Dosa Kecil Jangan Diremehkan, Ini Peringatan Ibnu Athaillah
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang sedang merenungkan dosa kecil, istighfar, dan taubat kepada Allah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada dosa yang disebut kecil, tetapi jangan pernah membuat hati merasa aman. Sebab dalam pembahasan dosa kecil, istighfar, taubat, dan rahmat Allah, persoalannya bukan sekadar seberapa besar kesalahan itu terlihat di mata manusia. Ada sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana seorang hamba berdiri di hadapan Allah.
Syekh Ahmad bin Athaillah as-Sakandari menyampaikan sebuah hikmah yang singkat, tetapi maknanya dalam:
لَا صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ، وَلَا كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ
“Tidak ada dosa kecil jika Allah menghadapimu dengan keadilan-Nya, dan tidak ada dosa besar jika Allah menghadapimu dengan karunia-Nya.”
Hikmah ini terdapat dalam Al-Hikam al-‘Atha’iyyah. Pesannya sederhana: jangan mengandalkan kecilnya dosa dan jangan pula membanggakan banyaknya amal.
Sebab manusia sering kali sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi lupa menghitung kesalahan dirinya sendiri.
Ketika Dosa Kecil Mulai Terasa Biasa
Ada kesalahan yang awalnya membuat hati gelisah.
Sekali dilakukan, muncul penyesalan. Kemudian istighfar. Setelah itu berjanji tidak mengulanginya.
Namun, jika kesalahan yang sama terus dilakukan, ada bahaya lain yang perlahan muncul: hati mulai terbiasa.
Ghibah dianggap percakapan biasa.
Merendahkan orang lain dianggap candaan.
Berbohong sedikit dianggap bukan masalah.
Melihat sesuatu yang haram dianggap sekadar “tidak sengaja”.
Menunda taubat dianggap wajar karena merasa usia masih panjang.
Di sinilah istilah dosa kecil tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan maksiat.
Masalahnya bukan hanya ukuran sebuah dosa. Masalahnya adalah perubahan sikap hati terhadap dosa tersebut.
Ketika seseorang masih menangis karena kesalahannya, masih takut kepada Allah, dan masih ingin memperbaiki diri, ada kesadaran yang sedang bekerja.
Sebaliknya, ketika dosa tidak lagi mengusik hati, manusia perlu berhenti dan bercermin.
Sebab yang berbahaya bukan hanya tangan yang melakukan kesalahan, tetapi hati yang akhirnya menganggap kesalahan itu tidak lagi penting.
Istighfar Bukan Izin untuk Mengulangi Kesalahan
Di zaman serba cepat, manusia bahkan bisa salah memahami istighfar.
Salah hari ini, istighfar.
Mengulanginya besok, istighfar lagi.
Lusa mengulanginya kembali, lalu merasa semuanya selesai dengan beberapa kali ucapan astaghfirullah.
Kalau begitu, istighfar berubah seperti tombol reset: ditekan setiap kali melakukan kesalahan.
Padahal, taubat tidak sesederhana itu.
Taubat menuntut penyesalan dan usaha meninggalkan dosa. Jika kesalahan berkaitan dengan hak manusia, persoalannya juga harus diselesaikan dengan manusia yang dirugikan, sesuai ketentuan syariat.
Karena itu, istighfar seharusnya menjadi pintu perubahan, bukan tiket untuk mengulangi kesalahan.
Ada ungkapan yang sangat populer:
لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ
Ungkapan tersebut sering diterjemahkan sebagai, “Tidak ada dosa besar bersama istighfar dan tidak ada dosa kecil bersama terus-menerus melakukan dosa.”
Namun, perlu kehati-hatian dalam penulisannya.
Ungkapan tersebut tidak tepat jika langsung disebut sebagai hadis sahih Nabi SAW. Riwayat yang menisbatkannya kepada Nabi SAW dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadis. Karena itu, lebih aman menyebutnya sebagai ungkapan yang masyhur dalam literatur nasihat Islam.
Pesan moralnya tetap dapat direnungkan: jangan meremehkan dosa kecil, dan jangan berhenti beristighfar serta bertaubat.
Allah Membuka Pintu Taubat, Bukan Pintu Kesombongan
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berputus asa.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.’”
Ayat tersebut merupakan salah satu ayat paling kuat tentang luasnya rahmat Allah.
Tetapi ada perbedaan besar antara berharap kepada rahmat Allah dan merasa bebas berbuat dosa karena menganggap Allah pasti mengampuni.
Yang pertama melahirkan taubat.
Yang kedua berpotensi melahirkan keberanian bermaksiat.
Karena itu, seorang muslim idealnya berjalan dengan dua sikap sekaligus: takut kepada Allah dan berharap kepada rahmat-Nya.
Allah juga berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kesalahan bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Yang Harus Ditakuti Bukan Sekadar Banyaknya Dosa
Yahya bin Mu’adz ar-Razi dikenal dalam literatur tasawuf melalui nasihat-nasihat tentang hubungan manusia dengan Allah.
Salah satu makna yang dinukil darinya berkaitan dengan keadilan dan karunia Allah: apabila manusia hanya mengandalkan keadilan Allah, amalnya tidak cukup untuk membuatnya merasa aman; sedangkan jika Allah memberikan karunia-Nya, manusia tidak seharusnya berputus asa karena banyaknya dosa.
Pesan ini sejalan dengan inti hikmah Ibnu Athaillah.
Amal memang harus dikerjakan.
Dosa harus ditinggalkan.
Istighfar harus diperbanyak.
Taubat harus dilakukan.
Namun, jangan sampai amal melahirkan kesombongan.
Sebab seseorang bisa saja rajin beribadah, tetapi kemudian memandang rendah orang lain yang menurutnya lebih buruk.
Di titik itu, amal yang seharusnya melahirkan kerendahan hati justru bisa berubah menjadi bahan untuk merasa lebih tinggi.
Itulah mengapa orang yang memahami hakikat ibadah tidak mudah berkata, “Saya sudah banyak amal.”
Ia lebih mungkin berkata, “Semoga Allah menerima amal saya.”
Perbedaannya terlihat kecil.
Namun, sikap batinnya sangat berbeda.
Jangan Meremehkan Dosa, Jangan Berputus Asa
Hikmah Ibnu Athaillah tidak mengajak manusia tenggelam dalam ketakutan.
Sebaliknya, ia mengajarkan keseimbangan.
Ketika berbuat dosa, jangan berkata, “Ah, cuma dosa kecil.”
Segera istighfar.
Segera bertaubat.
Segera perbaiki kesalahan.
Namun, ketika dosa terasa begitu banyak, jangan pula berkata, “Allah pasti tidak akan mengampuni saya.”
Allah sendiri melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.
Maka, seorang muslim hidup di antara rasa takut dan harapan.
Takut terhadap keadilan Allah membuatnya berhati-hati.
Berharap kepada karunia Allah membuatnya tidak menyerah.
Keduanya harus berjalan bersama.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan:
“Seberapa besar dosa saya?”
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Setelah melakukan dosa, apakah saya masih mau kembali kepada Allah?”
Jika jawabannya masih iya, jangan berhenti mengetuk pintu taubat.
Jika pernah menyakiti seseorang, minta maaf.
Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Jika pernah lalai, perbaiki.
Jika pernah jatuh, bangun kembali.
Dan jika pernah melakukan dosa kecil, jangan menunggu sampai hati terbiasa dengannya.
Jangan Merasa Aman
Manusia sering merasa nyaman karena mampu membandingkan dosanya dengan dosa orang lain.
“Saya tidak separah dia.”
“Saya cuma melakukan kesalahan kecil.”
“Masih banyak orang yang lebih buruk.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus dipelihara, ia dapat membuat seseorang berhenti bercermin.
Padahal, di hadapan Allah, ukuran manusia bukanlah hasil perbandingan dengan orang lain.
Yang kita pertanggungjawabkan adalah diri sendiri.
Karena itu, jangan bangga hanya karena merasa dosa kita sedikit.
Jangan pula putus asa karena merasa dosa kita terlalu banyak.
Dosa kecil jangan diremehkan. Dosa besar jangan dijadikan alasan untuk berhenti bertaubat. Amal jangan dijadikan alasan untuk sombong. Dan rahmat Allah jangan dijadikan alasan untuk terus bermaksiat.
Pada akhirnya, seorang hamba tidak membutuhkan perasaan bahwa dirinya sudah aman.
Ia membutuhkan hati yang selalu ingin pulang.
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seseorang tahu dirinya berdosa, melainkan ketika ia sudah berdosa tetapi tidak lagi merasa perlu meminta ampun. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar