expand_less