Uwais Al-Qarni: Tidak Bertemu Rasulullah, Tapi Dipuji Nabi
- account_circle redaktur
- calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi seorang pemuda sedang merawat ibunya yang lanjut usia sebagai gambaran kisah Uwais Al-Qarni.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Pagi itu mungkin tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya di sebuah daerah bernama Qarn, Yaman.
Matahari perlahan naik dari balik perbukitan yang kering. Angin gurun berembus pelan membawa debu tipis ke halaman rumah-rumah sederhana. Di salah satu rumah yang dindingnya terbuat dari tanah liat, seorang pemuda sibuk mengurus ibunya yang sudah renta.
Ia membantu kebutuhan sang ibu. Menyiapkan keperluannya. Menemani hari-harinya.
Tidak ada keramaian.
Tidak ada tepuk tangan.
Dan tidak ada orang yang menulis kisahnya.
Namun dari rumah sederhana itu, lahir sebuah nama yang kelak dikenang umat Islam selama berabad-abad.
Namanya Uwais Al-Qarni.
Hari ini, nama Uwais masih sering terdengar dalam ceramah tentang bakti kepada orang tua. Di berbagai pengajian kampung, majelis taklim, hingga pesantren, kisahnya kembali diceritakan. Menariknya, banyak orang mengenalnya sebagai seorang waliyullah, padahal ia bukan sahabat Nabi dan tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW.
Lalu, apa yang membuat Uwais Al-Qarni begitu istimewa?
Ketika Kerinduan Bertemu Nabi Harus Kalah oleh Bakti kepada Ibu
Uwais hidup pada masa Rasulullah SAW.
Ia memeluk Islam dan mencintai Nabi Muhammad SAW sebagaimana kaum Muslimin lainnya. Bahkan, banyak riwayat menyebut ia memiliki keinginan yang sangat besar untuk datang ke Madinah dan bertemu Rasulullah secara langsung.
Bayangkan sejenak.
Jika Anda hidup pada masa itu, lalu memiliki kesempatan bertemu manusia paling mulia di muka bumi, apakah Anda akan melewatkannya?
Banyak orang mungkin tidak akan berpikir dua kali.
Namun Uwais menghadapi pilihan yang tidak mudah.
Di rumahnya ada seorang ibu yang sudah tua dan membutuhkan perawatan. Perjalanan dari Yaman ke Madinah bukan perjalanan singkat. Jika ia pergi, ibunya akan kehilangan orang yang selama ini mendampinginya.
Maka Uwais memilih tinggal.
Ia mengubur kerinduannya sendiri demi memenuhi hak ibunya.
Pilihan itu mungkin tampak kecil di mata manusia. Akan tetapi, Allah menilainya dengan ukuran yang berbeda.
Rasulullah SAW Menyebut Namanya, Padahal Belum Pernah Bertemu
Kisah Uwais Al-Qarni mencapai puncak keistimewaannya ketika Rasulullah SAW menyebut namanya dalam hadis sahih.
Dalam riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW mengabarkan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib tentang seorang laki-laki dari Yaman bernama Uwais bin Amir Al-Qarni.
Rasulullah SAW bersabda:
“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir dari Yaman. Ia mempunyai seorang ibu yang sangat ia baktikan. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah ia memohonkan ampun untuk kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi salah satu riwayat paling terkenal dalam khazanah Islam.
Menariknya, saat Nabi menyampaikan hadis tersebut, Uwais belum pernah bertemu beliau.
Namanya lebih dahulu dikenal di langit sebelum dikenal di bumi.
Apakah Uwais Al-Qarni Seorang Waliyullah?
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa.”
(QS. Yunus: 62–63)
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa wali Allah bukanlah orang yang otomatis memiliki kesaktian atau kemampuan luar biasa.
Ukuran kewalian adalah iman dan takwa.
Berdasarkan hadis sahih dan penjelasan para ulama, banyak tokoh Ahlus Sunnah menjadikan Uwais Al-Qarni sebagai salah satu contoh waliyullah karena beberapa sifat yang menonjol.
Ia beriman dengan kuat.
Ia menjaga ketakwaannya.
Dan ia ikhlas.
Serta ia rendah hati.
Dan yang paling sering disebut, ia berbakti kepada ibunya dengan cara yang luar biasa.
Tidak Terkenal di Bumi, Tetapi Dikenal di Langit
Ada pelajaran yang terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba-lomba agar dilihat. Jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan jumlah pujian sering kali menjadi ukuran keberhasilan.
Namun Uwais Al-Qarni mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak memiliki jabatan.
Ia tidak membangun ketenaran.
Dan ia tidak mengumpulkan pengikut.
Bahkan banyak orang pada zamannya tidak mengenalnya.
Akan tetapi, Rasulullah SAW mengenalkan namanya kepada para sahabat.
Tidak melalui pangkat.
Tidak melalui kekayaan.
Melainkan melalui ketulusan hati dan baktinya kepada seorang ibu.
Menariknya, hingga hari ini banyak orang tua yang memberi nama anak mereka “Uwais” dengan harapan tumbuh menjadi pribadi yang saleh, rendah hati, dan berbakti kepada keluarga.
Kisah itu terus hidup.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari satu majelis ke majelis yang lain.
Dan mungkin, dari satu hati ke hati yang lain.
Karena pada akhirnya, Uwais Al-Qarni mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari sorotan manusia. Kadang ia tumbuh di rumah sederhana, di balik pengorbanan yang tidak diketahui siapa pun, dan di dalam hati yang memilih taat meski tidak ada yang melihat.
Banyak orang berjuang agar namanya dikenal manusia. Uwais Al-Qarni justru mengajarkan bahwa kebahagiaan terbesar adalah ketika Allah mengenal kita sebagai hamba yang tulus, meski dunia tidak pernah mengetahui siapa kita. (Red)
- Penulis: redaktur

Saat ini belum ada komentar