Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Rezeki Terus Bertambah, Tapi Hati Tetap Gelisah? Tasawuf Punya Penjelasannya

Rezeki Terus Bertambah, Tapi Hati Tetap Gelisah? Tasawuf Punya Penjelasannya

  • account_circle redaktur
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • visibility 199
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

albadarpost.com, OPINI – Banyak orang mengejar rezeki. Itu wajar. Namun dalam pandangan ulama tasawuf, tidak semua rezeki membawa ketenangan. Ada yang terlihat besar, tetapi membuat hidup semakin sempit. Ada pula yang tampak sederhana, namun justru menghadirkan rasa cukup yang sulit dijelaskan. Itulah sebabnya pembahasan tentang rezeki tidak berkah mulai banyak dicari, terutama ketika orang merasa hidup makin penuh, tetapi hati tetap kosong.

Dan anehnya, salah satu tandanya justru sering diabaikan.

Hari ini orang bisa membeli hampir apa saja dalam hitungan menit. Makanan datang sebelum rasa lapar benar-benar terasa. Barang diskon muncul bahkan ketika dompet sebenarnya sedang tipis. Orang-orang bekerja lebih lama, tidur lebih sedikit, lalu menyebut kelelahan itu sebagai “bagian dari proses.”

Padahal tubuh mulai gampang marah. Tidur tidak nyenyak. Waktu bersama keluarga terasa makin pendek. Tetapi rekening memang terus bertambah.

Ya sudahlah. Yang penting pemasukan aman.

Di titik itu, ulama tasawuf biasanya mulai mengingatkan sesuatu yang tidak terlalu populer:

tidak semua rezeki yang banyak otomatis membawa keberkahan.

Ketika Rezeki Membuat Hidup Terasa Penuh, Tapi Kosong

Dalam tradisi tasawuf, keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari jumlah uang. Ulama lebih sering melihat dampaknya terhadap hati dan kehidupan seseorang.

Apakah hidupnya semakin tenang?
Apakah keluarganya semakin hangat?
Dan apakah ibadahnya semakin baik?

Atau justru sebaliknya.

Ada orang yang penghasilannya naik terus, tetapi emosinya ikut naik. Sedikit masalah langsung meledak. Pulang kerja badan ada di rumah, tetapi pikirannya masih berkeliaran di kantor.

Bahkan sekarang muncul kebiasaan yang terasa aneh kalau dipikir-pikir.

Ada orang yang tetap mengecek notifikasi pekerjaan bahkan saat makan bersama keluarga. Sendok masih di tangan, tetapi pikirannya sudah ada di target besok pagi.

Dan lucunya, itu mulai dianggap normal.

Di beberapa rumah, makan malam tidak lagi penuh obrolan. Anak sibuk dengan video pendek di ponsel. Ayah membalas pesan pekerjaan. Ibu sesekali membuka marketplace karena ada “flash sale tinggal tiga menit lagi.”

Rumah tetap ramai. Tetapi hangatnya seperti pelan-pelan menghilang.

Salah Satu Tanda yang Sering Tidak Disadari

Ulama tasawuf sering menjelaskan bahwa salah satu tanda rezeki tidak berkah adalah:

hati sulit merasa cukup meski kebutuhan terus terpenuhi.

Rumah makin bagus.
Barang makin lengkap.
Tetapi hidup terasa makin sempit.

Ironisnya, banyak orang baru sadar ketika suasana rumah mulai dingin. Percakapan kecil mudah berubah jadi emosi. Tidur terasa capek meski tidak melakukan pekerjaan berat. Bahkan hari libur pun rasanya tetap melelahkan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.”
(QS Thaha: 124)

Banyak ulama menjelaskan bahwa “kehidupan sempit” tidak selalu berarti miskin secara materi. Kadang uang ada. Makanan cukup. Tetapi hati kehilangan rasa tenang.

Dan ya… mungkin memang itu yang sedang banyak dialami orang sekarang. Semuanya bergerak cepat sekali sampai-sampai manusia lupa kapan terakhir benar-benar merasa tenang.

Tasawuf Tidak Mengajarkan Membenci Dunia

Sebagian orang salah memahami tasawuf. Seolah-olah hidup sederhana berarti harus menjauhi dunia dan anti terhadap harta. Padahal banyak ulama tasawuf justru aktif berdagang, bekerja, dan membangun kehidupan.

Tasawuf tidak melarang kaya.

Yang diperingatkan adalah ketika hati mulai diperbudak oleh keinginan yang tidak selesai-selesai.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Karena itu, ulama tasawuf lebih menekankan:

  • bagaimana cara mencari rezeki,
  • bagaimana cara menggunakannya,
  • dan apakah rezeki itu membuat seseorang semakin dekat atau justru semakin jauh dari ketenangan hidup.

Di kampung-kampung dulu, ada orang yang penghasilannya biasa saja tetapi rumahnya terasa hidup. Seusai Magrib terdengar suara anak mengaji pelan dari ruang tengah. Gelas teh manis diletakkan di meja kayu yang sudutnya mulai mengelupas. Tidak mewah memang. Tetapi ada rasa nyaman yang sulit dicari sekarang.

Dan sering kali, justru bagian paling sederhana itu yang pertama hilang.

Ketika Hati Kehilangan Nikmat Hal Kecil

Ulama tasawuf sering mengatakan bahwa hati yang terlalu lelah oleh dunia perlahan kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.

Makan enak terasa biasa.
Liburan cepat membosankan.
Hari libur tetap dipenuhi kecemasan.

Sebagian orang bahkan merasa bersalah kalau duduk tenang terlalu lama. Seolah hidup harus terus sibuk agar terlihat berhasil. Padahal… ya tidak juga sebenarnya.

Mungkin yang lelah bukan tubuhnya.

Mungkin hatinya.

Karena itu, tasawuf selalu mengingatkan satu hal penting:

rezeki terbaik bukan yang paling besar, tetapi yang paling membawa keberkahan.

Dan keberkahan sering tumbuh dari hal-hal yang sekarang mulai jarang dijaga:

  • waktu bersama keluarga,
  • salat tepat waktu,
  • hati yang tidak terlalu rakus,
  • serta rasa syukur terhadap hidup yang sederhana.

Kadang hidup terasa sempit bukan karena rezekinya kurang, melainkan karena hati perlahan lupa cara menikmati keberkahan yang sebenarnya sudah ada di rumahnya sendiri.

وَٱللَّٰهُ أَعْلَمُ بِٱلصَّوَابِ

Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)

  • Penulis: redaktur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi pelajar Indonesia di era digital dengan sorotan krisis karakter dan pendidikan moral saat Hardiknas 2026

    Hardiknas 2026: Nilai Sekolah Naik, Tapi Kasus Bullying dan Etika Pelajar Jadi Sorotan

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 121
    • 0Komentar

    albadarpost.com, EDITORIAL – Peringatan Hardiknas 2026 atau Hari Pendidikan Nasional tahun ini menghadirkan kegelisahan baru di tengah masyarakat. Di satu sisi, pendidikan Indonesia terus berkembang dengan dukungan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan sistem pembelajaran modern. Namun di sisi lain, kasus bullying, kekerasan pelajar, hingga rendahnya etika digital justru semakin sering muncul. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan […]

  • Ilustrasi gedung pemerintahan daerah dengan bayangan borgol dan dokumen anggaran, menggambarkan dugaan penyalahgunaan anggaran.

    Dugaan Penyalahgunaan Anggaran: Saatnya Aparat Bertindak Tegas

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Isu dugaan penyalahgunaan anggaran di Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi sorotan. Sejumlah temuan yang beredar di ruang publik memunculkan pertanyaan serius tentang komitmen penegakan hukum di daerah. Ketika indikasi penyimpangan muncul berulang, publik tentu berharap aparat bergerak cepat dan transparan. Namun demikian, yang terjadi justru memunculkan kesan pembiaran. Karena itu, kepercayaan masyarakat […]

  • Wisuda UMTAS

    Di Balik Wisuda UMTAS Tasikmalaya, Ada Doa dan Air Mata Orang Tua

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 116
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HUMANIORA – Tangis itu akhirnya pecah ketika nama anak mereka dipanggil satu per satu menuju panggung wisuda. Di antara tepuk tangan yang menggema di ruangan, beberapa orang tua tampak sibuk menyeka air mata. Ada yang tersenyum sambil merekam lewat ponsel. Ada pula yang hanya menatap panggung tanpa banyak bicara, seolah sedang mengingat perjalanan panjang […]

  • Tafsir Al-Insyirah

    Tafsir Al-Insyirah: Rahasia di Balik Kesulitan

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 91
    • 0Komentar

    albadarpost.com, HIKMAH – Tidak sedikit orang mencari Tafsir Al-Insyirah ketika hidup terasa berat, pikiran mulai penuh, dan jalan keluar tampak semakin jauh. Surat pendek dalam Al-Qur’an ini justru menjadi salah satu ayat yang paling sering dikutip saat seseorang berada dalam tekanan hidup, kesedihan, kegagalan, atau ujian yang terasa melelahkan. Sebab di dalam Surat Al-Insyirah terdapat […]

  • Jamaah Haji Tasikmalaya

    Penuh Haru! Jamaah Haji Tasikmalaya Resmi Berangkat, Pesan Wali Kota Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 129
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DAERAH – Jamaah Haji Kota Tasikmalaya akhirnya resmi diberangkatkan. Suasana pelepasan jamaah haji Tasikmalaya 2026 di Masjid Agung berubah haru. Tangis keluarga pecah. Doa-doa mengalir tanpa henti. Kamis (16/4/2026), Viman Alfarizi Ramadhan hadir langsung dalam prosesi pelepasan di Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Ia berdiri di hadapan ratusan jamaah dan keluarga yang sejak pagi […]

  • Elon Musk memprediksi AI dan robot akan menggantikan jutaan pekerjaan manusia dan mengubah relevansi pendidikan tinggi

    Elon Musk: Kuliah Akan Kuno di Era AI dan Robot

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle redaktur
    • visibility 127
    • 0Komentar

    albadarpost.com, BERITA DUNIA – Elon Musk kembali memicu perdebatan global setelah memproyeksikan bahwa pendidikan tinggi berpotensi menjadi “kuno” di era kecerdasan buatan dan robotika. Pendiri Tesla dan SpaceX itu menilai perkembangan teknologi akan mengubah masa depan pekerjaan AI dan robot secara drastis, bahkan menggantikan jutaan pekerja manusia di berbagai sektor. Pernyataan tersebut bukan sekadar spekulasi. […]

expand_less