Breaking News
light_mode
Beranda » Humaniora » BMKG: El Niño Kuat Mengancam Indonesia hingga Awal 2027

BMKG: El Niño Kuat Mengancam Indonesia hingga Awal 2027

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
  • visibility 147
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HUMANIORA – Ancaman El Niño 2026 belum menunjukkan tanda mereda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena iklim tersebut akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Bersamaan dengan itu, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung di bawah kondisi normal sehingga potensi kekeringan Indonesia, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pasokan air bersih berpeluang meningkat di sejumlah daerah.

Informasi tersebut disampaikan BMKG dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis (30/7). Lembaga itu juga mengumumkan penguatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi mitigasi lintas sektor untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

BMKG: El Niño dan IOD Positif Berpotensi Memperparah Kemarau

Menurut BMKG, intensitas El Niño 2026 diperkirakan mencapai level di atas kategori kuat. Kondisi itu berpotensi semakin berat karena terdapat peluang munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September hingga Desember 2026.

Secara sederhana, El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia. Sementara itu, IOD Positif adalah perubahan suhu muka laut di Samudra Hindia yang juga dapat memperkuat kondisi kering di wilayah Indonesia.

Ketika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang, curah hujan menurun, serta risiko kekeringan meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga pengelolaan sumber daya air, kehutanan, kesehatan masyarakat, hingga pasokan energi yang bergantung pada ketersediaan air.

BMKG Perluas Operasi Modifikasi Cuaca

Menghadapi proyeksi tersebut, BMKG memperkuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca di sejumlah wilayah prioritas.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah itu merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau.

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” ujar Teuku Faisal Fathani dalam siaran pers BMKG di Gedung MHEWS BMKG Jakarta, Kamis (30/7).

Selain meningkatkan operasi modifikasi cuaca, BMKG juga mendorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kementerian teknis, serta berbagai pemangku kepentingan agar mitigasi berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.

Sektor Pertanian hingga Karhutla Masuk Prioritas

Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi memengaruhi banyak sektor.

Di bidang pertanian, berkurangnya curah hujan dapat mengganggu jadwal tanam dan menurunkan produktivitas lahan apabila tidak diantisipasi dengan baik. Di sisi lain, ketersediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri juga perlu mendapat perhatian.

Risiko kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu fokus utama karena kondisi vegetasi yang semakin kering dapat mempercepat penyebaran api. Oleh sebab itu, BMKG menilai upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, bukan setelah titik api mulai meluas.

Selain itu, pemerintah daerah diimbau memperkuat kesiapan embung, waduk, jaringan irigasi, hingga distribusi air bersih di wilayah yang selama ini rentan mengalami kekeringan.

Masyarakat Diminta Tidak Mengabaikan Informasi Cuaca

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca dan iklim yang diperbarui secara berkala. Informasi tersebut penting sebagai dasar pengambilan keputusan, mulai dari aktivitas pertanian, pengelolaan air, hingga langkah pencegahan kebakaran.

Di samping itu, masyarakat diharapkan menghemat penggunaan air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran di lingkungan sekitar.

Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih berat dibandingkan kondisi normal.

Mitigasi Menjadi Penentu Besarnya Dampak

Prediksi El Niño 2026 bukan berarti bencana pasti terjadi di semua wilayah. Namun, proyeksi tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Melalui penguatan Operasi Modifikasi Cuaca, koordinasi lintas sektor, serta penyebaran informasi yang cepat, risiko kekeringan dan karhutla diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.

Berdasarkan siaran pers BMKG, langkah antisipasi sejak sekarang menjadi faktor penting agar dampak fenomena El Niño dan IOD Positif tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas ketika puncak musim kemarau tiba.

Kemarau mungkin tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikendalikan. Saat peringatan sudah disampaikan BMKG, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Indonesia mampu melewati ancaman El Niño kuat dengan risiko sekecil mungkin. (Red)

  • Penulis: redaktur
expand_less