BMKG: El Nino Indonesia Berpotensi Bertahan hingga 2027
- account_circle redaktur
- calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi gambar dampak kemarau panjang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA NASIONAL – El Nino Indonesia diprakirakan masih berlanjut hingga awal tahun 2027. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dipublikasikan melalui akun resmi Info BMKG, fenomena iklim tersebut memiliki peluang 75 persen mencapai kategori sangat kuat. Bersamaan dengan itu, musim kemarau 2026 diperkirakan mencapai puncaknya secara bertahap pada Juli hingga September di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sektor pertanian, sumber daya air, kesehatan masyarakat, energi, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik musim yang berbeda. Oleh karena itu, masyarakat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani perlu mengikuti informasi prakiraan sesuai wilayah masing-masing agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal.
El Nino Berpotensi Memengaruhi Pola Hujan Indonesia
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi El Nino, curah hujan di banyak wilayah Indonesia umumnya berkurang sehingga musim kemarau berpotensi berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Berdasarkan hasil analisis BMKG pada pertengahan Juli 2026, fenomena El Nino Indonesia diprakirakan masih bertahan hingga awal tahun 2027. BMKG juga memperkirakan peluang intensitasnya mencapai kategori sangat kuat sebesar 75 persen.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa prakiraan tersebut akan terus diperbarui mengikuti perkembangan kondisi atmosfer dan lautan. Karena itu, masyarakat diimbau memantau informasi resmi BMKG secara berkala.
Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi Bertahap
Selain memantau perkembangan El Nino, BMKG juga merilis prakiraan waktu puncak musim kemarau berdasarkan Zona Musim (ZOM).
Pada Juli 2026, puncak kemarau diprakirakan terjadi di 83 Zona Musim atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia. Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Jawa dan Kalimantan, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, serta beberapa wilayah Papua.
Selanjutnya, Agustus 2026 diprediksi menjadi periode dengan cakupan puncak kemarau terluas. Sebanyak 369 Zona Musim atau 48,84 persen wilayah Indonesia diprakirakan memasuki fase puncak, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Sementara itu, pada September 2026, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi di 169 Zona Musim atau 25,41 persen wilayah, meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, serta Papua Pegunungan bagian tengah.
Artinya, tidak semua daerah mengalami puncak kemarau pada waktu yang sama. Inilah yang perlu diperhatikan masyarakat saat menyusun berbagai aktivitas yang bergantung pada kondisi cuaca.
BMKG Perkuat Koordinasi untuk Mitigasi Risiko
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa lembaganya terus memperkuat komunikasi, koordinasi, serta pendampingan kepada pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pendampingan tersebut bertujuan agar setiap daerah memperoleh informasi iklim yang lebih rinci sehingga mampu menyusun langkah mitigasi dan adaptasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Kolaborasi menjadi penting karena dampak El Nino tidak selalu sama di setiap daerah.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Prakiraan BMKG tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kekhawatiran, melainkan menjadi dasar bagi masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi.
Di sektor pertanian, petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Di bidang sumber daya air, pemerintah daerah perlu mengoptimalkan cadangan air guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Pengelola bendungan juga diharapkan memastikan ketersediaan air tetap memadai untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Selain itu, sektor kesehatan perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sementara itu, pada sektor kehutanan dan perkebunan, pemantauan dini serta patroli terpadu menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Informasi Iklim Menjadi Kunci Kesiapsiagaan
Fenomena El Nino bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Namun, durasi dan intensitasnya dapat berbeda pada setiap periode sehingga pemantauan informasi resmi menjadi sangat penting.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan iklim melalui kanal resmi karena kondisi atmosfer bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan terbaru.
Semakin cepat informasi dipahami, semakin besar peluang berbagai sektor mengurangi risiko yang mungkin muncul selama musim kemarau.
Perubahan iklim memang tidak bisa dihentikan dalam sekejap. Namun, dampaknya dapat diperkecil ketika informasi yang akurat diikuti dengan tindakan yang tepat. Kesiapsiagaan hari ini adalah investasi terbaik untuk menghadapi musim kemarau esok. (Red)
- Penulis: redaktur



Saat ini belum ada komentar