Gong Perdamaian Ciamis, Ketika Sejarah Galuh Bicara ke Dunia
- account_circle redaktur
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di Situs Karangkamulyan Ciamis, Rabu (9/9/2026).(Dok. Pemkab Ciamis).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
AlbadarPost.com | HUMANIORA — Gong Perdamaian Ciamis kembali menjadi pusat perhatian dalam Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di Situs Budaya Bojong Galuh Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Rabu (9/9/2026).
Namun, peringatan tahun ini tidak hanya berbicara tentang sebuah gong berukuran raksasa.
Pemerintah Kabupaten Ciamis juga membawa sejarah Tatar Galuh ke dalam pesan tentang harmoni, persatuan, dan perdamaian. Tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian” menjadi benang merah kegiatan yang dihadiri warga, pelajar, seniman, budayawan, serta unsur Forkopimda.
Di tengah dunia yang masih menghadapi berbagai konflik dan ketegangan, pesan itu terdengar sederhana. Tetapi ketika disampaikan dari sebuah situs yang memiliki kaitan kuat dengan sejarah Galuh, maknanya menjadi berbeda.
Karangkamulyan bukan sekadar lokasi berdirinya Gong Perdamaian Dunia. Ia menjadi ruang pertemuan antara sejarah lokal dan pesan universal tentang perdamaian.
Mengapa Gong Perdamaian Ada di Karangkamulyan?
Pemilihan Karangkamulyan memiliki konteks sejarah yang kuat.
Kawasan ini merupakan situs yang berkaitan erat dengan sejarah Galuh. Sejumlah sumber lokal menempatkan Karangkamulyan sebagai bagian penting dari narasi sejarah Tatar Galuh. Karena itu, keberadaan Gong Perdamaian Dunia di kawasan tersebut mempertemukan dua unsur yang berbeda zaman: jejak sejarah lokal dan pesan perdamaian yang ingin disampaikan kepada masyarakat masa kini.
Gong tersebut sendiri memiliki ukuran sekitar 3,33 meter. Terbuat dari perpaduan perunggu dan plat besi, gong dibuat di Yogyakarta dan kemudian ditempatkan di kawasan Karangkamulyan. Dalam pemberitaan terbaru, gong itu disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.
Kehadirannya sejak awal memang tidak dimaksudkan sekadar menjadi benda monumental.
Pesannya adalah persaudaraan, toleransi, dan perdamaian.
Karena itu, ketika gong kembali ditabuh setiap Milangkala, yang sebenarnya sedang dihidupkan bukan hanya suara logamnya. Ada pesan yang ingin diingatkan kembali.
Sejarah Galuh dan Gagasan tentang Perdamaian
Dalam peringatan Milangkala ke-17, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya kembali mengangkat kisah Mupulung Rahi yang disebut berkaitan dengan sepuluh perjanjian damai Galuh pada 739 Masehi.
Paparan tersebut digunakan sebagai bagian dari narasi bahwa nilai persatuan, musyawarah, dan perdamaian memiliki akar dalam sejarah yang diwariskan di Tatar Galuh.
Penting untuk menempatkan kisah tersebut secara proporsional.
AlbadarPost tidak perlu menjadikannya sebagai kesimpulan tunggal mengenai historiografi Galuh. Yang lebih penting secara jurnalistik adalah mencatat bahwa narasi sejarah tersebut digunakan dalam kegiatan resmi untuk menjelaskan mengapa Karangkamulyan dipandang memiliki hubungan filosofis dengan pesan perdamaian.
Dengan begitu, sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Ia mendapatkan fungsi baru.
Nilai persatuan, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan kembali dibicarakan dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini.
Dari Tanah Galuh, Pesannya Bisa Menjangkau Dunia
Bupati Herdiat menegaskan bahwa Gong Perdamaian Dunia di Ciamis tidak semestinya berhenti sebagai simbol atau seremoni tahunan.
Harapannya, keberadaan gong tersebut dapat membuat Ciamis semakin dikenal dan menjadikan kawasan Galuh sebagai rumah nilai perdamaian.
Di sinilah tantangan sebenarnya muncul.
Sebuah simbol budaya akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya hidup ketika sebuah acara berlangsung.
Sebaliknya, simbol tersebut bisa memiliki daya hidup yang panjang apabila diterjemahkan menjadi pendidikan sejarah, kegiatan kebudayaan, ruang dialog, promosi toleransi, hingga pengembangan pariwisata berbasis sejarah.
Karangkamulyan memiliki modal untuk itu.
Ada situs sejarah. Ada seni tradisi. Ada komunitas budaya. Ada generasi muda yang bisa dilibatkan. Bahkan kegiatan Gong Perdamaian juga bersinggungan dengan potensi ekonomi lokal dan pariwisata.
Artinya, pesan perdamaian tidak harus berhenti sebagai slogan.
Ia bisa diterjemahkan menjadi aktivitas yang nyata.
Jangan Sampai Gong Hanya Berbunyi Setahun Sekali
Di sinilah Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia seharusnya dibaca lebih kritis.
Pertanyaannya bukan hanya berapa kali gong ditabuh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah suara gong menghilang.
Apakah anak-anak muda Ciamis semakin mengenal sejarah Galuh?
Apakah situs Karangkamulyan semakin dipahami sebagai ruang pendidikan budaya?
Apakah kegiatan semacam ini memberi manfaat kepada seniman, pelaku UMKM, dan masyarakat sekitar?
Dan yang paling penting, apakah nilai perdamaian benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar kemeriahan seremoni.
Sebab sebuah gong memang bisa menghasilkan suara dalam hitungan detik.
Tetapi membangun budaya damai membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Karangkamulyan dan Masa Depan Pesan Perdamaian
Milangkala ke-17 menunjukkan bahwa Gong Perdamaian Ciamis masih memiliki daya tarik sebagai simbol budaya.
Ratusan warga, pelajar, seniman, budayawan, dan unsur pemerintahan hadir dalam peringatan tersebut. Prosesi penabuhan gong oleh Bupati Ciamis bersama jajaran Forkopimda menjadi bagian utama kegiatan, disusul rangkaian budaya dan kesenian tradisional.
Namun, masa depan simbol tersebut tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan satu hari.
Ia ditentukan oleh bagaimana masyarakat merawat pesan yang dibawanya.
Jika sejarah Galuh hanya dikenang setiap 9 September, Karangkamulyan berisiko sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah peringatan.
Namun jika sejarah digunakan untuk memperkuat pendidikan budaya, toleransi, persatuan, dan penghormatan terhadap perbedaan, maka gong itu memiliki makna yang jauh lebih panjang.
Gong hanya berbunyi ketika dipukul. Tetapi perdamaian seharusnya tetap bergema ketika suara gong sudah berhenti.
Dari tanah Galuh, Ciamis tidak hanya menyimpan Gong Perdamaian Dunia.
Ciamis juga sedang berusaha mengingatkan bahwa sejarah lokal dapat menjadi pintu untuk membicarakan nilai yang berlaku universal: hidup berdampingan tanpa kehilangan identitas. (Red)
- Penulis: redaktur







Saat ini belum ada komentar