Mustika Darling, Gerakan Ibu-Ibu yang Tak Sekadar Bersih
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pembina Muslimat NU Jawa Barat Hj Lina Marlina Ruzhan, Sabtu (20/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, BERITA DAERAH — Mustika Darling dan gerakan lingkungan bersih kini tidak lagi dipandang sekadar urusan menyapu halaman atau merapikan rumah. Bagi Muslimat NU Jawa Barat, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keluarga sehat, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mengubah pola pikir masyarakat dari tingkat rumah tangga.
Di tengah naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok dan tantangan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga, gagasan memanfaatkan pekarangan rumah justru mendapat perhatian lebih besar. Bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kemandirian dan keberlanjutan.
Pembina Muslimat NU Jawa Barat, Hj Lina Marlina Ruzhan, menyampaikan bahwa Mustika Darling hadir sebagai gerakan nyata yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan keindahan lingkungan.
Menurutnya, makna kebersihan tidak berhenti pada kondisi fisik semata. Lebih jauh, perubahan perilaku dan pola pikir menjadi bagian penting yang harus dibangun bersama.
“Mustika Darling ini salah satu cara mengubah diri dan menyadarkan kita tentang kebersihan dan keindahan. Kalau rumah bersih tapi pikiran kotor, ya percuma. Karena itu, program Muslimat ini saya sambut dengan penuh semangat,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Dari Pekarangan Rumah Menuju Ketahanan Pangan Keluarga
Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, Lina menilai program Mustika Darling menawarkan solusi sederhana namun memiliki dampak yang nyata bagi kehidupan keluarga.
Melalui keterlibatan PKK dan kelompok perempuan di tingkat bawah, masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai tanaman kebutuhan sehari-hari.
Cabai, cengek, pakcoy, hingga bawang daun menjadi contoh tanaman yang mulai dibudidayakan di lingkungan rumah masing-masing.
Suasana seperti itu mulai terlihat di sejumlah permukiman. Pot-pot tanaman tersusun di depan rumah. Sebagian ibu rumah tangga tampak saling bertukar bibit dan berbagi pengalaman mengenai cara merawat tanaman agar tetap produktif.
Menurut Lina, langkah sederhana tersebut dapat membantu keluarga mengurangi pengeluaran sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan yang sehat.
“Bayangkan, ketika mau memasak tinggal petik langsung dari pekarangan. Tidak perlu ke pasar dan tidak perlu mengeluarkan biaya lagi. Para ibu mulai sadar bahwa lingkungan bersih harus menjadi gaya hidup,” katanya.
Perubahan Pola Pikir Menjadi Tantangan Terbesar
Lina mengakui bahwa tantangan terbesar dari setiap program pembangunan bukan terletak pada kurangnya gagasan, melainkan pada perubahan pola pikir masyarakat.
Sebab, menurutnya, sebaik apa pun sebuah program akan sulit berhasil apabila tidak diikuti kesadaran dari masyarakat itu sendiri.
Karena itu, Mustika Darling tidak boleh berhenti pada slogan atau kegiatan seremonial semata.
Ia berharap gerakan tersebut dapat terus disosialisasikan hingga tingkat akar rumput sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Mengubah mindset orang itu paling susah. Pemerintah boleh membuat program yang luar biasa, tetapi kalau hati dan pikiran tidak mau berubah, semuanya akan sia-sia. Namun saya yakin, kalau hati para ibu PKK sudah bergerak, mereka pasti bisa,” ungkapnya.
Perlu Pendampingan dan Pengawasan yang Berkelanjutan
Selain dukungan masyarakat, Lina menilai pemerintah juga memiliki peran penting dalam memastikan keberlangsungan program tersebut.
Pendampingan dan pengawasan, menurutnya, perlu dilakukan agar Mustika Darling tidak sekadar menjadi bahan pemberitaan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan nyata.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, PKK, Muslimat NU, serta masyarakat, gerakan ini diharapkan mampu membangun budaya hidup bersih sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari perubahan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.
Rumah yang bersih memang menyenangkan. Namun rumah yang bersih, pekarangannya produktif, dan penghuninya memiliki cara berpikir yang sehat, itulah awal lahirnya peradaban yang kuat. Sebab perubahan besar hampir selalu dimulai dari halaman rumah dan hati yang mau berubah. (GZ)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar