Ketika Dosa Dirasa Biasa, Mungkin Hati Sedang Bermasalah
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seseorang termenung tentang tanda hati mati di tengah kehidupan modern.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, OPINI – Di zaman sekarang, pembahasan tentang hati mati sering terdengar seperti potongan ceramah yang lewat begitu saja di beranda media sosial. Padahal ketika kalimat Syekh Athaillah dibaca pelan-pelan, rasanya tidak nyaman juga.
Beliau berkata:
“مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ”
“Sebagian tanda matinya hati adalah ketika seseorang tidak merasa sedih karena kehilangan kesempatan berbuat baik dan tidak menyesal saat terjatuh dalam dosa.”
Kalimat itu pendek. Namun efeknya panjang.
Sebab hari ini banyak orang masih bisa tertawa setelah berbuat salah. Bahkan sempat mengedit videonya dulu. Diberi musik mellow. Ditambah caption sok kuat. Setelah itu diunggah sambil memantau jumlah view naik perlahan.
Yang aneh, sebagian manusia modern justru mulai merasa asing dengan suasana baik.
Bangun Subuh terasa berat.
Datang ke majelis terasa malas.
Namun scrolling video pendek sampai dua jam lewat tengah malam terasa ringan seperti tidak terjadi apa-apa.
Ketika Dosa Mulai Terasa Normal
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Siapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan sedih karena dosa-dosanya, maka ia seorang mukmin.”
(HR Ahmad)
Hadis ini sebenarnya sederhana.
Tanda iman bukan berarti manusia tanpa dosa. Bukan juga yang terlihat paling religius di depan kamera.
Namun hati yang masih hidup biasanya masih punya rasa takut ketika salah. Masih gelisah setelah maksiat. Masih merasa rugi ketika tertinggal amal baik.
Sedangkan hati yang mulai keras sering punya tanda berbeda.
Ia tidak lagi sedih ketika meninggalkan salat.
Tidak lagi merasa bersalah setelah menyakiti orang.
Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.
Yang berbahaya kadang bukan dosa besarnya. Tapi ketika hati mulai menganggap semuanya biasa saja.
Seperti meja makan yang mulai berdebu sedikit demi sedikit. Awalnya terlihat. Lama-lama dibiarkan. Sampai akhirnya orang lupa meja itu pernah bersih.
Maksiat Sekarang Kadang Dijadikan Konten
Inilah bagian yang terasa paling getir.
Hari ini manusia bukan cuma berbuat salah. Kadang malah menayangkannya.
Ada yang sengaja memamerkan perselingkuhan demi engagement.
Ada yang membuka aib sendiri sambil tertawa.
Dan ada pula yang lebih takut kehilangan followers dibanding kehilangan rasa malu kepada Allah.
Di beberapa kafe, orang bisa duduk berjam-jam membahas saham, skincare, sampai drama artis yang bahkan tidak mengenal mereka. Namun ketika obrolan mulai menyentuh kematian, suasana tiba-tiba berubah sunyi sebentar.
Sendok kecil berhenti bergerak.
Seseorang menarik napas pelan.
Lalu topik cepat-cepat diganti.
Padahal kematian tidak pernah ikut mengganti topik.
Di sudut masjid, kadang masih ada sandal yang tertinggal setelah Subuh. Entah siapa pemiliknya. Mungkin seseorang yang sedang berusaha memperbaiki hidup diam-diam.
Ada juga orang yang spontan mengecilkan volume musik ketika azan terdengar. Meski beberapa menit kemudian diputar lagi seperti biasa. Kecil memang. Tetapi mungkin hati itu belum sepenuhnya mati.
Kisah Zaidul Khoir yang Menampar Banyak Orang
Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud ra., Zaidul Khoir datang menemui Rasulullah SAW setelah perjalanan panjang berhari-hari. Ia rela kelelahan hanya untuk menanyakan satu hal:
bagaimana tanda orang yang dicintai Allah.
Lalu Zaid berkata:
“Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan. Jika tertinggal dari amal itu, saya merasa menyesal dan rindu.”
Jawaban Nabi SAW terasa sangat dalam:
“Ya, itulah dia. Jika Allah tidak menyukaimu, tentu engkau akan disiapkan untuk selain itu.”
Kalimat itu seolah menjelaskan bahwa kecintaan kepada amal saleh bukan semata hasil usaha manusia. Ada pertolongan Allah di sana.
Karena itu, ketika hati mulai malas berbuat baik terus-menerus, sebenarnya ada alarm kecil yang sedang menyala.
Sayangnya banyak orang lebih cepat panik ketika baterai ponsel tinggal dua persen dibanding ketika hati mulai kehilangan rasa takut kepada dosa.
Tanda Hati Masih Hidup
Syekh Athaillah tidak sedang mengajarkan manusia menjadi malaikat.
Beliau hanya mengingatkan bahwa hati yang hidup masih bisa merasa malu. Masih bisa menyesal. Masih bisa rindu kepada kebaikan.
Kadang tandanya kecil sekali.
Tiba-tiba merasa sedih karena tertinggal salat berjamaah.
Atau mendadak tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur’an dari masjid kecil pinggir jalan saat lampu merah menyala.
Hal-hal seperti itu sering terlihat sepele. Namun justru di situlah hati sebenarnya masih bernapas.
Yang paling mengkhawatirkan mungkin bukan ketika manusia jatuh dalam dosa.
Tetapi ketika setelahnya ia masih bisa tertawa terlalu keras, tidur terlalu nyenyak, lalu bangun esok hari tanpa sedikit pun rasa ingin kembali kepada Allah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Penulis: Diki Samani (Pemimpin Redaksi AlbadarPost)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar