Desil Tidak Sesuai? Begini Cara Update Data DTSEN
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar update data DTSEN.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Ada warga yang mendapati desil tidak sesuai dengan kondisi keluarganya saat ini. Jika mengalami hal tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa update data DTSEN tidak berarti sekadar mengganti angka desil. Ada proses pemutakhiran, verifikasi, validasi, hingga pengolahan data sebelum posisi desil dapat berubah.
Karena itu, warga yang merasa kondisi sosial ekonominya sudah berubah tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa data tersebut keliru. Sebaliknya, masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran melalui kanal yang tersedia agar kondisi terbaru dapat masuk dalam proses pengolahan data.
BPS menjelaskan bahwa DTSEN merupakan data yang dinamis dan terus mengalami pemutakhiran. Pengelompokan kesejahteraan juga mempertimbangkan berbagai indikator, mulai dari kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi tempat tinggal, sanitasi, kesehatan, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha.
Mengapa Desil Bisa Tidak Sama dengan Kondisi Sekarang?
Perubahan kehidupan keluarga dapat berlangsung lebih cepat daripada siklus pemutakhiran data.
Misalnya, seseorang baru saja kehilangan pekerjaan. Ada pula keluarga yang mengalami penurunan pendapatan, pindah tempat tinggal, kehilangan aset, memperoleh aset, atau mengalami perubahan komposisi keluarga.
Namun, perubahan tersebut belum tentu langsung terlihat dalam data yang menjadi dasar pengelompokan.
Selain itu, desil merupakan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Artinya, perubahan kondisi satu keluarga dapat berjalan bersamaan dengan perubahan kondisi keluarga lain.
Karena itu, angka desil tidak tepat jika langsung dibaca sebagai ukuran gaji atau label “kaya” dan “miskin”. Materi BPS menegaskan bahwa desil digunakan untuk menggambarkan posisi relatif kesejahteraan sosial ekonomi. Pemutakhiran DTSEN sendiri memang dirancang agar data tetap relevan dengan kondisi masyarakat yang terus berubah.
Bagaimana Cara Update Data DTSEN?
Bagi masyarakat yang merasa datanya tidak sesuai, langkah pertama adalah mengajukan pemutakhiran data melalui kanal yang tersedia.
Berdasarkan materi yang menjadi rujukan artikel ini, masyarakat dapat menyampaikan perubahan melalui:
- Desa atau kelurahan;
- Aplikasi Cek Bansos;
- Kanal DTSEN yang disediakan untuk pengajuan pemutakhiran.
Dalam praktiknya, kanal dan mekanisme layanan dapat mengikuti ketentuan pemerintah yang berlaku di daerah masing-masing. BPS Provinsi Kalimantan Selatan, misalnya, menjelaskan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan sejumlah kanal pengusulan perubahan data, termasuk aplikasi Cek Bansos, dengan usulan perubahan yang kemudian melalui proses verifikasi sebelum pemeringkatan ulang dilakukan secara berkala.
Jadi, masyarakat sebaiknya tidak berhenti pada proses pengajuan. Pastikan informasi yang diberikan benar, lengkap, dan sesuai kondisi sebenarnya.
Apakah Mengajukan Perubahan Langsung Mengubah Desil?
Tidak otomatis.
Ini bagian penting yang sering disalahpahami.
Mengajukan pemutakhiran berarti masyarakat menyampaikan bahwa terdapat informasi yang perlu diperiksa atau diperbarui. Setelah itu, data dapat melalui tahapan verifikasi dan validasi sesuai mekanisme yang berlaku.
BPS juga menjelaskan adanya proses pemutakhiran dan validasi DTSEN secara berkelanjutan. Dalam proses tersebut, perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas data.
Dengan demikian, seseorang tidak dapat memastikan bahwa setelah mengajukan perubahan, desilnya pasti turun atau naik.
Hasil akhirnya bergantung pada data yang telah diverifikasi serta proses pengolahan dan pemeringkatan yang berlaku.
Jangan Samakan Desil dengan Besarnya Penghasilan
Kesalahpahaman lain muncul ketika seseorang menganggap Desil 10 pasti kaya atau Desil 1 pasti tidak memiliki penghasilan.
Pemahaman tersebut terlalu sederhana.
DTSEN menggunakan berbagai variabel sosial ekonomi untuk menggambarkan posisi relatif kesejahteraan masyarakat. BPS menyebut sejumlah variabel yang digunakan dalam pengelompokan, antara lain pendidikan, pekerjaan, kualitas tempat tinggal, sanitasi dan air minum, kesehatan serta disabilitas, aset, dan usaha.
Karena itu, angka desil sebaiknya dibaca dalam konteks keseluruhan data, bukan hanya berdasarkan satu indikator.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa kondisi seseorang yang merasa “sudah berubah” belum tentu langsung menghasilkan perubahan angka desil pada saat yang sama.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Data Belum Berubah?
Jika masyarakat sudah menyampaikan pengajuan tetapi posisi desil belum berubah, jangan langsung menganggap proses tersebut gagal.
Pertama, pastikan informasi yang disampaikan memang sesuai kondisi aktual. Kedua, simpan informasi atau bukti pengajuan apabila tersedia. Ketiga, ikuti mekanisme verifikasi yang berlaku di wilayah masing-masing.
Yang juga penting, masyarakat tidak perlu membayar pihak yang menjanjikan perubahan desil secara instan.
Tidak ada jalan pintas untuk menentukan hasil pemeringkatan. Data perlu melalui mekanisme resmi agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
DTSEN pada dasarnya bukan sekadar daftar penerima bantuan. Data tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun basis data sosial ekonomi yang lebih terintegrasi dan akurat. BPS sebelumnya menjelaskan bahwa DTSEN merupakan hasil integrasi sejumlah sumber data sosial ekonomi dan terus dimutakhirkan untuk mendukung ketepatan sasaran program pemerintah.
Penutup: Data Boleh Berubah, Proses Harus Tetap Valid
Jika kondisi keluarga sudah berubah, update data DTSEN merupakan langkah yang lebih tepat daripada sekadar memperdebatkan angka desil.
Namun, satu hal perlu diingat: mengajukan perubahan bukan berarti meminta desil tertentu.
Masyarakat berhak menyampaikan kondisi sebenarnya. Pemerintah kemudian memiliki mekanisme untuk memeriksa, memvalidasi, mengolah, dan memperbarui data sesuai ketentuan.
Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang ingin berada di Desil 1, 5, atau 10.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan data menggambarkan kehidupan warga sebagaimana adanya—karena kebijakan yang tepat hanya bisa lahir dari data yang tepat. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar