Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Rezeki Sudah Dijamin, Kenapa Kita Masih Gelisah?

Rezeki Sudah Dijamin, Kenapa Kita Masih Gelisah?

  • account_circle redaktur
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • visibility 9
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Pukul sepuluh malam. Lampu ruang tamu masih menyala.

Di atas meja, beberapa tagihan rumah tangga tergeletak tidak beraturan. Secangkir kopi yang tadi hangat mulai kehilangan uapnya. Seorang ayah membuka aplikasi perbankan di ponselnya sambil sesekali memandangi angka-angka yang belum sesuai harapan.

Di kamar sebelah, anak-anaknya sudah terlelap.

Mushaf Al-Qur’an yang sempat dibaca selepas Magrib masih terbuka, tetapi belum sempat disentuh lagi.

Pemandangan seperti itu mungkin tidak asing.

Banyak orang bekerja keras demi keluarga. Tidak sedikit yang rela mengurangi waktu istirahat demi menambah penghasilan. Itu bukan sesuatu yang salah. Islam justru memuliakan ikhtiar yang halal.

Namun, ada satu hal yang menarik.

Semakin banyak kemudahan tersedia, semakin banyak pula manusia yang diliputi kegelisahan.

Seolah-olah rezeki berada sepenuhnya di tangannya.

Serta seolah-olah langit akan berhenti memberi jika ia berhenti memikirkannya.

Padahal, berabad-abad lalu Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari sudah mengingatkan manusia melalui salah satu hikmah terkenalnya dalam Kitab Al-Hikam.

اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيلٌ عَلَى اِنْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhanmu mengejar sesuatu yang telah dijamin untukmu, sementara engkau lalai terhadap apa yang dituntut darimu, merupakan tanda padamnya mata hati.”

Kalimat itu terasa seperti ditulis untuk manusia zaman sekarang.

Ketika Kita Sangat Sibuk Mengurus Bagian Allah

Ada orang yang sulit tidur karena memikirkan omzet.

Ada yang cemas karena tabungan belum bertambah.

Dan ada pula yang panik ketika investasi turun.

Kekhawatiran seperti itu sangat manusiawi.

Namun, kadang-kadang manusia begitu sibuk memikirkan apa yang menjadi urusan Allah, sementara tugas yang Allah amanahkan justru tertinggal.

Salat ditunda.

Hubungan dengan keluarga mulai renggang.

Waktu untuk membaca Al-Qur’an semakin sedikit.

Sebaliknya, urusan pekerjaan terus bertambah.

Seakan-akan manusia ingin mengambil seluruh beban dunia ke pundaknya sendiri.

Padahal Allah SWT telah berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS Al-Ankabut: 60)

Burung pipit tidak memiliki rekening.

Kucing liar tidak mengenal investasi.

Semut tidak mempunyai gudang pangan yang megah.

Namun, semuanya tetap memperoleh bagian yang telah Allah tetapkan.

Anehnya, manusia yang sudah memiliki berbagai fasilitas justru sering kehilangan ketenangan.

Mungkin yang berkurang bukan jumlah hartanya.

Melainkan rasa percaya kepada Allah yang perlahan mulai menipis.

Allah Tidak Meminta Kita Menjamin Rezeki Sendiri

Di tengah kesibukan dunia, Allah justru memberikan perintah yang sangat berbeda dari yang dibayangkan banyak orang.

Allah berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS Thaha: 132)

Ayat ini seolah mengingatkan bahwa manusia tidak ditugaskan menjadi penjamin rezekinya sendiri.

Tugas manusia adalah beribadah, bekerja dengan cara yang halal, menjaga keluarga, dan menunaikan amanah.

Sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Kadang Kita Terlalu Yakin Tahu yang Terbaik

Ada saat ketika doa-doa manusia berubah menjadi daftar keinginan yang sangat rinci.

Harus pekerjaan itu.

Harus rumah itu.

Dan harus jabatan itu.

Jika kenyataan tidak sesuai harapan, hati mulai dipenuhi kekecewaan.

Padahal dalam sebuah ungkapan hikmah disebutkan:

عَبْدِي أَطِعْنِي فِيمَا أَمَرْتُكَ وَلَا تُعَلِّمْنِي مَا يُصْلِحُكَ

“Wahai hamba-Ku, taatilah perintah-Ku dan jangan mengajari-Ku apa yang terbaik bagimu.”

Kalimat itu bukan ajakan untuk berhenti berdoa.

Sebaliknya, kalimat tersebut mengajarkan kerendahan hati.

Sebab, manusia hanya melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui masa depan.

Jangan Habiskan Umur untuk Mengejar yang Sudah Dijamin

Ibrahim Al-Khawwash pernah berpesan:

لَا تَتَكَلَّفْ مَا كُفِيتَ وَلَا تُضَيِّعْ مَا اسْتُكْفِيتَ

“Jangan memaksakan diri mengejar apa yang telah dicukupkan bagimu, dan jangan menyia-nyiakan apa yang telah diamanahkan kepadamu.”

Nasihat itu bukan anjuran untuk bermalas-malasan.

Rasulullah SAW bahkan bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki. Burung itu pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR Tirmidzi)

Burung tetap terbang.

Burung tetap mencari makan.

Tetapi burung tidak menjalani hidup dengan ketakutan yang tidak berkesudahan.

Barangkali di situlah letak ironi manusia modern.

Kita takut miskin, padahal kemiskinan belum tentu datang.

Namun, kita sering tenang menghadapi kematian yang sudah pasti datang.

Kita sibuk mengejar sesuatu yang sudah Allah jamin.

Sementara sesuatu yang pasti akan ditanyakan di hadapan-Nya justru kerap ditunda.

Mungkin masalah terbesar kita bukan kurangnya rezeki. Mungkin yang mulai berkurang adalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah terlambat memenuhi janji-Nya. Sebab, hidup tidak akan selesai hanya karena uang kurang. Tetapi hidup pasti selesai ketika usia berakhir. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Potret Try Sutrisno saat menjabat Wakil Presiden RI periode 1993-1998 di masa akhir Orde Baru.

    Sunyi di Pusat Kekuasaan: Peran Try Sutrisno Saat Krisis 1998

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 115
    • 0Komentar

    albadarpost.com, CAKRAWALA – Nama Try Sutrisno 1998 kembali mengemuka ketika publik menelisik ulang fase akhir Orde Baru. Pada periode genting itu, Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan berdiri tepat di pusat pusaran krisis. Sosok wapres militer ini hadir di ujung kekuasaan Orde Baru, mendampingi Suharto saat tekanan ekonomi dan politik mengguncang fondasi negara. […]

  • Tambang Ilegal Pangandaran

    Pemprov Jabar Tutup Tambang Ilegal Pangandaran

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle redaktur
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Pemprov Jabar menutup dua tambang ilegal di Pangandaran demi keselamatan warga dan kepastian hukum lingkungan. albadarpost.com, BERITA DAERAH – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup dua tambang galian C ilegal di Kabupaten Pangandaran. Penutupan dilakukan setelah aktivitas penambangan batu kapur itu dinyatakan melanggar hukum dan berpotensi membahayakan keselamatan publik. Keputusan ini penting karena lokasi tambang berada […]

  • Ilustrasi nasi putih yang cepat basi akibat kesalahan memasak dan penyimpanan yang sering tidak disadari

    Nasi Cepat Basi? Ini Kesalahan yang Sering Terjadi

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 110
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Pernah merasa heran karena nasi cepat basi, padahal baru dimasak beberapa jam lalu? Banyak orang mengira penyebabnya adalah kualitas beras. Padahal, nasi mudah basi, nasi cepat bau, dan teksturnya berubah sering kali terjadi akibat kesalahan memasak nasi yang tampak sepele dan jarang disadari sejak awal. Menariknya, kebiasaan yang terlihat “biasa saja” justru […]

  • pesan quraish shihab untuk prabowo

    Pesan Quraish Shihab untuk Prabowo Jadi Sorotan, Ini Isinya

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 95
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA NASIONAL – Pesan Quraish Shihab untuk Prabowo menjadi perhatian publik setelah ulama tafsir terkemuka itu menyampaikan tausiah langsung di hadapan Presiden dalam acara peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara. Nasihat Quraish Shihab kepada presiden tersebut menyoroti makna kepemimpinan yang jujur, amanah, serta tanggung jawab moral seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Sejak awal ceramah, pesan […]

  • Petugas Polres Garut melakukan patroli dan pengamanan di kawasan wisata pantai saat libur panjang dipadati wisatawan.

    Garut Diserbu Wisatawan Saat Long Weekend, Polisi Siaga di Pantai hingga Jalur Arteri

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 98
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Libur panjang membuat kawasan wisata di Kabupaten Garut dipadati wisatawan sejak Kamis 14 Mei 2026. Kondisi tersebut mendorong jajaran Polres Garut memperketat pengamanan libur Garut di sejumlah titik strategis. Pengawasan difokuskan ke objek wisata, jalur arteri, gereja, hingga kawasan pantai yang mengalami lonjakan pengunjung selama long weekend. Arus kendaraan menuju kawasan […]

  • Guru membantu murid sulit diatur melalui pendekatan empati dan komunikasi positif di ruang kelas modern.

    Rahasia Kelas Tenang Tanpa Bentakan, Ini Seni Guru Modern

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 99
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Seorang guru pernah berdiri diam di depan kelas yang gaduh, bukan karena menyerah, tetapi karena memilih memahami. Di momen itulah ia sadar: murid sulit diatur bukan musuh pembelajaran, melainkan pesan yang belum dipahami. Fenomena murid sulit diatur, siswa sulit fokus, hingga perilaku kelas yang menantang kini semakin sering terjadi. Namun menariknya, banyak […]

expand_less