Al-Jumu’ah Ayat 10: Pesan Allah Setelah Salat Jumat
- account_circle redaktur
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi suasana selesai salat jumat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Setelah salat Jumat selesai, apa yang seharusnya dilakukan seorang Muslim? Surat Al-Jumu’ah ayat 10 memberikan jawaban yang menarik. Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk kembali menjalani aktivitas kehidupan, mencari karunia Allah, sekaligus memperbanyak zikir. Dengan kata lain, Al-Jumu’ah ayat 10 mempertemukan ibadah, ikhtiar, dan kesadaran spiritual dalam satu pesan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Ada pedagang yang kembali membuka toko, pekerja yang melanjutkan tugas, petani yang kembali ke sawah, hingga pelaku UMKM yang meneruskan aktivitas usahanya setelah salat Jumat.
Namun, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kembali bekerja. Ada pesan yang lebih dalam: jangan sampai kesibukan mencari penghidupan membuat manusia lupa kepada Allah.
Surat Al-Jumu’ah Ayat 10: Apa Pesannya?
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumu’ah ayat 10:
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَاةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Terjemahan mengacu pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
Ayat tersebut memiliki hubungan erat dengan ayat sebelumnya. Dalam QS Al-Jumu’ah ayat 9, Allah memerintahkan orang beriman meninggalkan jual beli ketika panggilan salat Jumat telah diserukan.
Kemudian, setelah salat selesai, Allah memberikan arahan berikutnya: manusia boleh kembali menjalankan aktivitasnya dan mencari karunia-Nya.
Di sinilah terlihat keseimbangan yang diajarkan Al-Qur’an. Ketika waktu ibadah tiba, seorang Muslim mendahulukan kewajiban. Setelah kewajiban selesai, ia kembali berikhtiar menjalani kehidupan.
“Bertebaran di Bumi” dan Makna Ikhtiar
Kalimat “fantashirū fil-arḍ” secara umum menggambarkan perintah untuk bertebaran atau kembali bergerak di muka bumi.
Sementara itu, Allah menggunakan ungkapan “wabtaghū min faḍlillāh”, yakni mencari karunia Allah.
Pesannya tidak berhenti pada aktivitas mencari uang. Seorang Muslim tetap perlu memperhatikan sumber penghasilannya, cara memperoleh keuntungan, serta dampaknya terhadap orang lain.
Pedagang tetap harus jujur. Pekerja perlu menjalankan amanah. Pengusaha harus menghindari penipuan dan praktik yang merugikan. Begitu pula pelaku usaha kecil perlu membangun bisnis melalui cara yang halal dan bertanggung jawab.
Karena itu, Surat Al-Jumu’ah ayat 10 tidak tepat jika hanya dipahami sebagai perintah “bekerja setelah salat Jumat”. Ayat ini juga mengajarkan orientasi: mencari karunia Allah sambil tetap menjaga hubungan dengan-Nya.
Mengapa Mencari Rezeki Harus Disertai Zikir?
Bagian akhir ayat justru memberikan penekanan yang sangat penting:
وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya, “dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Perintah mengingat Allah muncul setelah perintah mencari karunia-Nya.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak boleh membuat manusia kehilangan orientasi spiritual. Seseorang boleh sibuk bekerja, tetapi hatinya tetap terikat kepada Allah.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak semata-mata jumlah pendapatan. Ada pula persoalan kehalalan sumber penghasilan, kejujuran dalam bekerja, amanah terhadap tanggung jawab, serta kebermanfaatan hasil usaha.
Dengan perspektif tersebut, mencari nafkah dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk menjalani kehidupan dengan baik.
Surat Al-Jumu’ah Ayat 10 dan Ayat tentang Ikhtiar
Pesan tentang usaha juga memiliki keterkaitan tema dengan beberapa ayat Al-Qur’an lainnya.
Allah SWT berfirman dalam QS An-Najm ayat 39:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya, “dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Ayat tersebut bukan tafsir langsung terhadap QS Al-Jumu’ah ayat 10. Namun, keduanya memiliki keterkaitan tema mengenai ikhtiar manusia.
Hal serupa dapat ditemukan dalam QS Al-Mulk ayat 15:
فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ
Ayat tersebut mengingatkan manusia untuk berjalan di berbagai penjuru bumi dan menikmati rezeki yang Allah sediakan.
Dari sini terlihat satu pola yang menarik: Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan kehidupan dunia. Sebaliknya, manusia diperintahkan menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa seluruh rezeki pada akhirnya berasal dari Allah.
Pelajaran untuk Pekerja, Pedagang, dan UMKM
Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Surat Al-Jumu’ah ayat 10.
Pertama, ibadah dan bekerja tidak harus dipertentangkan. Seorang Muslim menjalankan salat Jumat sebagai kewajiban. Setelah itu, ia dapat kembali menjalankan pekerjaan dan aktivitas ekonominya.
Kedua, mencari rezeki harus memperhatikan kehalalan. Ayat ini menggunakan istilah karunia Allah. Karena itu, mencari keuntungan tidak berarti membenarkan semua cara.
Ketiga, kesibukan tidak boleh memutus zikir. Dunia kerja memiliki banyak tuntutan, tetapi seorang Muslim tetap perlu menjaga kesadaran kepada Allah.
Keempat, keberuntungan memiliki makna yang lebih luas daripada kekayaan. Pada akhir ayat, Allah mengaitkan zikir dengan tufliḥūn, yakni keberuntungan atau keberhasilan.
Bagi pedagang, pesan ini dapat menjadi pengingat agar tidak mengorbankan kejujuran demi keuntungan. Bagi pekerja, ayat ini dapat menjadi dorongan untuk menjalankan amanah dengan baik. Sementara bagi pelaku UMKM, ayat ini mengajarkan bahwa pertumbuhan usaha idealnya berjalan bersama integritas.
Setelah Jumat, Kembali Bekerja atau Tetap di Masjid?
Ayat ini juga perlu dipahami secara proporsional.
QS Al-Jumu’ah ayat 10 tidak berarti setiap orang wajib langsung meninggalkan masjid setelah salat Jumat untuk bekerja. Kata “bertebaran” memberikan gambaran tentang kembalinya manusia kepada aktivitas kehidupan setelah kewajiban Jumat selesai.
Seseorang dapat bekerja, berdagang, belajar, mengurus keluarga, melakukan perjalanan, atau menjalankan aktivitas bermanfaat lainnya.
Yang menjadi titik tekan ayat adalah perubahan keadaan: setelah kewajiban selesai, manusia kembali menjalani aktivitas kehidupannya sambil tetap mengingat Allah.
Dengan demikian, ayat ini tidak hanya berbicara kepada pekerja atau pedagang. Pesannya relevan bagi siapa pun yang menjalani kehidupan dengan berbagai profesi dan tanggung jawab.
Pesan Al-Jumu’ah Ayat 10 untuk Kehidupan Hari Ini
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, pesan ayat ini justru semakin terasa.
Manusia sering mengejar target, pendapatan, karier, dan berbagai pencapaian. Dalam kondisi seperti itu, agama mengingatkan bahwa aktivitas duniawi tidak boleh menghapus kesadaran kepada Sang Pemberi rezeki.
Salat Jumat memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Setelah itu, Al-Qur’an mengarahkan manusia kembali bergerak.
Namun, arah geraknya bukan sekadar mengejar dunia. Ia mencari karunia Allah sambil memperbanyak zikir.
Inilah keseimbangan yang dapat dibaca dari Surat Al-Jumu’ah ayat 10: ibadah tidak mematikan produktivitas, sementara produktivitas juga tidak boleh mematikan spiritualitas.
Setelah salat Jumat, jangan hanya pulang membawa sajadah dan khutbah. Pulanglah membawa arah: bekerja dengan jujur, mencari rezeki yang halal, dan tetap mengingat Allah. Sebab, Al-Qur’an tidak meminta kita memilih antara ibadah dan ikhtiar—Al-Jumu’ah ayat 10 mengajarkan bagaimana keduanya berjalan bersama. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar