Mengapa Pembakaran Masjid Al-Aqsa Masih Diperingati?
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- visibility 48
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gedung Majlis Ulama Indonesia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HUMANIORA – Sudah lebih dari setengah abad berlalu sejak pembakaran Masjid Al-Aqsa mengguncang dunia Islam. Namun hingga kini, Masjid Al-Aqsa masih menjadi pusat perhatian setiap kali tanggal 21 Agustus mendekat. Mengapa sebuah peristiwa yang terjadi pada 1969 terus diperingati dan dianggap tetap relevan di tengah perubahan zaman?
Bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI), jawabannya bukan sekadar soal mengenang sejarah. Tragedi itu menjadi pengingat penting tentang perlindungan tempat suci, perjuangan kemanusiaan, dan solidaritas internasional bagi rakyat Palestina. Karena alasan tersebut, MUI bersama DPR RI akan menggelar Forum Dialog Internasional pada 19–21 Agustus 2026 sebagai bagian dari peringatan tragedi pembakaran Masjid Al-Aqsa.
Agenda tersebut diharapkan menjadi ruang bertemunya tokoh agama, anggota parlemen, akademisi, serta mitra internasional untuk memperkuat komitmen terhadap perdamaian dan penyelesaian konflik Palestina melalui jalur dialog.
Tragedi yang Mengubah Arah Solidaritas Dunia Islam
Peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa terjadi pada 21 Agustus 1969. Kebakaran menghanguskan sebagian bangunan bersejarah, termasuk Mimbar Salahuddin yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi umat Islam.
Peristiwa itu memicu kecaman luas dari berbagai negara. Gelombang respons internasional kemudian mendorong lahirnya kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara Islam.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menjelaskan bahwa tragedi pembakaran Masjid Al-Aqsa menjadi salah satu momentum penting lahirnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Menurutnya, peristiwa tersebut bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga titik awal menguatnya solidaritas dunia Islam dalam memperjuangkan perlindungan tempat-tempat suci dan hak-hak rakyat Palestina.
Mengapa MUI Masih Memperingatinya?
Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, MUI menilai nilai-nilai yang lahir dari peristiwa itu tetap relevan. Karena itulah, forum internasional yang akan digelar pada Agustus 2026 tidak hanya berisi agenda seremonial, tetapi juga pembahasan mengenai diplomasi kemanusiaan, perdamaian, dan peran masyarakat internasional.
Forum tersebut dijadwalkan menghadirkan berbagai narasumber dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan langkah-langkah memperkuat dukungan terhadap Palestina melalui pendekatan yang damai dan konstruktif.
Bagi MUI, memperingati pembakaran Masjid Al-Aqsa juga menjadi sarana edukasi agar generasi muda memahami latar belakang sejarah yang membentuk perhatian dunia terhadap isu Palestina hingga saat ini.
Masjid Al-Aqsa Bukan Sekadar Bangunan Bersejarah
Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Selain dikenal sebagai kiblat pertama umat Islam, kawasan tersebut juga menjadi lokasi peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Nilai sejarah, spiritual, dan peradaban itulah yang membuat perhatian terhadap Al-Aqsa tidak pernah surut. Berbagai organisasi internasional, lembaga keagamaan, hingga komunitas kemanusiaan terus mengangkat isu tersebut dalam berbagai forum sebagai bagian dari upaya menjaga perdamaian dan penghormatan terhadap warisan dunia.
Karena itu, peringatan tahunan tidak hanya dimaknai sebagai mengenang sebuah kebakaran, tetapi juga sebagai ajakan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas negara dan agama.
Indonesia Terus Menunjukkan Komitmennya
Indonesia selama ini dikenal konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina melalui jalur diplomasi, bantuan kemanusiaan, serta kerja sama internasional.
Penyelenggaraan Forum Dialog Internasional oleh MUI bersama DPR RI menjadi salah satu bentuk kontribusi tersebut. Selain memperkuat kesadaran publik, forum itu diharapkan melahirkan rekomendasi yang dapat memperkuat kolaborasi antarnegara dalam mendukung perdamaian yang berkeadilan.
Melalui pendekatan dialog, Indonesia ingin menunjukkan bahwa penyelesaian konflik memerlukan kerja sama, penghormatan terhadap hukum internasional, dan kepedulian bersama terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Sejarah yang Terus Mengingatkan Dunia
Lebih dari 50 tahun setelah tragedi itu terjadi, pembakaran Masjid Al-Aqsa tetap menjadi salah satu peristiwa yang dikenang dalam sejarah dunia Islam. Bukan semata karena bangunan yang terdampak, melainkan karena dampaknya terhadap lahirnya solidaritas global dan meningkatnya perhatian internasional terhadap Palestina.
Bagi MUI, peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melihat sejarah secara utuh, sekaligus memperkuat komitmen terhadap perdamaian dan keadilan.
Sejarah tidak dapat diulang, tetapi pelajarannya dapat terus diwariskan. Selama Masjid Al-Aqsa menjadi simbol keimanan, peradaban, dan harapan, memperingati tragedinya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjaga agar semangat kemanusiaan, solidaritas, dan perdamaian tetap hidup bagi generasi yang akan datang. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar