Breaking News
light_mode
Beranda » Hikmah » Saat Manusia Sok Jadi Manajer Takdir

Saat Manusia Sok Jadi Manajer Takdir

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
  • visibility 206
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, HIKMAH – Suara notifikasi ponsel belum berhenti sejak subuh. Ada tagihan, daftar kebutuhan rumah, harga sembako yang naik, sampai target pekerjaan yang terus bertambah. Di tengah hiruk pikuk itu, banyak orang lupa bahwa Al Hikam Ibnu Athaillah, hikmah Ibnu Athaillah, dan ajaran tentang tawakal dan ikhtiar sesungguhnya hadir untuk mengingatkan manusia agar tidak tenggelam dalam kecemasan berlebihan soal rezeki dalam Islam.

Lucunya, manusia sering bertingkah seolah menjadi manajer takdir.

Padahal, posisi yang tersedia sejak awal hanya satu.

Hamba.

Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menulis:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkanlah dirimu dari kesibukan mengatur (urusan dunia). Sebab, apa yang telah diurus dan ditanggung oleh selainmu untukmu, janganlah engkau sibuk mengurusnya sendiri.”

Kalimat pendek itu terasa seperti sindiran yang halus. Namun, justru karena halus, ia sering menampar lebih keras.

Ketika Manusia Ingin Mengatur Semuanya

Ada orang yang belum tidur, tetapi pikirannya sudah berlari ke bulan depan.

Ada yang baru selesai makan siang, tetapi kepalanya sibuk menghitung kebutuhan lima tahun mendatang.

Dan ada pula yang belum mendapat masalah, namun sudah lelah karena membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.

Ironisnya, semakin banyak yang ingin dikendalikan, semakin besar pula kegelisahan yang lahir.

Padahal, Allah telah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Karena itu, yang membuat hati sempit sering kali bukan sedikitnya rezeki.

Melainkan terlalu besarnya keinginan manusia untuk mengendalikan sesuatu yang memang bukan wilayahnya.

Bukan Larangan Bekerja, Apalagi Bermalas-malasan

Sebagian orang salah paham terhadap hikmah ini.

Seolah-olah Islam mengajarkan pasrah tanpa usaha.

Padahal, Nabi Muhammad SAW justru memerintahkan umatnya untuk berikhtiar.

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan burung itu.

Ia terbang.

Ia mencari.

Dan ia bergerak.

Namun, burung tidak pernah mengadakan rapat darurat setiap malam hanya karena cacing besok belum terlihat.

Manusia justru sering kalah tenang dibanding burung.

Kita Sibuk Menjadi Direktur Semesta

Barangkali inilah satir terbesar zaman sekarang.

CV belum berdiri, tetapi sudah khawatir bangkrut.

Usaha belum berjalan, tetapi sudah membayangkan kebangkrutan generasi ketiga.

Anak baru masuk SD, tetapi orang tua sudah stres memikirkan biaya kuliah dan cucu.

Belum hujan.

Payung sudah dibuka.

Belum lapar.

Vitamin sudah diminum tiga jenis.

Belum terjadi apa-apa.

Namun, pikiran sudah membuat film bencana dengan durasi tiga musim.

Sementara itu, Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tentu, ayat ini bukan tiket untuk bermalas-malasan.

Sebaliknya, ayat tersebut mengajarkan keseimbangan.

Tangan bekerja.

Kaki melangkah.

Akal berpikir.

Namun, hati tidak ikut panik.

Tugas Kita Bekerja, Bukan Menjadi Tuhan

Imam Ibnu Athaillah tidak sedang mengajak manusia berhenti berusaha.

Beliau hanya mengingatkan bahwa ada batas antara ikhtiar dan obsesi mengendalikan segalanya.

Sebab, ketika manusia terlalu sibuk menjadi direktur semesta, ia akan lupa menikmati peran yang sebenarnya jauh lebih mulia.

Menjadi hamba.

Dan mungkin, kelelahan terbesar manusia modern bukan karena terlalu banyak bekerja.

Melainkan karena diam-diam ingin mengambil pekerjaan Tuhan.

Kita diperintah mencari rezeki, bukan menggantikan Allah sebagai pengaturnya. (Red)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • baterai EV

    Biaya Baterai EV Ubah Minat Pasar Otomotif Singapura

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 152
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Minat konsumen terhadap kendaraan listrik di Singapura menunjukkan tanda-tanda melambat. Sejumlah pembeli mobil mulai kembali mempertimbangkan kendaraan berbahan bakar bensin atau internal combustion engine (ICE). Perubahan ini dipicu oleh pengaruh biaya baterai EV yang tinggi serta kekhawatiran atas kesiapan infrastruktur pengisian daya. Fenomena tersebut terungkap dalam laporan survei konsumen otomotif terbaru […]

  • Amanah Umar bin Khattab

    Satu Lampu, Sejuta Pelajaran dari Umar

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 51
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Suatu malam, Umar bin Khattab sedang menyelesaikan urusan pemerintahan di bawah cahaya sebuah lampu yang dibiayai dari Baitul Mal, kas negara kaum Muslimin. Ketika pembicaraan bergeser dari urusan negara menuju persoalan pribadi, beliau menghentikan percakapan sejenak, memadamkan lampu itu, lalu menyalakan lampu lain dengan minyak miliknya sendiri. Peristiwa sederhana inilah yang kemudian […]

  • Ucapan Kasar Islam

    Viral Konflik Mantan Pasangan, Islam Tegas Soal Ucapan Kasar dan Cacian

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 165
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Ucapan kasar Islam kembali menjadi perbincangan setelah publik ramai membahas konflik yang melibatkan mantan pasangan. Perdebatan di media sosial pun bermunculan. Sebagian membela, sebagian menyalahkan. Namun di tengah hiruk-pikuk komentar itu, muncul pertanyaan yang lebih penting: bagaimana sebenarnya Islam memandang ucapan kasar, makian, atau kata-kata yang menyakitkan saat hubungan suami istri telah […]

  • Ilustrasi sesorang berdoa dalam kegelapan perut ikan dengan suasana religius dan dramatis.

    Kenapa Doa Nabi Yunus Begitu Dahsyat? Ternyata Ini Rahasianya

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 251
    • 0Komentar

    albadarpost.com, LIFESTYLE – Doa Nabi Yunus menjadi salah satu doa paling populer di kalangan umat Islam. Kalimat dzikir penuh pengakuan dosa itu sering dibaca saat seseorang merasa terdesak, kehilangan arah, atau menghadapi kesulitan hidup yang terasa begitu berat. Namun di balik kepopulerannya, ternyata ada rahasia besar yang jarang benar-benar dipahami banyak orang. Doa itu bukan […]

  • Fikih Muamalah

    Mengapa Rezeki Berkah Lebih Mahal dari Kekayaan?

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 64
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF — Seorang pedagang menutup tokonya dengan omzet puluhan juta rupiah. Di rumah, ia masih gelisah memikirkan keuntungan esok hari. Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang penjual gorengan menghitung hasil dagangannya yang sederhana. Sebelum pulang, ia menyisihkan sebagian uang untuk membantu tetangganya yang sedang sakit. Malam itu, ia tidur dengan hati tenang. Dua kisah […]

  • Perbedaan malam Lailatul Qadr antara NU dan Muhammadiyah

    Malam 27 atau 28? Perbedaan Hitungan Lailatul Qadr, Ini Penjelasannya

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 155
    • 0Komentar

    albadarpost.com, PERSPEKTIF – Perbincangan mengenai Lailatul Qadr yang berbeda kembali muncul di tengah masyarakat. Tahun ini, sebagian umat Islam menyebut malam ini sebagai malam 27 Ramadan menurut pemerintah dan Nahdlatul Ulama, sementara bagi Muhammadiyah malam yang sama justru dihitung sebagai malam ke-28 Ramadan. Perbedaan ini membuat sebagian orang bertanya-tanya: apakah Lailatul Qadr berbeda bagi masing-masing […]

expand_less