Data Sudah Ada, Aksi Ditunggu! Wabup Tasikmalaya Soroti Anak Putus Sekolah
- account_circle redaktur
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Bupati Tasikmalaya, H. Asep Sopari Al-Ayubi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH – Anak tidak sekolah kini menjadi isu panas di Tasikmalaya. Fenomena anak putus sekolah dan ATS (anak tidak sekolah) bahkan mulai dianggap sebagai alarm serius yang tak bisa lagi diabaikan.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, langsung angkat suara. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh berhenti di atas kertas. Sebaliknya, seluruh pihak harus bergerak cepat dan terukur.
Rapat koordinasi Tim Satuan Tugas ATS di Aula Wiratanuningrat, Rabu (15/04/2026), menjadi panggung peringatan keras bagi semua pemangku kebijakan.
“Jangan Cuma Jadi Data!” Tegas Wabup Asep
Pertama, Wabup Asep menyoroti fakta bahwa data anak tidak sekolah sebenarnya sudah tersedia. Namun, ia melihat implementasi di lapangan belum maksimal.
“Dari data yang ada, kita harus bergerak. Harus dipetakan dan harus ada solusinya,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa setiap angka bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada masa depan anak-anak yang terancam terhenti.
Karena itu, langkah konkret harus segera dilakukan. Tidak cukup hanya rapat dan laporan.
Ekonomi Maju Tak Berarti Jika Pendidikan Tertinggal
Selanjutnya, Wabup Asep menyampaikan pesan yang cukup menohok. Ia menilai pembangunan tidak akan dianggap berhasil jika pendidikan tertinggal.
Menurutnya, kualitas sumber daya manusia sangat bergantung pada akses pendidikan yang merata.
“Kalaupun ekonomi maju, kesehatan bagus, tetap tidak akan dinilai berhasil kalau pembangunan SDM tidak meningkat,” ujarnya.
Dengan demikian, penanganan anak tidak sekolah harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar program tambahan.
Libatkan Kemenag, Perluas Jangkauan Penanganan
Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama. Wabup Asep mendorong sinergi antara Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.
Ia menilai jaringan pendidikan di bawah Kemenag sangat luas dan mampu menjangkau lapisan masyarakat yang belum tersentuh.
Selain itu, peran PKBM dan komunitas lokal juga dinilai strategis. Mereka bisa menjadi ujung tombak dalam menarik kembali anak-anak ke dunia pendidikan.
Masalah Nyata di Lapangan: Bukan Sekadar Angka
Lebih jauh, persoalan anak tidak sekolah tidak berdiri sendiri. Banyak faktor saling berkaitan, mulai dari kondisi ekonomi keluarga hingga akses pendidikan yang terbatas.
Karena itu, solusi harus dirancang secara menyeluruh. Pendekatan parsial justru berisiko gagal.
Dengan strategi yang tepat, angka ATS di Tasikmalaya bisa ditekan secara signifikan.
Saatnya Bergerak, Bukan Sekadar Wacana
Akhirnya, rapat koordinasi ini diharapkan menjadi titik balik. Pemerintah daerah diminta bergerak cepat dan tidak lagi menunda langkah nyata.
Wabup Asep menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.
Jika tidak segera ditangani, persoalan ini berpotensi menjadi bom waktu bagi masa depan daerah. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar