BPS: Pemuda Pangandaran Lebih Cepat Punya Rumah
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Rumah Pemuda Jabar kembali menjadi perhatian setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Profil Pemuda 2025 menunjukkan fakta yang mengejutkan. Pemuda di Kabupaten Pangandaran jauh lebih banyak tinggal di rumah milik sendiri dibandingkan pemuda di Kota Bandung. Selisih keduanya bahkan mencapai 40,29 poin persentase, menggambarkan adanya perbedaan pola hunian yang cukup tajam di Jawa Barat.
Temuan tersebut dipublikasikan melalui Jabarstats dan membuka ruang diskusi baru mengenai akses kepemilikan rumah, harga properti, serta karakteristik kehidupan masyarakat di wilayah kabupaten dan perkotaan.
Kabupaten Mendominasi Kepemilikan Rumah Pemuda
Berdasarkan data BPS yang dikutip Jabarstats, sepuluh daerah dengan persentase tertinggi kepemilikan rumah oleh pemuda mencatat rata-rata 92,15 persen. Angka itu berada sekitar 9,15 poin persentase di atas rata-rata seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Daftar tersebut didominasi oleh wilayah kabupaten. Sebaliknya, beberapa kota besar justru berada di kelompok bawah.
Fakta ini memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi yang lebih tinggi di kawasan perkotaan tidak selalu berbanding lurus dengan peluang generasi muda memiliki rumah sendiri.
Selisih Pangandaran dan Kota Bandung Mencapai 40,29 Poin
Salah satu temuan yang paling mencolok ialah rentang antara Kabupaten Pangandaran dan Kota Bandung yang mencapai 40,29 poin persentase.
Data itu menunjukkan adanya kesenjangan status kepemilikan tempat tinggal pemuda antardaerah.
Namun demikian, data BPS tersebut tidak menjelaskan secara langsung faktor penyebab perbedaan tersebut. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dipahami sebagai gambaran kondisi kepemilikan rumah, bukan sebagai bukti hubungan sebab-akibat.
Apa yang Mungkin Mempengaruhi Perbedaannya?
Sejumlah faktor diduga ikut memengaruhi kondisi tersebut.
Di banyak wilayah kabupaten, harga tanah relatif lebih terjangkau dibandingkan kota besar. Selain itu, budaya tinggal bersama keluarga atau melanjutkan rumah orang tua masih cukup kuat sehingga status kepemilikan rumah lebih mudah tercatat sebagai milik sendiri.
Sebaliknya, pemuda di kawasan perkotaan menghadapi tantangan berbeda. Harga rumah yang terus meningkat, keterbatasan lahan, dan tingginya biaya hidup membuat banyak generasi muda memilih menyewa rumah, mengontrak, atau tetap tinggal bersama keluarga.
Meski demikian, dugaan tersebut memerlukan kajian lebih lanjut karena publikasi BPS yang menjadi rujukan tidak mengulas faktor penyebab secara rinci.
Menjadi Catatan bagi Daerah di Priangan Timur
Bagi wilayah Priangan Timur seperti Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Pangandaran, dan sekitarnya, data ini dapat menjadi bahan evaluasi dalam menyusun kebijakan perumahan bagi generasi muda.
Kemudahan memperoleh hunian layak tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga dipengaruhi ketersediaan lahan, akses pembiayaan, tata ruang, hingga program perumahan yang berpihak kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga dapat memanfaatkan data tersebut sebagai dasar untuk merancang kebijakan yang mampu menjaga keterjangkauan harga rumah bagi generasi muda pada masa mendatang.
Kepemilikan Rumah Bukan Sekadar Angka
Data BPS memperlihatkan bahwa kepemilikan rumah masih menjadi tantangan yang berbeda di setiap daerah.
Wilayah kabupaten menunjukkan persentase kepemilikan rumah pemuda yang lebih tinggi, sedangkan kota besar menghadapi tantangan akibat tingginya harga properti dan semakin terbatasnya lahan.
Karena itu, penyusunan kebijakan perumahan perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah agar peluang generasi muda memiliki tempat tinggal semakin terbuka.
Perbedaan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memiliki hunian yang layak dan terjangkau.
Ketika rumah semakin sulit dijangkau di kota, kabupaten justru memberi harapan. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling maju, melainkan daerah mana yang benar-benar mampu memberi ruang bagi generasi mudanya untuk membangun masa depan. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar