Tafsir Surat Al-Jumuah: Saat Panggilan Allah Mengalahkan Kesibukan
- account_circle redaktur
- calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Salat Jumat di Masjid Jami Al-Muniroh, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
albadarpost.com, HIKMAH – Ada satu pertanyaan sederhana yang terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern: apa yang kita lakukan ketika panggilan salat Jumat bertemu dengan kesibukan mencari nafkah?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah dijawab Al-Qur’an lebih dari 14 abad lalu melalui Surat Al-Jumuah. Surah ke-62 ini tidak hanya berbicara tentang salat Jumat. Tafsir Surat Al-Jumuah juga membawa pesan tentang ilmu, penyucian jiwa, prioritas ibadah, aktivitas ekonomi, serta cara seorang Muslim menempatkan dunia dan akhirat secara proporsional.
Bahkan, pada bagian akhir surah, Al-Qur’an menggambarkan orang-orang yang meninggalkan Rasulullah SAW ketika khutbah Jumat berlangsung karena tertarik pada perdagangan dan hiburan. Dari sini muncul pesan yang sangat kuat: rezeki memang dicari, tetapi panggilan Allah tidak boleh dikalahkan oleh urusan dunia.
Surat Al-Jumuah dimulai dari ilmu dan penyucian jiwa
Sebelum berbicara mengenai salat Jumat, Surat Al-Jumuah terlebih dahulu membawa pembaca kepada fondasi yang lebih mendasar.
Pada ayat pertama, Allah menegaskan:
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah…”
(QS Al-Jumuah: 1)
Ayat tersebut menggambarkan kebesaran Allah sebagai Maharaja, Yang Mahasuci, Mahaperkasa, dan Mahabijaksana. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah sesuai dengan keadaan yang Allah kehendaki.
Kemudian ayat 2 menjelaskan salah satu tugas Rasulullah SAW: membacakan ayat Allah, menyucikan manusia, serta mengajarkan Kitab dan hikmah.
Pesannya jelas. Ilmu dalam Islam tidak berhenti pada pengetahuan. Ilmu seharusnya membentuk jiwa dan perilaku.
Karena itu, seseorang bisa saja banyak mengetahui ajaran agama. Namun, pengetahuan tersebut belum mencapai tujuan jika tidak melahirkan perubahan akhlak.
Ayat 5: Ilmu tanpa pengamalan menjadi peringatan
Pesan tersebut semakin kuat dalam ayat 5.
Allah memberikan perumpamaan bagi orang yang diberi kitab tetapi tidak mengamalkannya seperti keledai yang membawa kitab-kitab.
Perumpamaan ini bukan sekadar cerita tentang umat terdahulu. Ia juga menjadi peringatan bagi siapa pun yang memiliki ilmu tetapi tidak menjadikannya pedoman.
Dengan demikian, Surat Al-Jumuah memiliki hubungan yang menarik antara ilmu dan amal.
Ilmu memberi arah. Amal menunjukkan bahwa arah tersebut benar-benar dijalankan.
Karena itu, membaca tafsir Surat Al-Jumuah tidak cukup hanya untuk menambah wawasan. Yang lebih penting adalah mencari pesan apa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat 9: Ketika azan Jumat menghentikan transaksi
Puncak pesan Surat Al-Jumuah terdapat pada ayat 9:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…”
(QS Al-Jumuah: 9)
Ayat ini memberikan perintah yang sangat jelas kepada orang-orang beriman: ketika panggilan salat Jumat telah tiba, aktivitas jual beli yang menghalangi pelaksanaan salat harus ditinggalkan. Terjemahan Kementerian Agama juga menerjemahkan fas‘aw sebagai “segeralah kamu mengingat Allah”.
Namun, kata “bersegeralah” tidak berarti umat Islam harus berlari menuju masjid.
Dalam sejumlah penjelasan tafsir, maknanya adalah memberikan perhatian dan segera memenuhi panggilan tersebut, bukan melakukan tindakan tergesa-gesa yang membahayakan diri.
Dengan kata lain, Al-Qur’an sedang mengatur prioritas, bukan sekadar mengatur kecepatan berjalan.
Ketika urusan dunia bertabrakan dengan kewajiban Jumat, kewajiban itulah yang harus didahulukan.
Ayat 10: Setelah ibadah, kembali bekerja
Menariknya, Al-Qur’an tidak meminta manusia meninggalkan aktivitas ekonomi setelah salat Jumat.
Allah berfirman:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS Al-Jumuah: 10)
Ayat ini menunjukkan keseimbangan.
Sebelum salat Jumat, seorang Muslim diminta meninggalkan aktivitas yang menghalangi kewajiban tersebut. Setelah salat selesai, manusia dipersilakan kembali bekerja dan mencari karunia Allah.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan bahwa mencari nafkah merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ibadah.
Justru, bekerja mencari rezeki halal dapat menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim selama dilakukan dengan cara yang benar dan tidak membuatnya melalaikan kewajiban kepada Allah.
Tafsir pada ayat 10 juga mengaitkan pencarian karunia Allah dengan usaha memperoleh rezeki yang halal serta memperbanyak zikir.
Ayat 11: Ketika perdagangan mengalahkan khutbah
Kemudian datang ayat yang sangat menarik:
“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Nabi Muhammad) sedang berdiri…”
(QS Al-Jumuah: 11)
Ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika sebuah kafilah perdagangan datang ke Madinah saat Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah Jumat. Sebagian orang kemudian meninggalkan khutbah untuk mendatangi perdagangan tersebut. Tafsir Ibnu Katsir menyebut riwayat Jabir bahwa hanya dua belas orang yang tetap bersama Rasulullah SAW ketika peristiwa itu terjadi.
Al-Qur’an kemudian memberikan penegasan:
“Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan. Dan Allah Pemberi rezeki yang terbaik.”
Pesannya bukan bahwa perdagangan itu buruk.
Justru ayat 10 sebelumnya mempersilakan manusia mencari karunia Allah setelah salat. Yang dikritik adalah ketika daya tarik perdagangan membuat seseorang meninggalkan prioritas ibadah pada waktunya.
Di sinilah relevansi Surat Al-Jumuah terasa sangat kuat bagi kehidupan modern.
Relevansinya di zaman ketika semua orang sibuk
Hari ini bentuk perdagangan memang berubah.
Ada toko fisik, pasar, perusahaan, marketplace, media sosial, pekerjaan kantoran, hingga bisnis digital. Namun, persoalan manusianya tetap sama: kesibukan dapat membuat seseorang lupa kepada tujuan hidup.
Karena itu, pesan Surat Al-Jumuah tidak hanya relevan bagi pedagang di pasar.
Ia juga berbicara kepada pekerja, pengusaha, profesional, pemilik usaha, pekerja digital, dan siapa pun yang menjadikan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari kehidupan.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh bekerja.
Jawabannya jelas: boleh dan bahkan dianjurkan mencari karunia Allah dengan cara yang halal.
Pertanyaannya adalah: apakah pekerjaan kita masih berada di bawah kendali iman, atau justru iman yang mulai dikendalikan oleh pekerjaan?
Hadis tentang keutamaan hari Jumat
Selain ayat Al-Qur’an, Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan hari Jumat.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari tersebut Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.
Hadis tersebut memperlihatkan kedudukan istimewa hari Jumat dalam Islam.
Karena itu, Jumat bukan sekadar hari ketika umat Islam berkumpul untuk salat. Ia menjadi momentum untuk memperbarui hubungan manusia dengan Allah, memperkuat persaudaraan, mendengarkan nasihat, dan mengingat kembali tujuan hidup.
Tafsir Surat Al-Jumuah dan pelajaran untuk kehidupan
Jika dirangkum, Surat Al-Jumuah membawa beberapa pesan besar.
Pertama, ilmu harus melahirkan amal.
Kedua, ibadah memiliki prioritas yang tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.
Ketiga, Islam tidak memusuhi pekerjaan dan perdagangan.
Keempat, setelah menunaikan kewajiban, manusia dipersilakan kembali mencari rezeki dan beraktivitas.
Kelima, semua aktivitas dunia harus tetap berada dalam bingkai mengingat Allah.
Dengan demikian, Surat Al-Jumuah bukan ajaran untuk memilih antara masjid atau pekerjaan.
Pesannya justru lebih seimbang: ketika waktunya beribadah, dahulukan Allah; ketika kewajiban telah selesai, bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan carilah rezeki yang halal.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah seberapa sibuk kita bekerja, seberapa besar omzet yang kita dapatkan, atau seberapa banyak urusan yang berhasil kita selesaikan.
Ujian sebenarnya adalah apakah kita masih mampu berhenti ketika Allah memanggil.
Sebab, rezeki yang kita kejar tidak pernah lebih berharga daripada Tuhan yang memberikan rezeki itu sendiri.
Dan itulah salah satu pesan terdalam Surat Al-Jumuah: jangan sampai tangan kita sibuk mengejar dunia, sementara hati kita kehilangan arah menuju Allah. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar